LGBTQ di Indonesia

Twitter Adalah Ruang Maya Paling Aman Bagi Gay di Indonesia

Menurut kontributor kami, di jagat cuitan inilah gay bisa menjadi diri sendiri dan diterima dalam komunitas bersama, tanpa harus menampilkan identitasnya.

oleh Amahl S. Azwar
03 Mei 2019, 7:02am

Ilustrasi oleh Yasmin Hutasuhut 

Sekalipun sudah bergabung di Twitter sejak 2009, dan laman akun saya gamblang menunjukkan kalau saya gay, sebetulnya saya baru mengungkapkan jati diri terbuka pada 2013.

Sebelum itu, ‘penjelajahan’ saya di dunia maya sebagai lelaki gay masih terselubung. Saya memulai ‘kiprah’ mencari teman-teman (oke, pacar juga sih) melalui layanan chatting m-IRC (yah ketahuan umurnya deh), lalu kemudian lanjut ke situs-situs sosial khusus gay, forum-forum Internet, hingga yang teranyar aplikasi seperti Grindr. Kala itu saya masih bekerja penuh waktu sebagai wartawan di Jakarta—dan memang sedang ingin memberontak.

Seiring dengan bertambahnya teman-teman di dunia Twitter, saya menemukan satu fenomena menarik: banyak teman-teman gay di negara ini menyamarkan wajah. Biasanya foto-foto mereka yang diunggah kebanyakan ditutupi bagian mukanya dengan stiker-stiker lucu.

Akun-akun alternatif sebenarnya bukan fenomena yang aneh di jagat maya. Banyak teman saya di Twitter, termasuk yang straight, memiliki akun khusus menyuarakan pendapat-pendapat nyeleneh, yang barangkali dapat mengganggu karir apabila diutarakan di akun utama. Ada juga yang punya akun kedua secara spesifik untuk menikmati konten porno.

Hal paling menarik dari akun-akun ‘bertopeng’ adalah kenyataan mereka sebenarnya menjadi diri sendiri.

Mereka berkicau tentang kehidupan sehari-hari—makan di mana, liburan ke mana, pakai pakaian apa—tetapi tetap dengan muka disamarkan.

Karena tertarik melihat akun macam itu, saya lantas bercakap-cakap dengan mereka.

Adrian*, 30 tahun, salah satu yang memakai topeng virtual di Twitter. Dia bilang mengungkap jati dirinya sebagai lelaki gay kepada keluarga atau teman-teman kantor sama sekali bukan pilihan.

"Masih tidak aman menjadi gay di Indonesia. Junior saya waktu kuliah dulu sampai diskors—atau bahkan dikeluarkan, saya kurang ingat detailnya—gara-gara ketahuan berkencan dengan pria di lingkungan kampus," ujar karyawan swasta ini kala ngobrol bareng saya melalui akun alternatifnya.

"Saya juga pernah mendengar cerita orang yang dipecat dari kantornya karena berkencan dengan sesama pria." Adrian merujuk kepada penggerebekan yang dilakukan aparat di properti pribadi menyusul dugaan adanya ‘pesta seks’.

"Toh yang mereka lakukan adalah ranah pribadi. Kemudian kenapa hanya mereka yang tertangkap pada saat itu yang dipecat seolah-olah karyawan-karyawan lainnya suci?"

Adrian, yang saat artikel ini dilansir memiliki 1,559 ‘followers’ alias pengikut di akun Twitter-nya, merasa platform mikrobloggin ini merupakan tempat yang aman untuk mengekspresikan seksualitasnya. Kendati begitu, Adrian masih takut apabila dia sampai ‘bertemu’ rekan kerja di linimasa yang kadang ‘menyarankan’ pengguna Twitter untuk kita follow.


Tonton dokumenter VICE tentang terapi 'penyembuhan' gay yang kontroversial:


Foto-foto yang diunggah ke laman Twitter-nya juga senantiasa ditutupi pakai stiker untuk menyamarkan wajah. Kendati mengaku menikmati konten-konten ‘esek-esek’ yang berseliweran, Adrian lebih mensyukuri media Twitter sebagai tempat untuk menyalurkan “ke- gay-an” dirinya—dalam mencari pertemanan dan, tentunya, pacar.

"Saya bertemu dengan beberapa teman akrab saya melalui Twitter. Saya juga bertemu dengan pacar saya sekarang [dua minggu lagi mereka genap pacaran satu tahun] di sini. Saya berkenalan dengan mereka tentunya melalui akun alter ini juga," ujar Adrian.

Berawal dari saling berbalas kicauan dan saling mengikuti di jagad Twitter, pacar Adrian sekarang pada satu hari mengunggah kicauan tentang kebutuhan model untuk pemotretan.

Adrian lantas memberanikan diri untuk audisi dan bertatap muka langsung dengan pria yang tadinya sebatas diketahuinya melalui kicauan-kicauan tersebut. Setelah tiga kali berkencan, keduanya memutuskan pacaran ‘sembunyi-sembunyi’. Sebagaimana orang pacaran, Adrian juga sering memperbarui lini masanya dengan kehidupannya bersama sang kekasih. Kicauan terakhir Adrian memperlihatkan keduanya tengah berpergian—muka Adrian ditutupi dengan stiker binatang koala, sementara pacarnya memakai stiker babi di wajahnya.

