Iklan
Pengungsi Suriah

Inilah Kelanjutan Kisah Lelaki Suriah Yang Terjebak Hidup di Bandara Selama 7 Bulan

Setelah sempat terlunta kayak tokoh film 'The Terminal', Hassan Al-Kontar akhirnya mendapat suaka pemerintah Kanada. VICE ngobrol lagi sama dia. Ternyata Kontar masih merasa jadi lelaki paling kesepian di Bumi.

oleh Nyima Pratten
17 Maret 2019, 11:43am

Hassan Al-Kontar selfie di rumah barunya di Kanada. Foto dari arsip pribadi

Pada Agustus 2018, saya menulis artikel untuk VICE tentang berbagai pinangan yang diterima Hassan Al-Kontar, pengungsi Suriah, selama dirinya terperangkap di Bandara Internasional Kuala Lumpur II alias KLIA II.

Judul tulisan tersebut—yang menyebut-nyebut tentang pinangan yang diterima Al-Kontar—memang sengaja dibikin seperti itu. Niatnya agar artikelnya viral. Sayang, begitu, artikelnya ramai dibagikan di internet, saya malah dihantui rasa bersalah.

Begini duduk perkaranya: sejatinya, artikel tersebut ditulis sebagai ajakan untuk mengumpulkan tanda tangan petisi online mendesak Pemerintah Kanada segara memberikan suaka kepada Al-Kontar. Akan tetapi, seiring makin ramainya dukungan yang diterima kontar, makin jelas pula kegagalan hukum internasional melindungi hak-hak pengungi semacam Al-Kontar.

Di saat yang sama, perih hati saya melihat ejekan dan rundungan yang diterima Al-Kontar. “Dia memang seratus persen goblok,” tulisan salah satu netizen dalam bahasa Arab saat debat tentang moral Al-Kontar dan keputusannya menolak lamaran-lamaran menikah yang dia terima sedang hebat-hebatnya. Sejumlah pengguna Twitter juga sok-sok heroik menyinggung “sikap pengecut” Kontar yang tak mau mengangkat senjata di Suriah. Lebih parah lagi, ada pula pengguna Twitter yang menuduhnya sebagai anggota ISIS yang mencari dalih masuk Kanada.

Saya terus berkomunikasi dengan Al-Kontar selama dia “hidup” di Bandara. Suatu hari, saya tak mendapatkan balasan dari Al-Kontar. Tak lama berselang, kabar berdatangan. Al-Kontar diberitakan ditahan oleh pihak berwenang Malaysia. Sejak saat itu, saya tak menerima kabar dari Al-Kontar selama dua bulan lamanya.

"Kisahku ditulis dalam banyak sekali artikel dan dalam berbagai bahasa yang sebelumnya aku bahkan tak tahu bahasa itu ada,” ujarnya Al-Kontar dari rumah barunya di Whistler, Kanada. Al-Kontar menerima suaka dari pemerintah Kanada pada 2018. “Aku masih ingat reaksiku saat orang mengirimi aku tautan artikel dalam bahasa-bahasa asing itu. Aku cuma mikir ‘ini bahasa Klingon atau Valyrian.’”

Cerita tentang Al-Kontar masih ramai dibagikan di internet. Alhasil, pinangan dari perempuan di seluruh dunia terus berdatangan. “Di mata hukum, menikahi seseorang untuk masuk ke sebuah negara adalah tindakan ilegal atau bahkan penipuan. Aku cuma mencari solusi yang legal,” katanya. “Aku tak menolak pinangan karena aku menolak menikah. Aku menolaknya karena pinangan-pinangan ini adalah solusi yang salah. Aku tak ingin ini nanti jadi perkara bagi saya dan orang yang aku nikahi.”

hassan al-kontar canada
Hassan Al-Kontar di Canada.

Sayangnya, beberapa pengagum Al-Kontar tak legowo menerima penolakan.

"Asal kamu tahu!! Kamu diberikan kesempatan dan kamu menolaknya. Aku pikir kamu cuma sedang menikmati perhatian yang belum pernah kamu dapatkan seumur hidup,” ujar seorang perempuan asal Amerika Serikat setelah mengusulkan jalan keluar yang dianggapnya sebagai opsi yang bisa ditempuh Al-Kontar: menikahinya. “Bodo amat kamu menolakku!! Aku bekerja untuk salah seroang anggota Kongres. Aku bisa menikahi siapa saja,” ujar perempuan AS lainnya.

"Kamu bisa menikahi siapa saja, itu hak pribadimu. Tapi membawa suami Suriahmu ke AS, itu urusan yang lain lagi. Ini bukan lagi cuma tentang kebebasan pribadimu. Ini sudah bersangkutan dengan hukum. Aku takut kamu harus pindah ke sini dan hidup bersamaku di bandara jika kita menikah,” balas Al-Kontar.

