Sebaiknya Kita Mengakhiri Tradisi Acara Rilis Tahunan Smartphone yang Membosankan

Samsung mengumumkan perilisan Galaxy Note 9 akhir pekan lalu. Ponsel zaman sekarang antara satu dari yang lainnya tidak jauh beda. Terus ngapain di-launching gede-gedean?

|
Ags 13 2018, 12:00siang

Di sebuah acara mewah di New York pada hari Kamis (8/8) pekan lalu, Samsung meluncurkan ponsel terbarunya: Galaxy Note 9. Tidak ada yang spesial. Ponsel ini berbentuk persegi panjang, memiliki layar, dan memiliki beberapa kamera. Meski ponsel ini diharapkan menjadi tren berikutnya, saya justru berpikir jangan-jangan industri smartphone sudah kehabisan ide.

Ponsel sekarang sudah membosankan: satu-satunya topik yang diperdebatkan dalam bahasan soal Galaxy Note 9 adalah tidak adanya ikon ikonik yang ditemukan pada iPhone X, dan adanya jack headphone. Desain cekukan layar telah dikloning oleh hampir semua produsen ponsel di luar sana, dan jack headphone adalah komoditas yang sayangnya sudah ditinggalkan. Namun, fakta bahwa kita mempermasalahkan hal-hal minor macam ini menunjukkan betapa mentoknya industri ini sesungguhnya.

Jelas, tidak ada yang benar-benar baru atau menarik lagi. Ya, Note adalah ponsel besar, dan memiliki baterai yang lebih besar juga. Warnanya berbeda, bekerja lebih cepat dari edisi tahun lalu, dan memiliki pengisian baterai nirkabel. Semua yang kita lihat di sini adalah dari daftar fitur yang juga dimiliki oleh produsen ponsel pintar lainnya, dan kurangnya diferensiasi menjadi semakin jelas setiap tahun. Ini adalah titik puncak teknologi, dan ini adalah acara yang membosankan.

Kurang lebihnya, itulah yang dikatakan analis pasar global GlobalData dalam email yang dikirim ke wartawan tentang acara Samsung.

“Perbaikan Note 9 merupakan pengulangan, dan saat konsumen memegang ponsel mereka lebih lama, Samsung kesulitan menjual ponsel mahal yang tidak terlalu berbeda dari pendahulunya,” kata GlobalData dalam sebuah pernyataan.

Tapi, ini bukan permasalahan Samsung semata: Setiap pabrik Apple hingga Xiaomi menghadapi kesulitan yang sama. Siklus rilis iPhone yang dilatih Apple agar dunia terbiasa, dengan rilis tahunan yang heboh dan keynote juta dolar, jelas akan berakhir karena konsumen menggunakan ponsel mereka lebih lama setiap tahunnya. Karena perbedaan antara ponsel tahun lalu dan tahun ini telah menjadi semakin tipis, tak banyak alasan untuk menggantinya, menjadikan keynote itu justru menyebalkan saat ditonton.

Ketika smartphone mendorong batas-batas dan mengulangi perbaikan dengan kecepatan yang sangat tinggi selama dekade terakhir, mereka dengan cepat mengalami keterbatasan yang diatur hukum fisika: Sebuah ponsel mungkin bisa menjadi sangat tipis atau ringan, tapi peningkatan kecepatan tahun demi tahun dan perbaikan baterai menjadi kurang mengesankan. Tersisa sedikit saja ruang untuk perbaikan, penambahan megapiksel pada kamera dan perampingan ukuran ponsel, dan kemudian orang-orang tidak akan peduli lagi.

Cekukan (notch) iPhone X mungkin merupakan perubahan perangkat keras terbesar yang pernah kita temui dalam beberapa tahun terakhir, tetapi kita jelas menganggap inovasi seperti Face ID tidak signifikan dan terlalu dipaksakan, karena ia mirip dengan teknologi yang sudah ada, hanya saja dikemas ulang dengan cara baru.

Faktanya adalah, banyak perubahan tahunan ini hanya dirancang untuk mencoba membuat kita ganti ponsel baru. Apple tampaknya telah berhasil sejauh ini dengan iPhone X, meyakinkan konsumen untuk membeli ponsel yang lebih mahal untuk mendapatkan notch dan ID pengenal wajah, dan akhirnya meningkatkan pendapatan per unit untuk mencegah industri yang menyusut untuk saat ini.

Samsung juga tidak seberuntung itu, dan telah menggunakan trik industri video game untuk mencoba dan menghidupkan kembali penjualannya yang sedang menurun dengan perangkat lunak eksklusif. Galaxy Note 9, misalnya, adalah salah satu ponsel pertama di dunia yang mendapatkan Fortnite, berkat eksklusivitas Android hasil kerjasama dengan pembuatnya, Epic Games.

Samsung bekerja sama dengan Spotify juga, menggabungkan layanan streaming musik dalam pengaturan setiap perangkat baru untuk alasan yang sama. Ada pembicara cerdas juga, dengan asisten virtual Samsung sendiri, dan ponsel juga dapat digunakan sebagai komputer terbatas. Ini adalah bagian luar dari buku pedoman Apple untuk membangun ekosistem sumber pendapatan alternatif. Saat ini, hal-hal tersebut tidak bermakna, tetapi menambahkan pembicara cerdas dan layanan terkait lainnya dapat membantu menghidupkan kembali penjualan perangkat keras dalam jangka pendek, seperti yang dilakukan oleh HomePod dan Apple Music di ekosistem iOS.

Karena penjualan ponsel cerdas mulai mogok dan pembuat ponsel harus mencari tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, kita berada dalam periode ketidakpastian: apakah dekade pertumbuhan berkelanjutan yang belum pernah terjadi akan kembali lagi? Analis telah mengumumkan peringatan selama kira-kira setahun belakangan, mengatakan bahwa pengiriman smartphone mulai melambat, tetapi dampaknya terasa pada penundaan waktu sebagai inovasi kecil terus mengalir untuk sementara. Pada Q4 tahun 2017, analis melihat penurunan global pertama dalam pengiriman smartphone, yang belum membaik, dengan laporan penjualan Eropa yang terus melambat dan bahkan produsen chip sendiri melaporkan adanya pergeseran.

Kita telah melihat contoh konsekuensi dari peralihan industri secara langsung: penurunan bertahap HTC. Beberapa tahun yang lalu perusahaan ini menjual jutaan ponsel setiap caturwulan, dan secara konsisten menjadi produsen handset teratas, tetapi hari ini, pada dasarnya mereka tak lagi ada, dengan banyak divisi handset dijual ke Google pada tahun 2017.

Industri PC telah menghadapi masalah ini. Ketika memuncak dan mulai menurun, kita melihat lusinan produsen perangkat dari Compaq ke Sony menyerah dari tahun ke tahun, karena porsi pasar mereka mulai menyusut. Saya percaya bahwa kita melihat permulaan dari ponsel-ponsel yang bertahan lebih lama dari sebelumnya, dan pada akhirnya menjadi membosankan bagi konsumen. Ponsel semakin dekat dengan titik commodisation.

Acara Samsung hari ini memperjelas bahwa smartphone telah melampaui titik puncak itu, dan kita berada di wilayah baru sekarang: pembuat smartphone kehabisan ide-ide baru. Kini ponsel hanyalah persegi panjang yang indah, rumit, dan berteknologi canggih.

More VICE
Vice Channels