Iklan
Sepakbola

Transfer Industri Sepakbola Makin Gila, Memaksa Pengembang 'Football Manager' Ubah Sistem

Sebagai game yang dirancang sebagai simulasi kenyataan, FM dan FIFA harus putar otak merespons betapa rekor transfer pemain betulan makin tak masuk akal, khususnya gara-gara PSG.

oleh Ian Williams
05 Desember 2017, 8:52am

Artikel ini pertama kali tayang di Waypoint.

Dunia memang sudah gila. Realitas yang dulu hanya bisa kita bayangkan lewat game kini sudah terjadi di dunia nyata. Lihat saja rekor transfer pemain sepakbola misalnya. Pemain yang tenar dijual dengan harga gila-gilaan, itu belum termasuk negosiasi dengan tim barunya tentang perjanjian kontrak soal iklan dan sebagainya. Sebenarnya ini bukan hal aneh, industri sepakbola didukung oleh sistem pertukaran talenta macam ini. Makanya sebuah klub kecil yang memiliki reputasi menghasilkan pemain-pemain muda bertalenta bisa terus bertahan.

Namun semua berubah awal dekade 2000-an, batas nilai transfer seharga kurang lebih 100 juta Euro telah terlampaui. Biaya transfer dengan nilai luar biasa ini melibatkan talenta-talenta yang hanya muncul sekali satu generasi. Awalnya dipicu perpindahan Cristiano Ronaldo (94 juta Euro) ke Real Madrid, disusul Gareth Bale (100 juta Euro) juga ke Real Madrid, kemudian Paul Pogba (105 juta Euro) saat hijrah ke Manchester United dari Juventus. Padahal mayoritas pemain sepakbola lainnya tidak mendekati nilai transfer tersebut. Satu dekade lalu, pemain paling bertalenta di muka bumi paling banter dibanderol 20-30 juta Euro.

Batas imajiner itu semakin berubah drastis musim panas lalu. Paris Saint-Germain, klub tajir luar biasa dari Prancis yang dimiliki oleh oleh juragan minyak Qatar, menghabiskan 220 juta Euro untuk mendapatkan Neymar, bintang besar Barcelona yang didaulat sebagai penerus Lionel Messi. PSG tak lama kemudian menghabiskan 180 juta Euro untuk pemain berumur 18 tahun, Kyllian Mbappe. Bagaimana PSG bisa melakukan kedua transaksi ini tanpa melanggar aturan EUFA tidak penting. Yang penting adalah bagaimana transaksi ini menghancurkan ekspektasi tentang proses transfer pemain dalam dunia sepakbola.

Screenshot tampilan game Football Manager 2018. Diunggah seizin SEGA

Gara-gara tidak ada lagi batas normal pengeluaran, ditambah banjirnya pendapatan dari hak siar televisi ke dalam liga-liga top dunia (terutama Premier League), standar nilai transfer meningkat drastis. Lantas apa hubungannya dengan video game? Jangan salah, yang pusing gara-gara menggelembungnya rekor transfer bukan cuma pemilik klub sepakbola, tapi juga developer game.

FIFA dan Football Manager adalah dua video game sepakbola paling terkenal yang rutin dirilis saban tahun. Namun formula yang mereka gunakan selama bertahun-tahun kini tidak berlaku. Akibatnya developer harus menyesuaikan diri. FIFA adalah game olahraga yang menitikberatkan pada permainan. Setelah rekor transfer Neymar terjadi, FIFA telah meningkatkan harga pemain-pemain tenar dalam game itu untuk syarat transfer (sayangnya EA Sport menolak diwawancarai untuk artikel ini). Di sisi lain, Football Manager adalah game yang berusaha menjadi paling realistis. Developer FIFA mungkin tidak terlalu pusing, tapi hal sebaliknya terjadi bagi tim pembuat Football Manager. Mereka tidak sekedar butuh angka yang fantastis, tapi juga makna dari angka-angka tersebut dan kemana uang-uang tersebut akan masuk nantinya.

“Reaksi pertama saya adalah gimana cara PSG akan lolos dari peraturan financial fair play [pesan editor: FFP adalah sistem tidak efektif yang bermaksud menjaga agar sebuah klub tidak bisa menghabiskan terlalu banyak uang untuk nilai transfer dan gaji pemain],” kata Miles Jacobson, direktur studio dari pengembang seri Sports Interactive. “Kemudian saya merasa harus langsung ngobrol dengan Keith Flannery. Dia adalah yang bertanggung jawab atas semua kecerdasan buatan [artificial intelligence/AI] transfer dalam game.”

AI harus disesuaikan karena sebuah transfer dalam skala besar seperti Neymar seharusnya tidak mungkin bisa terjadi di atas keras. Angka yang disediakan oleh komputer Football Manager tidak mencapai setinggi itu dalam beberapa tahun terakhir. Jacobson, yang mendesain game tersebut serealistis mungkin, hanya melihat satu transfer pemain dengan nilai di atas 150 juta poundsterling di versi Football Manager 2016. Lantas, perubahan yang drastis harus segera dilakukan.

