Iklan
fobia dan kematian

Bagaimana Rasanya Menjadi Orang yang Fobia Mati?

Takut mati itu wajar. Semua orang pasti pernah merasakannya. Tapi ternyata ada lho orang yang fobia terhadap kematian. Kondisi ini disebut thanatophobia.

oleh Violet Rusu ; Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
07 Februari 2018, 5:23am

Gambar dari Shutterstock

Saya sering membayangkan yang aneh-aneh saat sedang melakukan sesuatu yang menggunakan benda tajam atau berat. Salah satu contohnya, waktu itu saya pernah membayangkan momen di mana saya sedang mengantarkan minuman di restoran tempat saya bekerja dan kondisi restoran sedang penuh. Tanpa sengaja, nampan yang saya bawa terjatuh dan gelas-gelas berisi minuman itu pecah. Akibatnya beling-beling kaca berhamburan di lantai. Kemudian saya kehilangan keseimbangan dan jatuh tertelungkup ke lantai. Beling-beling kaca itu menancap di leher, menyayat urat leher dan darah mengucur ke lantai. Saya tidak fobia mati, tetapi memang sering membayangkan bagaimana saya akan mati nanti. Bagi orang yang memiliki fobia terhadap kematian, atau thanatophobia, pikirannya bisa lebih parah lagi.

Hampir semua orang takut mati dan pernah membayangkan momen terburuk yang bisa menyebabkan kematian, dan ini membuat kondisi thanatophobia sulit untuk didiagnosis. Namun, bagi sebagian orang memikirkan kematian tidak hanya sekadar penasaran saja. Membayangkan bagaimana mereka akan mati nanti sangatlah menakutkan, hingga akhirnya mereka tidak ingin melakukan hal-hal yang bisa menyebabkan kematian.

Sejujurnya saya sering takut mati, walaupun saya belum pernah didiagnosis memiliki thanatophobia. Yang saya takutkan bukan hanya proses kematian itu saja, tetapi juga takut saya tidak akan ada lagi di dunia. Sulit membayangkan kalau suatu saat nanti saya akan pergi selama-lamanya.

Seorang teman saya yang bernama Katie Miotła, seorang ibu baru berusia 29 tahun yang tinggal di sekitar Toronto, mengaku ia menderita thanatophobia. Anehnya, Miotła cenderung lebih takut ibunya akan mati. Dia mulai merasakan cemas yang berlebihan terhadap kematian saat ibunya sering pergi ke rumah sakit untuk alasan yang tidak diketahui. “Pada saat ibuku dirawat di rumah sakit untuk pertama kalinya, saya langsung menjenguknya,” ujarnya. “Saya masih ingat waktu saya merasa mual dan akhirnya pingsan.” Miotła tidak sadarkan diri karena ia terlalu stres memikirkan ibunya akan meninggal. “Hal yang serupa terjadi lagi ketika kami sedang bersiap-siap untuk liburan. Ibuku mengatakan kalau ia perlu mengunjungi rumah sakit. Seketika saya berkeringat dingin dan merasa pusing,” ia mengatakan. Dari situlah Miotła menyadari bahwa ibunya adalah pemicu thanatophobia yang ia miliki.

Setiap orang memiliki ketakutan dan dampak yang berbeda, tergantung dari faktor-faktor yang menyebabkan ketakutan itu. Beberapa dokter ahli berpendapat bahwa rasa cemas yang berlebihan terhadap kematian sering disertai dengan gangguan kesehatan mental lainnya seperti PTSD, depresi, dan Generalized Anxiety Disorder (GAD). Baru-baru ini ada studi yang menunjukkan bahwa fobia terhadap kematian cenderung terjadi pada perempuan di usia 20 dan 50 tahunan.

Menangani pasien penderita thanatophobia merupakan hal yang biasa bagi Andrew Gentile, salah satu pemilik klinik hipnoterapi di Toronto. Gentile mengatakan bahwa dia menangani klien selama 45 menit setiap sesinya dengan mengajak mereka untuk "menaiki karpet ajaib" (“magic carpet ride”) guna menyingkirkan ketakutan terdalam mereka. Lampu ruangan.


Baca artikel VICE lain yang membahas tentang kematian

praktiknya akan diredupkan agar dia bisa fokus memerhatikan wajah pasiennya. Pasien akan disuruh berbaring di kasur dan memejamkan mata. Dia mengamati mereka bernafas, memantau sampai mereka berada di kondisi rileks. Kondisi rileks adalah saat di mana rahang mulai mengendur dan mata yang terpejam bergerak-gerak perlahan. Gentile akan memulai sesi hipnoterapi saat tubuh pasien mulai berkedut yang menandakan mereka sudah tertidur.

“Saya akan meminta mereka membayangkan tempat yang indah untuk menciptakan perasaan aman dan menenangkan sistem tubuh mereka,” ujar Gentile. “Begitu mereka merasa keadaan baik-baik saja, saya akan mengungkit kenangan buruk mereka.” Gentile beranggapan bahwa fobia dan rasa cemas adalah akibat dari ketiga hal berikut ini: trauma hidup, dogma agama, atau ketakutan akan hal yang tidak mereka ketahui. Gentile akan menangani pasien sesuai dengan sumber masalah yang menyebabkan fobia tersebut. “Ketakutan bisa dipelajari dan ditelusuri kembali,” katanya. Dalam sesi hipnoterapi, ia dapat menemukan momen di mana fobia dan ketakutan itu dimulai.

Berhubung saya seseorang yang sangat penasaran dan tidak tumbuh di keluarga yang religius, kecemasan saya disebabkan oleh tidak adanya penjelasan apa yang akan terjadi setelah saya mati. Meskipun saya tidak mendapatkan jawaban yang pasti, tetapi saya merasa lega saat mengetahui bagaimana perasaan takut saya berkembang. Penanganan bagi mereka yang kecemasannya berasal dari takut akan ketidakpastian berbeda dari mereka yang takut mati akibat trauma masa lalu dan dogma agama.

"Anda tidak bisa merasa cemas dengan hal yang terjadi di masa lalu, tetapi Anda bisa mengalami trauma, penyesalan dan rasa malu yang bisa menyebabkan depresi. Sedangkan kecemasan terjadi pada saat Anda takut terhadap apa yang akan terjadi di masa depan,” ujar Gentile. Ia menjelaskan bahwa kita cenderung cemas pada saat memikirkan masa depan, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Pikiran bawah sadar membuat kita membayangkan hal-hal terburuk yang mungkin terjadi.

Saya beruntung rasa takut saya tidak sampai membuat saya pingsan. Saya memang sering berpikir yang aneh-aneh, tetapi hal ini tidak pernah memengaruhi hidup saya. Lain ceritanya bagi orang yang memiliki fobia mati seperti Miotła. Mereka bisa sampai pingsan karena memikirkan kematian.

Saya sadar tidak akan mendapatkan jawaban yang saya butuhkan. Gentile menyarankan kita untuk melakukan cara yang kreatif untuk mengurangi rasa cemas dan ketakutan tersebut. Biasanya saya menyingkirkan pikiran tentang kematian dengan melakukan hal-hal yang ada di bucketlist saya – misalnya menulis buku pertama saya. Bagaimana kalau gagal? Ya sudah, santai saja.


Tagged:
fobia
Kematian
Usia
Ketakutan
Μάτι
Umur
umur panjang
takut