"Itu jawabanku," kata Al-Kontar, "Tapi, aku pikir seorang perempuan yang bekerja bagi anggota kongres seharusnya harusnya bisa berpikir lebih jernih. Ada yang namanya travel ban. Penduduk Suriah tidak diperkenankan masuk wilayah Amerika Serikat. Baik itu sebagai mahasiswa, turis, pekerja, investor bahkan pasangan hidup. Ini kedengaran tolol. Tapi itu faktanya. Sesederhana itu.”

Al-Kontar masih ingat jelas betapa malu dirinya saat menjawab satu persatu pinangan yang dia terima. Dia juga tak pernah piawai bercakap-cakap dengan perempuan. “Sebagian pinangan berasal dari AS. Bagi saya ini adalah bukti bahwa negara ini penuh dengan orang yang ingin membantu tapi tak tahu cara yang benar untik melakukannya,” ujarnya. “Dan sebagian perempuan yang melamarku punya selera humor. Aku seorang lelaki lajang berumur 37 tahun. Sayangnya, aku bisa bilang aku tak pernah jatuh cinta sebelumnya. Sedih ya, tapi memang begitu keadaaannya. Selama aku tinggal di bandara, aku merasakan jenis cinta yag lain. Aku jatuh cinta dengan aktivitas yang saya jalani dan apa yang aku percayai.”


Tonton dokumenter VICE mengikuti sukarelawan warga negara asing yang rela datang ke Suriah memerangi ISIS:


Setelah cerita tentang Al-Kontar viral di internet, statusnya di bandara Kuala Lumpur naik. Dia menjelma menjadi semacam selebritas lokal. Acapkali pengunjung bandara mencarinya untuk sekadar berfoto bersama atau merekam videonya. Foto dan video jelas kemudian diupload dengan caption yang menarik perhatian. Alhasil, Al-Kontar jadi semacam obyek disaster tourism dalam setting yang berbeda. Akhir, Al-Kontar terpaksa bersembunyi di bawah tangga. Hidupnya tak jauh berbeda dari seekor bintang di kebun binatang.

Sorotan media yang intens, pengunjung bandara yang mengejarnya dan meroketnya popularitas Al-Kontar di jagat sosial media membuat pemerintah Malaysia terpojokkan dan bikin merah kuping petinggi pemerinah Kanada. Ini pula yang pada akhirnya membawanya ke lokasi detensi Malaysia. Namun, popularitas Al-Kontar pulalah yang membebaskannya dari sana.”

"Dijembloskan di pusat detensi adalah pengalaman yang berat. Benar-benar berat. Aku menghabiskan 58 hari di ruangan tertutup. Luasnya cuma lima kali enam meter. Biasanya ruangan tersebut diisi lebih dari 40 orang. Selama 20 hari pertama, aku tidur dengan bersandar di dinding karena tak ada sisa ruangan yang kosong,” kenang Al-Kontar.

"ami mandi di kamar mandi terbuka. Baju yang kami miliki cuma yang melekat di tubuh. Jadi, kalau aku mencuci baju itu, aku langsung mengenakannya agar kering. Suhu ruangan sangat dingin selama 24 jam. Selama 58 hari lampu ruangan tak pernah dimatikan dan selama itu pula, aku tak minum kopi."

"Beberapa orang yang aku temui di sana berasal dari Bangladesh, India atau Pakistan. Tapi, ada pria Arab asal Maroko. Dia berada di sana selam sebulanan. Aku selalu mencoba mengajaknya bicara untuk mengsisi waktu. Lewat obrolan itu, aku tahu laki-laki pernah bekerja sebagai koki pizza di Malaysia. Alhasil, selama sebulan, kami banyak ngobrol tentang cara bikin pizza. Dia mengajari cara bikin pizza sebulan penuh. Selama sebulan itu, kami kelaparan."

Awalnya, pemerintah Malaysia mengancam akan mendeportasi Al-Kontar ke Suriah. Untunglah, mereka akhirnya setuju untuk mematuhi hukum internasional karena alasan “kemanusiaan.”

Al-Kontar saat ini tinggal secara legal dan nyaman di Kanada. Fan dan followernya masih kerap mengirimkankan pinangan lewat DM. Uniknya, Al-Kontar merasa menjadi lelaki paling kesepian di muka bumi.

"Orang-orang sering membandingkan hidupku dengan film The Terminal. Dulu, waktu ditanya tentang kesepian oleh media, aku sering menjawab ‘Setidaknya Tom Hanks punya Catherine Zeta-Jones dalam film itu."

Follow penulis artikel ini @nyimapratten

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK.

Tagged:
Konflik Suriah
Wawancara
imigrasi
Pencari Suaka
Krisis Kemanusiaan
the terminal
Hassan Al-Kontar
Terjebak di Bandara