"Yang membuat saya tertarik dengan dia adalah hasratnya yang begitu besar terhadap kariernya. Walaupun usia dia jauh lebih mudah dari saya. Berbeda dengan pacar saya sebelumnya yang selalu saja mengeluhkan pekerjaannya," tutur Adrian, yang sama sepertinya pacarnya sekarang, sama-sama hobi kerja. Klop.

Adrian saat ini memilih mengunci akunnya untuk menjaga privasinya. Bagi dirinya, sekalipun banyak batasan-batasan yang membuatnya tidak mungkin untuk melela, Twitter seolah menjadi alternatif untuk bisa menjadi dirinya sendiri.

Dari akun seperti Adrian, aku sadar banyak teman gay di negara ini melela lewat medsos, tanpa benar-benar coming out. Mereka merasa diterima dalam satu komunitas yang akrab... tanpa ada yang saling kenal 100 persen.

Contoh lainnya adalah Arya*, 26 tahun. Sekalipun harus menutupi identitas pakai ‘topeng’, Twitter merupakan tempat yang aman bagi teman-teman gay mengekspresikan diri. Dia aktif di jagat Twitter sejak 2014.

"Saya dulu punya akun alternatif di Facebook juga—tujuannya ya sepenuhnya untuk fun atau mencari kencan. Ini sebelum ada yang namanya Grindr. Saya juga sempat gabung ke beberapa grup regional di Facebook," ujar Arya.

Arya mengaku awal mulanya hanya menggunakan akun ini untuk mengoceh tentang keresahan sehari-hari, tanpa menambah unsur gay. Lama-lama dia mulai mengikuti akun-akun yang ramai (atau dikenal sebagai selebtwit) dan nimbrung ke topik-topik yang bersinggungan tentang homoseksualitas.

Berbeda dengan aplikasi khusus gay seperti Grindr atau Blued yang, menurut Arya, lebih berdasarkan mencari partner seks semata, platform Twitter yang lebih luas memungkinkan teman-teman gay untuk juga bisa berkicau tentang hal-hal yang berbau sosial.

"Saya rasa Twitter sudah cukup untuk merangkum semuanya. Bisa membangun komunitas dan juga berbagai macam jenis komunikasi. Saat ini bahkan kami sudah punya satu grup di mana kami saling berkomunikasi melalui pesan-pesan langsung," imbuh Arya yang mengaku ada selebritas sampai kalangan pejabat kepresidenan di antara akun-akun alter tersebut.

“Bahan obrolannya pun sudah banyak yang diluar hal-hal tentang gay—mulai dari bisnis, kerjaan, sampai kerja sama langsung di dunia nyata,” tutur Arya.

Hanya saja, kehidupan dirinya di jagad maya sebagai akun alternatif memiliki harga yang harus dibayar. Menurut Arya, ada pula orang-orang yang memulai akun alternatif hanya untuk mencari panggung semata. Apalagi setelah namanya mula banyak ‘dikenal’, dengan 3.408 pengikut, dia tidak bisa lagi berkicau semaunya.

"Kenyamanannya jadi berkurang," ungkapnya.

Sebagai seorang gay asal Indonesia yang tinggal di mancanegara, saya sadar punya privilese mengungkapkan seksualitas secara terbuka, tanpa harus khawatir bullying daring, doxxing, atau penggerebekan polisi. Sya sering memikirkan rekan-rekan gay lain di Tanah Air. Bisakah mereka sebebas saya dalam mengungkapkan pendapatnya? Akan adakah masa mereka bisa membuka topeng virtualnya?

Lalu, saya tersadar. Alih-alih memikirkan masa depan yang tak pasti, lebih baik kita mengapresiasi setidaknya ada platform positif walau belum ideal untuk rekan-rekan gay.

Bagi Satrya*, yang baru-baru ini iseng-iseng membuat tagar #AlterAwards2019 melalui akun @AlterAwards2019 untuk mengapreasiasi akun-akun alter tersebut. Meningkatnya homofobia di Indonesia membuat fenomena akun-akun alternatif ini seolah menjadi jalan tengah bagi teman-teman gay, dan LGBT umumnya, untuk setidaknya ‘melela’ kepada sesama komunitas.

Akun alter juga penting, karena rajin berkicau tentang isu-isu sosial yang bisa berguna bagi komunitas mulai dari isu-isu kesehatan seksual dan HIV/AIDS.

"Aplikasi Twitter yang ramah pengguna, cepat dan ringkas, membuat teman-teman LGBT di Indonesia memperoleh satu media sosial satu pintu mencari teman, gebetan, berita-berita terbaru, cerita-cerita, utas-utas, dan lain sebagainya," tutur Satrya. "Tapi tetap saja pada akhirnya poin utamanya adalah mencari teman. Banyak dari akun-akun alter ini yang akhirnya lanjut berteman di kehidupan nyata."


*Nama-nama narasumber diubah untuk menjaga privasi mereka.

Amahl S. Azwar adalah penulis lepas yang kini tinggal di Chiang Mai, Thailand, bersama kekasihnya