Ricuh Pemilu 2019

Jihad Sunyi Petugas Paramedis di Balik Panggung Bentrok 22 Mei

VICE mengikuti kerja dua petugas paramedis RSUD Tarakan Jakarta Pusat, yang merawat massa penolak hasil pilpres bergelimpangan akibat ricuh di depan Bawaslu.

oleh Adi Renaldi ; foto oleh Firman Dicho Rivan
23 Mei 2019, 10:30am

Tim paramedis RSUD Tarakan menolong korban bentrokan di depan Gedung Bawaslu pada 22 Mei. Semua foto oleh Firman Dicho Rivan.

Ambulans warna hijau belang hitam itu diam terparkir di belakang pertokoan Sarinah, tepatnya samping Gereja Santa Theresia, Jakarta Pusat. Mobil ini berdiam di sana nyaris satu jam, sebelum saya menghampirinya bersama lima orang demonstran yang menggotong remaja tanggung dengan kepala berlumuran darah. Usia korban baru awal 20-an.

Selain batu yang menghajar kepalanya, pemuda mengenakan kaos putih dan celana jins hitam itu kena gas air mata dan mengalami sesak napas. Wajahnya meringis kesakitan, dia tidak sanggup berkata-kata, sekalipun kawan-kawannya berusaha mengajak bicara. Di kejauhan, suara petasan dan teriakan—akibat bentrok antara massa dengan polisi di depan Gedung Badan Pengawas Pemilu—masih terdengar sekalipun jarum jam sudah merangkak di atas pukul 22.00 WIB.

Melihat kedatangan kami, sosok di balik kemudi sigap membuka pintu belakang ambulans, lantas menyalakan mesin. Tak sampai satu menit, saya, Dheri, bersama satu petugas paramedis lain di belakang, menyusuri jalanan ibu kota demi menyelamatkan nyawa si bocah.

Muhammad Dheri adalah sang pengemudi ambulans, sekaligus paramedis yang menginjak pedal gas dengan kecepatan konstan 60 kilometer per jam malam itu dengan satu tujuan: Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan, Jakarta Pusat.

Sirene ambulans yang dia nyalakan meraung memecah senyapnya jalanan Jakarta Pusat yang dihindari banyak orang akibat ricuh aksi 22 Mei. Dheri, petugas paramedis yang berusia kepala tiga, berusaha tenang. Matanya memandang semua sudut jalan, memastikan setiap belokan aman dilintasi. Walau saya menemaninya di samping kemudi, Dheri tidak cukup berminat basa-basi. Mobil mendapat akses dari polisi melaju di ruas jalan Sabang, lalu mulus berputar ke arah Cideng. Kurang dari 10 menit, Dheri sudah sampai di bibir pintu Unit Gawat Darurat RSUD Tarakan.

Setelah pemuda yang luka itu diangkut petugas UGD, satu tugasnya tuntas. Baru dia jadi lebih rileks dan mau membuka diri. "Hari ini saya sudah dua kali bolak-balik Bawaslu-RSUD Tarakan," kata Dheri.

1558606598677-DSC08499
Sesama demonstran menolong rekannya yang luka atau terkena gas air mata di kawasan Sarinah.

Sebagai petugas RSUD, ricuh yang bertahan lebih dari 24 jam membuatnya tak sempat pulang. Tugasnya fleksibel. Kadang dia menjadi paramedis yang menangani korban, tapi harus siap pula jadi pengemudi ambulans seperti saat saya temui.

"Saya sudah diminta stand by seharian," ujarnya. Setelah mengantar si pemuda tadi, apakah tugas hari ini sudah selesai?

"Saya masih harus berjaga, belum ada perintah untuk pulang."

Saya kembali menemui anak istri di rumah setelah jarum jam melewati angka 12 malam. Dheri tidak seberuntung itu. Dia kembali membawa ambulans ke Sarinah. Kalender memasuki 23 Mei 2019. Sebagian peserta aksi bersumpah untuk terus mengepung Bawaslu. Mereka gigih menolak hasil pemilu.

Telepon di meja kerja Amdan tak henti-hentinya berdering sejak 22 Mei dini hari. Dia mendapat tugas jaga instalasi gawat darurat RSUD Tarakan. Lingkar hitam sudah terbentuk di kantung mata Amdan. Telepon cepat-cepat dia angkat.

Suara di ujung sana berasal dari petugas ambulans kawasan Slipi Petamburan. Ada remaja tergolek pingsan di aspal karena luka benda tumpul. Si petugas lapangan minta konfirmasi ke Amdan, apakah korban dapat segera dibawa ke rumah sakit. Amdan menginformasikan ke tenaga medis yang bersiaga, lantas mempersilakan rekannya membawa korban ke UGD.

1558606690648-DSC08477
Ambulans Dinkes DKI bersiaga di beberapa titik, salah satunya samping Gereja Santa Theresia Jakarta Pusat.

Beberapa saat kemudian ambulans tiba. Seorang perawat menyambut pasien yang tak sadarkan diri dan tergopoh membawanya masuk bangsal. Kaos hitamnya berlumuran darah. Kepalanya terluka. Saat itu RSUD Tarakan baru saja mengoperasi 13 pasien akibat ricuh 22 Mei.

