Views My Own

Aku Sadar Menderita Bipolar Gara-Gara Nonton Film Hollywood

'Welcome to Me' dibintangi Kristen Wiig adalah film yang membuat Alice— anak muda asal Jakarta penulis esai ini—sadar sering bersikap aneh di media sosial. Inilah secuil kisah hidupnya melawan bipolar.
Alice .
oleh Alice .
23 Agustus 2018, 10:30am
Ilustrasi oleh Dian Permatasari.

Film Kristen Wiig, tayang pada 2014 lalu, rasanya seperti dibuat khusus untukku. Aku sih merasanya begitu. Alasannya? Welcome To Me mirip sekali dengan kisah hidupku selama ini, sehingga meski film ini bukan biopik siapapun, aku harus menulis catatan khusus tentangnya.

Film dalam genre komedi suram ini mengisahkan Alice Klieg, perempuan penyandang gangguan bipolar, yang berupaya mengatasi kondisinya di usia menjelang 30 tahun. Alice, seorang penggemar fanatik Oprah Winfrey, memenangkan lotre US$86 juta.

Berkat nasib baik ini, dia membeli sebuah perusahaan televisi yang sudah mau bangkrut. Dia kemudian memutuskan mereka akan menayangkan peragaan kembali hidupnya, sepanjang hari, setiap hari, meski ratingnya anjlok. Dia menolak mengonsumsi obat-obatan psikiatris, dan memilih bereksperimen dengan beragam cara alternatif, terutama diet. Dari diet vegan sampai ketosis dan praktik penyembuhan lainnya. Alice juga mengklaim menggunakan "masturbasi sebagai sarana penenang mental sejak 1991."

Aku lahir pada 1991 dan baru memulai praktik Meditasi Orgasmik sejak 2014. Oke-oke, selain nama kami mirip, tak ada lagi persamaan yang kentara antara kami berdua. Aku tidak kaya raya atau sanggup membeli perusahaan televisi berkat menang lotere. Tapi, dalam esai ini, aku ingin menunjukkan benang merah lain yang membuat sosok Alice di film Welcome to Me mengingatkan pada perjalanan hidupku sendiri selama ini.

Berikut adalah kutipan yang paling kuingat dalam film yang trailernya bisa kalian lihat di atas:

"Pagi ini saya bangun dan melihat sehelai jembut di bantal saya membentuk tanda tanya. Ini membuat saya mempertanyakan banyak hal, seperti momen-momen dalam hidup saya saat saya seharusnya merasakan sesuatu tapi justru merasa hampa dan momen-momen lainnya saat saya seharusnya tidak merasakan apa-apa tapi justru merasakan segalanya sekaligus dan orang-orang di sekitar saya tidak siap dengan segala perasaan saya."

Kali pertama menonton film ini, aku sedang depresi parah dan gagal menangkap di mana letak kelucuannya. Bagi penonton Welcome to Me di kesempatan pertama, kamu mungkin akan bingung juga. Alice tampak seperti tokoh narsis yang… sinting. Meski rambut cokelatnya indah, tubuhnya ramping dan tinggi, dan punya banyak uang, dia sangat tidak puas sama hidupnya. Dia melawan saran dokternya, tindakan yang dia bahas secara terbuka saat dia menghadiri acara televisi soal pengobatan naturopathic.

"Saya menolak dinilai orang lain hanya karena gejala mental yang saya idap," ujarnya cepat, pada Gabe Ruskin, praktisi penyembuhan alami yang membawakan acara itu. Setelah itu dia bilang, "itu adalah momen paling menggembirakan dalam hidupnya." Tak lama kemudian Alice membeli perusahaan televisi yang menayangkan acara tadi.


Tonton wawancara VICE bersama Eva Celia yang terpaksa kehilangan teman akibat berusaha konsisten melakoni gaya hidup sehat:


Ceritanya semakin aneh saja mendekati klimaks. Alice menangis, tertawa, berteriak-teriak, dan menjadi histeris di acaranya sendiri, di atas komidi putar yang mewakili setiap tahapan dalam hidupnya. Pertama-tama dia mengikuti program diet vegan, lalu diet ketosis, terkadang mengingat kembali masa-masa sekolah dulu, saat kawannya Joanna bilang ke semua orang bahwa dia sinting, dan bahwa "hal tersebut masih bikin sakit hati."

Tampaknya dia tidak akan pernah berhenti berputar-putar, dari episode satu ke yang selanjutnya, dan membuat semua orang ikutan pusing. Keputusannya menjalankan acara ini tak hanya menyakiti dirinya sendiri, tapi juga hubungannya dengan sahabatnya, Gina (diperankan aktris Linda Cardellini), yang mendukungnya saat dia pertama kali pindah ke New York City dan berjuang mencari nafkah.

