Iklan
Pendidikan Untuk Semua?

Bisnis Bimbel Terus Subur, Tanda Ada yang Salah dari Sistem Pendidikan Kita

Orang tua rela masih saja rela membayar lebih untuk memasukkan anaknya ke bimbel supaya jadi anak "pintar". Kepercayaan terhadap sekolah masih juga belum membaik.

oleh Yvette Tanamal
14 Agustus 2018, 10:48am

Ilustrasi bisnis bimbel oleh Farraz Tandjoeng.

Di luar negeri, orang mengandalkan makanan, artis sebagai guru les, atau bahkan ritual agar lulus ujian nasional (UN) dengan nilai bagus. Beda lagi dengan Indonesia. Kita tidak percaya takhayul seperti itu. Pelajar lebih pilih ikut bimbingan belajar (bimbel) sepulang sekolah.

Bimbel adalah kelas pelajaran tambahan yang diadakan di luar jam sekolah. Les ini memang bisa diikuti siswa dari berbagai jenjang, tapi biasanya bimbel akan laris manis menjelang UN. Kursusnya diadakan beberapa kali seminggu, dan biasanya ada sekitar 20 murid untuk setiap kelas. Di sini, tutor akan mengajarkan strategi melumpuhkan ujian dengan mudah. Mirip seperti Kumon, tapi jauh lebih intens belajarnya.

Bimbel pertama kali muncul di Indonesia pada 1970-an. Saat itu, kegiatan belajar tambahan ini dikhususkan bagi siswa-siswi SMA yang ingin memasuki perguruan tinggi negeri. Dewasa ini, kamu bisa ikut bimbel untuk segala macam alasan. Ingin masuk akademi militer (AKMIL)? Daftar di kursus persiapan tes potensi akademik Akmil saja. Mau kuliah di universitas negeri? Bimbel ini menjamin kamu sukses masuk universitas pilihan, asalkan kamu mau bayar Rp28.500.000—jauh lebih mahal dari biaya bimbel lainnya.

Tidak ada waktu pergi ke tempat les? Tenang, kamu juga bisa kursus daring dengan biaya yang cukup terjangkau, yaitu Rp250.000 per bulan.

Saking banyaknya bimbel di Indonesia membuat sebagian orang meragukan kualitasnya. Orang tua mengeluh jam belajarnya yang terlalu padat, sedangkan Menteri Pendidikan (Mendikbud) telah menyarankan kita untuk berhati-hati dengan lembaga bimbel. Kita tidak boleh asal memercayai apa yang ada di brosur dan iklannya.

Namun, kita tak bisa membantah kalau bimbel memang sangat membantu—paling tidak bagi pelajar. Pada 2012, Kompas pernah menyurvei 770 responden soal peran les mata pelajaran dalam keberhasilan ujiannya. Hampir 88 persen murid beranggapan bimbel sangat membantu mereka mendapatkan nilai bagus.

Yang jadi pertanyaan: mengapa bimbel lebih mampu mendidik murid ketimbang sekolah formal? Apakah popularitas les mata pelajaran menunjukkan betapa bobroknya sistem pendidikan di Indonesia?

Kebanyakan siswa tingkat akhir yang memilih les tambahan mengatakan bahwa mereka jauh lebih siap menghadapi UN setelah ikut bimbel. Dalam survei Kompas, hanya 47,9 persen murid yang menilai “puas” dengan ajaran gurunya. Mengapa sangat rendah? Mereka beranggapan bahwa gurunya tidak pernah mengajarkan materi yang akan diujikan.

“Suasana belajar di tempat les lebih enak, gurunya menerangkan mata pelajaran dengan jelas. Kalau aku belum mengerti bisa bertanya sampai benar-benar paham,” kata Yohana, siswi SMA, kepada Kompas. ”[Guru] kebanyakan hanya [mengajarkan] teori, membahas soalnya jarang.”

Sepertinya ada kesalahpahaman di sini. Guru memang tidak mengajarkan materi ujian, tetapi kita tidak bisa menjadikan UN sebagai tolok ukur kecerdasan atau kemampuan siswa. Ujian Nasional tidak berfokus pada soal-soal HOTS (High-Order Thinking Skills), yang mewajibkan siswa untuk berpikir kritis dan dengan nalar tinggi.

Selama ini, UN menguji kemampuan mengingat siswa. Mereka terbiasa menghafal contoh-contoh soal sebelum ujian dimulai. Dari sinilah lembaga bimbel membantu mereka untuk lebih mudah menghafal bentuk-bentuk soalnya. Akan tetapi, kita tidak bisa menjamin kemampuan menghafal ini di masa depan. (Perbedaan metode mengajar di Timur dan Barat sudah lama menjadi perdebatan, tetapi pentingnya berpikir kritis yang digembar-gemborkan oleh sistem pendidikan Barat terlalu eurosentris.)

Sistem pendidikan di Indonesia sudah waktunya untuk diubah. Pada 2017, seperempat (25 persen) dari 3,5 juta guru di Indonesia belum memenuhi syarat kualifikasi akademik. 52% guru bahkan belum bersertifikat.

Andai kita mampu menemukan calon guru yang memenuhi syarat, maka mereka bisa menggantikan guru-guru yang tidak layak mengajar ini. Malangnya, Mendikbud mengungkapkan bahwa Indonesia kekurangan 756.000 guru. Akibatnya, pihak sekolah terpaksa harus menerima guru yang tidak berkualitas melalui rekrutmen tidak formal.

Pelajar pun beralih ke bimbel karena tutornya lebih kompeten dari guru di sekolah. Sayangnya, tidak semua siswa sanggup daftar bimbel karena biayanya yang mahal, kira-kira Rp9-12 juta per satu semester. Mereka harus berjuang sendiri agar tidak ketinggalan dari teman-temannya yang ikut les tambahan.

Untung saja ada banyak situs web yang memberikan tips dan trik lulus “UN Tanpa Bimbel” secara cuma-cuma. Mereka memberi saran yang bagus untuk belajar sendiri, termasuk “buat target (yang tidak muluk-muluk)” karena tidak bisa menjamin dapat NEM tinggi. Kenapa? Karena selama pemerintah tidak memperbaiki sistem pendidikan kita, hanya bimbel yang mampu menutupi kebobrokannya.