Iklan
Game Terlarang

'Mortal Kombat 11' Batal Edar di Indonesia, Gara-Gara Sadis Apa Karena Logo Palu Arit Sih?

Apapun alasannya, semua itu lebay dan gamer di Tanah Air kecewa berat.

oleh Adi Renaldi
23 April 2019, 8:43am

Kolase foto oleh VICE Staff. Sumber foto Scorpion, salah satu karakter ikonik Mortal Kombat via Warner Bros.

Apa yang lebih mengerikan dari sebuah game sadis yang dianggap bisa merusak ahlak anak muda berbagai negara? Tentu saja logo palu arit. Setidaknya itulah yang dipercaya oleh orang-orang parno di Indonesia yang terus mempertahankan paranoia terhadap simbol komunisme tersebut.

NetherRealm Studios dan Warner Bros Interactive Entertainment, duet perusahaan di balik game tarung Mortal Kombat 11, tiba-tiba saja membatalkan distribusi resmi game tersebut khusus untuk pasar Indonesia dan Ukraina. Mortal Kombat 11 seharusnya dijadwalkan meluncur ke pasaran global pada 23 April.

Lewat keterangan tertulis, Warner Bros mengaku membatalkan perilisan di Ukraina dan Indonesia demi menghormati hukum di setiap negara. Padahal sejak awal kemunculannya, seri Mortal Kombat tak pernah kena masalah di Indonesia sejak era Sega Genesis awal 90'an dulu.

"Mortal Kombat 11 tidak akan dirilis di Indonesia untuk memastikan bahwa kami mematuhi hukum di negara tersebut. Keputusan tersebut akan kami kaji lagi ke depannya," demikian cuit pihak Warner Bros lewat Twitter. Cuitan tersebut diunggah oleh Warner Bros saat menanggapi pertanyaan salah seorang gamer asal Indonesia yang gagal menemukan game Mortal Kombat 11 di Playstation Store.

Spekulasi segera beredar di Internet, salah satu yang paling banyak dipercaya adalah karena Mortal Kombat 11 punya satu karakter bernama Skarlet. Dia memakai kostum Soviet era Perang Dingin dengan logo palu arit. Jika dilihat dari teaser-nya, kostum Soviet Skarlet cuma tersedia di platform PS4 edisi premium. Itupun cuma khusus beredar di Rusia.

Kostum berwarna merah tersebut hanya berupa seragam militer perempuan dilengkapi topi militer dan masker. Logo palu arit tersebut konon terletak di topi yang dikenakan Skarlet, kendati tak terlalu jelas menunjukkan lambang komunisme. Pada game edisi standar, Skarlet hanya mengenakan kostum mirip ninja. Makanya, banyak gamer lokal meluapkan uneg-unegnya.

Kita harus ingat, Indonesia adalah negara yang sangat paranoid dengan berbagai simbol yang dekat dengan komunisme. Larangan mengajarkan atau membicarakan terbuka seputar komunisme dan sosialisme belum dicabut sampai sekarang (walau kata pakar tata negara Refly Harun sebetulnya sangat mungkin beleid tersebut dicabut atau direvisi). Tak heran bila menteri pertahanan kita sempat memberi wejangan penting, bahwa orang yang gemar rapat di warung bisa dicurigai komunis.

Personel polisi dan tentara sering menangkap orang yang kedapatan mengenakan atribut palu arit di Tanah Air. Apa dasarnya? Mantan Kapolri Jenderal Badrodin Haiti merujuk UU nomor 27 tahun 1999, sebagai perubahan dari Pasal 107 KUHP, berkaitan dengan kejahatan terhadap keamanan negara. Simbol palu arit, dalam hukum pidana kita, bisa mengganggu keamanan. Barangkali karena membuat orang yang melihatnya jadi auto komunis.

Setidaknya Badrodin pernah memberi ruang tafsir sedikit agak luas soal pemakaian simbol palu arit tersebut. Dia menilai, polisi juga tidak akan langsung menangkap siapapun yang menyimpan simbolnya. "Sekarang [tergantung] tujuannya apa. Kalau, itu kan tadi ada di tempat umum. Kalau dipublikasikan di media kemudian ada unsur supaya melawan hukum, artinya tidak ada izinnya kan berarti melawan hukum, bisa saja," kata Badrodin.