Rata-rata korban menderita patah tulang, kena gas air mata, atau luka akibat tembakan peluru karet. Dua orang di RSUD Tarakan dinyatakan meninggal, tapi tak diketahui penyebabnya oleh pihak rumah sakit karena otopsi urung dilakukan.

"Keluarganya korban enggak memberi izin [otopsi]," kata juru bicara RSUD Tarakan, dr Reggy S. Sobari. Dua korban yang meregang nyawa di Tarakan masih remaja. Adam Nooryan dan Widyanto Rizki Ramadan sama-sama masih 17 tahun. "Satu orang datang ke [Tarakan] sudah dalam keadaan meninggal, tapi yang satu sempat dirawat," imbuh Reggy.

Merujuk keterangan dari pemerintah, total ada enam orang meninggal akibat rangkaian kekerasan selama 22 Mei. Lebih dari 200 lainnya luka-luka. Kawasan paling panas adalah ruas Thamrin, Slipi, Tanah Abang, dan Petamburan.

Rabu malam, Amdan dan satu rekannya diminta bersiaga di kawasan Tomang, Jakarta Barat. Kawasan Slipi, mulai dari Kemanggisan hingga Slipi Jaya, masih mencekam. Sekumpulan massa menyerang aparat Brimob dan TNI dengan petasan dan batu. Lokasi parkir ambulansnya di jalan layang Tomang relatif aman dari amukan massa. Semalaman itu dia tak membawa korban di ambulansnya. Lewat dini hari, Amdan memutuskan kembali berjaga di RSUD Tarakan.

"Tidak semua korban dibawa pakai ambulans," kata Amdan. "Ada juga yang dibawa dengan sepeda motor. Ketika semakin larut saya memutuskan balik ke rumah sakit."

Dinkes DKI Jakarta menyiapkan 337 petugas medis di 25 titik strategis yang berpotensi ricuh gara-gara insiden depan Gedung Bawaslu. Sebanyak 32 RSUD turut disiagakan menampung korban, menurut keterangan kepala Dinkes DKI Jakarta Widyastuti. Upaya paramedis menolong lebih banyak korban luka terkendala dengan minimnya ambulans yang beroperasi. Dinkes DKI Jakarta cuma punya 48 ambulans buat melayani seluruh warga Jakarta. Saat kerusuhan terjadi, banyak ambulans milik partai politik yang bersiaga di sekitar titik kericuhan.

Sehari-hari Adan bekerja untuk Dinkes DKI Jakarta. Mengingat situasi Jakarta ditetapkan Siaga I oleh kepolisian, sejak awal pekan ini dia sudah ditugaskan ke RSUD Tarakan mengatur alur kerja petugas lapangan dan tenaga medis.

1558609177979-DSC08169
Daftar korban bentrokan 22 Mei yang meninggal ataupun luka dirawat RSUD Tarakan.

Amdan berusia 40-an. Dia mengenakan kemeja biru kotak-kotak saat menyambut saya di gerbang RSUD Tarakan. Sudah 15 tahun dia berprofesi sebagai tenaga medis. Sepanjang bekerja, baru pada 22 Mei dia pertama kalinya dia menghadapi situasi chaos. Dia tidak di garis depan ketika rusuh 1998. Sampai Kamis (23/5) pagi, total korban akibat ricuh penolakan pilpres yang dirujuk ke RSUD Tarakan berjumlah 168 orang.

Kadang Amdan merasa cemas dan takut. "Saat demonstrasi anti-pemerintahan kayak gini, lebih patut kalau kita menunggu situasi tenang, baru menyelamatkan korban ke tempat aman. Karena plat nomor ambulans milik pemerintah, takutnya massa menjadikan kami sasaran."

Amdan bersyukur tak terlalu kewalahan saat menolong korban. RSUD Tarakan mendapat bantuan tenaga medis dari beberapa rumah sakit lain. Pihak rumah sakit bahkan menolak rujukan pasien lain, demi memprioritaskan korban kerusuhan. Hari itu adalah hari yang sibuk buat semua staff rumah sakit. Amdan mengatakan semua masih bisa ditangani dengan lancar, meski ia tetap tak bisa menyembunyikan wajah kelelahannya.

"Saya baru tidur jam 5 pagi, bangun setengah jam kemudian," kata Amdan.

1558606789634-DSC08151
Salah satu ranjang ambulans dijemur di halaman samping RSUD Tarakan bernoda darah korban bentrokan 22 Mei.

Saat ini kericuhan sudah berakhir di Jakarta. Jalanan yang tempo hari diblokade telah bebas dari kawat berduri. Prabowo Subianto, calon presiden yang kalah dari Joko Widodo untuk kali kedua dalam kontestasi pilpres serta berulang kali menolak hasil perhitungan KPU, meminta pendukungnya pulang dan beristirahat. Tak ada jaminan kondisi aman ini bertahan lama, mengingat aparat memperkirakan situasi siaga bertahan minimal hingga 25 Mei. Pembatasan akses ke sosial media masih berlangsung.

Amdan tidak mempedulikan itu semua. Dia memilih berjihad di jalan yang sepi, membantu siapapun yang luka akibat pertikaian politik yang belum ada tanda-tanda berakhir ini.

"Saya tidak pandang bulu. Pendukung siapapun harus dibantu."