Foto oleh Tony Tulathimutte. 

Buat Apa Sih Pakai Skincare, Jika Teknologi Edit Foto Sukses Menyetarakan Semua Orang

Dalam opini provokatif ini, kontributor VICE beralasan jika wajah manusia dalam foto bakal terlihat sama saja jika di-zoom sampai lima ratus persen.

|
08 Mei 2019, 11:06am

Foto oleh Tony Tulathimutte. 

Artikel ini adalah rangkaian seri 'This is Fine', kolom VICE membahas kiat-kiat untuk membuat hidup kita terasa lebih membahagiakan di era modern. Dalam edisi kali ini, kontributor kami Tony Tulathimutte menyatakan pentingnya teknologi edit foto yang membuat orang tidak harus melakoni rutinitas skincare yang mahal.


Baru-baru ini, aku mulai sering memotret para penulis profesional. Penulis memang tidak sering berjemur di bawah teriknya matahari, tapi itu bukan berarti kulit mereka bagus. Lagipula, mereka cenderung malu di depan kamera. Maka itu, aku sering melakukan edit foto digital, yang rasanya seru banget.

Biasanya ketika media atau orang membahas foto editan, sering muncul kritik karena dianggap mempromosikan standar kecantikan yang tidak realistis. Aplikasi-aplikasi macam Facetune dan Meitu berhasil memperluas lingkup edit gambar, sehingga sebagian besar ponsel pintar di masa sekarang secara otomatis mampu melakukan edit gambar rahasia pada subyek fotonya. Dalam tiga tahun terakhir, rasanya sudah tidak ada lagi yang namanya foto tanpa editan jika diambil dari ponsel.

Aku pendukung teknologi edit foto, karena menganggap temuan ini banyak sekali manfaatnya. Saat aku menyunting foto seseorang, aku tidak berusaha bikin orangnya tampak lebih langsing atau putih. Yang kulakukan lebih ke arah perawatan kulit digital. Aku cuma pengin membuat mereka tidak terlihat capek atau terlalu tua di foto.

Tiap kali mengedit foto, aku menggunakan fitur healing brush di Adobe Lightroom, yang mengizinkanmu mengangkat kulit halus dari satu bagian foto dan "mentransplasikannya" ke bagian lain yang teksturnya biasanya terlihat kasar, mulai dari pipi, hidung, dahi, dan dagu. Nodanya tinggal diklik dan dia langsung hilang. Klik sekali lagi dan kamu bisa memusnahkan lingkaran hitam di mata subyek fotomu.

Kamu bisa mengatasi kemerahan kulit dengan mengubah tint hijau -45, +0.5 cahaya. Kamu juga bisa bikin mata sosok dalam foto tambah cerah dengan menaikkan highlight dan saturasi. Asyik banget deh.

Sebagai orang dengan zodiak Virgo, aku senang banget menangani berbagai editan foto macam ini. Sama sekali tidak rumit dan tidak ada niat memanipulasi wajah seseorang. Ini cuma masalah menangani komedo dan wajah berminyak yang tidak perlu muncul dalam foto. Aku tidak mengubah citra seseorang. Mereka masih sosok yang sama dengan kehidupan sehari-hari.

Aku demen banget melakukan touch up secara digital, karena dulunya aku merasa tidak punya bakat seni. Aku bego banget tiap ikut mata pelajaran kesenian, sampai aku hampir terpaksa mengulang pelajaran itu di kelas dua SD karena ogah pegang krayon. Aku enggak tahu apa-apa tentang framing dan komposisi.

Beban tiap belajar seni beda rasanya dengan edit foto. Rasanya lebih seru aja bisa mengutak-atik wajah asli seseorang, sekalipun kamu bukan editor foto yang sangat berbakat. Aku benar-benar menyukai 'cabang kesenian' dengan piranti komputer ini.

Aku sendiri sejak lama suka mengutak-atik wajahku; kalau aku menemukan jerawat di wajah, aku rela membatalkan janji dengan teman-teman demi menghabiskan malamku mengulik jerawat itu. Tiba-tiba udah jam 3 pagi dan aku berdiri di depan kaca mengingat ucapan ibu: "Kapan kamu bisa dapat pacar kalau jerawatan begitu?"

Melakukan pengeditan foto itu bagiku lebih seru dari menonton porno. Kamu harus menggunakan dua tangan, dan pastinya susah merasa horni kalau melihat dan mengedit pori-pori hidung. Kamu bisa menghabiskan sejam atau lebih hanya berfokus pada satu foto, meneliti sentimeter demi sentimeter wajahnya. Ketika di- zoom lima ratus persen, wajah semua orang kelihatan sama aja kok, mau mereka tiap hari pakai skincare atau tidak. Wajah yang di-zoom ekstrem pasti melengkung dan abstrak. Seperti bangunan skate park dilihat dari ketinggian.

Ketika mengedit wajahku sendiri, aku berusaha mengakrabi diriku dengan bintik-bintik dan kerutan baru di wajah. Aku melihat apakah ada bekas jerawat. Kalau ada, aku menghapusnya.

Sekali lagi, aku tidak berambisi melakukan retouch berat-berat. Tujuanku sederhana saja, walau mungkin tidak mulia. Semakin kamu menutupi masalah-masalah kulit yang sederhana—ruam, wajah berminyak, atau kulit kusam—maka setidaknya si pelaku edit foto justru berjasa membuat wajah seseorang nampak segar alami. Teknologi ini menyetarakan semua orang, tanpa harus menghabiskan uang jutaan demi bermacam perawatan kulit yang kini tampaknya semakin wajib dilakukan.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.