Oke. Katakanlah Warner Bros bukannya takut melanggar hukum soal palu arit, alasan lainnya apa dong? Ada netizen yang menduga bahwa game tersebut batal beredar lantaran kelewat sadis.

Lalu kapan sih Mortal Kombat tidak menjual kesadisan? Sejak pertama kali dirilis 1992 lewat mesin arcade dan kemudian konsol game Sega dan Super Nintendo, kebrutalan adalah nilai jual paling utama dari game ini. Game tersebut terkenal lantaran gerakan khusus di akhir laga berupa fitur Fatality yang membunuh lawannya yang kalah dengan adegan sadis.

Adit Hanuraga adalah salah satu penggemar Mortal Kombat dari Indonesia yang kecewa mendengar kabar pembatalan distribusi dari Warner Bros. Padahal sejak jauh-jauh hari dia melakukan pre-order Mortal Kombat 11 lewat kanal Steam. Dia lantas mendapat pengembalian uang. Padahal dia sudah menyisihkan gajinya sejak lima bulan yang lalu demi game yang harganya di kisaran $59 itu.

Seperti generasi milenial yang besar di era 1990-an pada umumnya, Adit akrab dengan seri Mortal Kombat sejak SD. Dia punya konsol Sega dari bapaknya waktu itu. Hobi main Mortal Kombat terus bertahan hingga sekarang. Terakhir dia main Mortal Kombat X yang rilis 2015.

"Kalau alasannya sadis, kenapa dulu-dulu enggak ada masalah,” keluh Adit saat dihubungi VICE. "Dan pemerintah Indonesia kayaknya fine-fine aja."

Tapi, memang sih, sesudah dirilis ke konsol, Mortal Kombat menuai kepanikan moral para orang tua di Amerika Serikat. Sampai-sampai Sega harus menyensor game dengan menghapus gerakan Fatality dan grafik muncratan darah. Para gamer harus mengaktifkan cheat di awal game buat menghilangkan sensor ini. Gara-gara Mortal Kombat pula muncul badan rating khusus game Entertainment Software Rating Board (ESRB) yang bertugas memberi rating usia di setiap game.

Lantas bagaimana dengan Indonesia waktu itu? Adem ayem saja sepertinya, setidaknya sebelum rame-rame Mortal Kombat 11 ini.

Penggemar Mortal Kombat Indonesia lainnya, Rivan Anggara, menyayangkan keputusan sepihak Warner Bros. Apalagi pembatalan itu tanpa penjelasan lengkap. Dia mendesak developer memberi keterangan yang jelas, sehingga modifikasi bisa dilakukan. Jika memang permasalahannya ada di logo palu arit, seharusnya penerbit dan developer bisa memodifikasinya sesuai ketentuan masing-masing negara.

"Saya yakin di sini penggemar Mortal Kombat 11 banyak banget, jadi mendingan hapus logo komunisnya, kalau memang itu masalahnya," ungkap Rivan pada VICE.

Nanda Putra, yang juga menggemari Mortal Kombat, akhirnya membuat petisi bertajuk "Bring back Mortal Kombat 11 to Indonesia!" di platform Change.org. Sampai artikel ini dilansir, ada 96 orang yang menandatangi petisi itu.

Warner Bros belum menutup kemungkinan mencabut pembatalan tersebut. Tapi jangan senang dulu. Masih ada Majelis Ulama Indonesia (MUI) nih. Para penggemar Mortal Kombat berdoa saja, semoga MUI tidak tertarik mengkaji fatwa haram seperti yang sempat akan diterapkan di PUBG.

Semoga berbagai ancaman hantu komunis, fatwa haram, serta ortu yang panik secara moral berhasil dilewati, sehingga Mortal Kombat 11 bakal punya kesempatan menyapa penggemarnya di rumah dan rental Playstation Tanah Air.

Tagged:
News
indonesia
warner bros
VIDEO GAME
The VICE Guide to Right Now
sadisme
Kekerasan
Moralitas
Fobia Komunis
Hantu Komunisme
Logo Palu Arit
Pembatalan Edar Mortal Kombat