Seiring dengan tindakan-tindakan Alice yang mengalienasi orang-orang di sekitarnya, dengan eksibisionisme emosinya, dia punya ide-ide yang semakin aneh untuk acaranya. Kristen Wiig memerankan Alice dengan amat baik, meski paranoia yang dia tampilkan sedikit terlalu palsu untuk seleraku. Selain itu, semuanya tepat sasaran. Saat dia selesai memasak sepanci sup panas dan menumpahkannya ke dirinya sendiri, dia menjadi marah dan manik. Dia berteriak-teriak, "Siapa yang melakukan ini pada saya? Siapa? Siapa?!!!"

Dia dirawat di rumah sakit setelahnya, dan sahabatnya datang untuk menjenguk. Alice, yang merasa jauh lebih baik, akhirnya mempertimbangkan untuk menghentikan acaranya. Seperti biasa, dia melakukannya dengan dramatis. Dia mengenakan gaun dan tiara berkilau saat “berlatih pidato” di hadapan keluarganya. Alice melakukannya sambil menaiki perahu angsanya. Setelah itu, dia menyatakan perasaannya kepada Gabe Ruskin (kekasihnya yang merupakan bintang iklan vitamin) saat mereka naik komidi putar. Pada segmen selanjutnya, dia tampak menghadiahi US$7 juta ke sahabatnya Gina.

Di penghujung film, dia mengundang semua orang untuk naik ke atas panggung sambil memakai tag nama "Alice." Itulah yang dia inginkan untuk menutup acaranya.

Aku juga pernah mengalami gangguan bipolar sejak usia awal 20'an sampai sekarang. Aku pertama kali didiagnosis ketika masih 22 tahun. Hal ini benar-benar mencampur aduk perasaanku. Aku sering kambuh karena tidak teratur mengonsumsi obat (karena timbul efek samping). Selama masa ini, aku sering menggunakan Facebook layaknya duniaku sendiri. Aku kerap memposting berita tentang kehidupan sehari-hariku.

Aku bahkan mengunggah postingan-postingan yang terkesan "aneh", histeris dan berhalusinasi bagi teman-temanku di media sosial. Akibatnya, banyak dari mereka berhenti berteman denganku. Aku juga mulai sering dirawat klinis. Aku merasa tertampar setelah menonton Welcome to Me.

Sejak minum obat secara teratur, aku baru sadar betapa aneh sikapku selama ini. Aku memang agak aneh dari dulu, tapi aku jadi sulit sadar diri sejak kambuh. Di zaman serba narsisistik dan media sosial seperti sekarang ini, aku tidak bisa membedakan kapan postingan Facebook-ku sudah berlebihan. Generasi millennial sangat narsis dan terobsesi untuk diperhatikan dan diakui. Kita ingin jadi yang paling beda dan keren. Kita akan menceritakan kehidupan sehari-hari di media sosial.

Akan tetapi, kaum millennial juga menjadi orang tercepat dalam membagi informasi dan berhubungan dengan orang lain. Hal ini membuat kita sadar kalau banyak orang yang mengalami hal sama. Mengapa universal? Mengapa kita ingin jadi yang paling beda? Bagaimana kita bisa menyampaikan pendapat dan membiarkan orang lain mengutarakan pandangannya tanpa menyakiti perasaan orang lain?

Terlepas dari sifat narsis Alice, film Welcome To Me ini menyadarkanku bahwa dia sebenarnya membutuhkan bantuan. Sosok Alice menyimpan kepedihan mendalam. Selama Alice menjalani proses katarsis, orang-orang di sekitarnya pun mengalami serupa. Akhir filmnya membuat kita bertanya-tanya: Apakah Alice benar-benar menghentikan _reality show_-nya? Mengapa aku masih menulis ini? Kenapa filmnya penuh orang berkulit putih?

Sekarang aku memahami gangguan bipolar harus ditangani secara bertahap, dan tidak ada cara cepat dan mudah untuk menyembuhkannya. Setidaknya, sebagai orang yang sama-sama bernama Alice, aku merasa sudah berusaha maksimal untuk menjadi lebih baik. Aku berjuang sekuat mungkin agar bipolar yang kuidap tidak menyakiti orang lain. Berkat Welcome to Me aku segera memutuskan mencari bantuan ahli. Aku berharap kondisiku mentalku jadi lebih stabil di masa mendatang—dan aku akan selalu mengenang satu film yang menyadarkanku betapa berbahayanya menolak meminta bantuan.