Dia menjelaskan bahwa transfer dalam Football Manager biasanya dibuat berdasarkan dua angka: nilai sesungguhnya dari sisa kontrak pemain dan angka yang lebih samar, yaitu nilai yang dipatok si klub penjual untuk pemain. Harus ada semacam nilai tengah di antara kedua angka tersebut agar sebuah transfer bisa terjadi, dan sebelum musim panas 2017, angka tersebut tidak pernah menyentuh kisaran 200 juta Euro.

“Mungkin saja nilai Neymar sebetulnya lebih dari 200 juta poundsterling dalam game, tapi ini berarti dia tidak akan bisa pindah klub karena tawarannya pasti akan ditolak. Jadi harus ada perubahan dalam struktur transfer game agar transaksi macam ini bisa terjadi,” ungkap Jacobson. “Nilai transfer Neymar memang mengkhawatirkan, tapi sebetulnya banyak transfer lain yang lebih mengkhawatirkan, misalnya bagaimana pemain yang nilai transfernya antara 20 hingga 25 juta sekarang masuk ke ranah 30-50 juta poundsterling. Dan lebih banyak pemain yang masuk ke dalam area ini, jadi sangat sulit bagi tim AI kami untuk mengubah struktur transfer dalam game.”

Itu baru masalah dari tipe-tipe pemain “bagus, tapi bukan spektakuler” yang beberapa tahun lalu mungkin nilai transfernya tidak seberapa. Gylfi Sigurdsson adalah contoh bagus. Gelandang tengah dari Islandia ini adalah pemain solid di masa primanya yang dibeli dengan nilai transfer lumayan besar (40 juta pound) oleh Everton. Klub dari Kota Liverpool itu membeli Sigurdsson setelah memperoleh bagi hasil hak siar televisi Premier League yang tinggi dan penjualan striker bintang mereka, Romelu Lukaku, pemain bagus yang juga nilainya secara mengagetkan hampir menyentuh angka 100 juta poundsterling saat dilego ke Chelsea.

“Ada banyak transfer pemain musim panas lalu yang umumnya akan saya laporkan sebagai bugs dalam sistem, karena tidak akan mungkin terjadi di dunia nyata. Sekarang malah betulan terjadi,” kata Jacobson.

Dengan kata lain, realitas dunia sepakbola pecah di 2017, dirobek oleh anehnya kapitalisme global dan harga diri nasional (PSG adalah perpanjangan dari kementerian olahraga Qatari). Sports Interactive mengaku ingin menjadi game simulasi olahraga “paling realistis dan immersif”. Tapi apa juga artinya “realistis” ketika pemain sepakbola dibandrol dengan nilai selangit? Baik memang mencoba membuat model dari dunia yang rasional, tapi apa iya ini masih layak dilakukan ketika dunia semakin irasional?

Tapi ya begitulah pekerjaan desainer game. Emangnya “seru” menyetir mobil realistis selama berhari-hari di real time? Ataukah realisme perlu diturunkan demi kenikmatan? Selalu ada kompromi kok: tinggi sebuah gunung, jalur terbang peluru, dan tentunya struktur dalam dunia sepakbola.

Bagi Sports Interactive, kompromi ini dilakukan terutama untuk cedera pemain, kontras dengan usaha mereka untuk berusaha realistis dengan realitas finansial industri sepakbola yang semakin hari semakin ngawur.

“Lewat Football Manager, kami berusaha mensimulasi dunia nyata, dan ada sedikit area yang kami utak-atik agar lebih menyenangkan,” ungkap Jacobson. “Cedera adalah salah satunya, yang kami atur di angka 80 persen dari kehidupan nyata, karena kalau kami ikuti dunia nyata 100 persen—dan mungkin di masa depan bisa saja seperti ini—kami akan dapat banyak sekali komplain.

Memang ada persoalan persepsi waktu ketika kalian memainkan Football Manager. Satu musim sepakbola di dunia nyata berlangsung hampir satu tahun penuh—satu musim berlangsung kurang lebih 305 hari—ya cedera pemain yang terjadi dalam cakupan 305 hari terasa lebih jarang jadinya dibanding angka cedera yang sama dalam waktu 15 jam memainkan satu musim dalam Football Manager.”

“Persepsi” itu sangat selektif, menurut kutipan di atas. Perlu diingat bahwa aspek ekonomi, yang tentunya sangat terpengaruh, tidak diubah sesuai dunia nyata. Biaya transfer yang mahal dianggap bagian dari “keseruan”, tidak seperti cedera pemain yang menganggu jalannya simulasi permainan Football Manager.

Pemain pasti sadar kalau status kita bukan manajer klub sepakbola sungguhan ketika memainkan FM. Tapi kita suka berpura-pura toh? Ide mengenakan jas dan dasi ke acara final turnamen simulasi sudah sempat dibahas komunitas Football Manager, dan biaya transfer Neymar dan pemain kelewat mahal lainnya adalah aspek yang menyenangkan dan tipe realisme yang dicari Sports Interactive.

Persepsi dalam game ini juga terjadi dalam tingkatan yang berbeda. Jacobson mengatakan pada saya kalau dia sering ngobrol bareng CEO klub-klub Premier League tentang cara nilai transfer dinaikkan demi menguntungkan klub-klub Inggris yang kaya. Football Manager bukanlah sekedar menerjemahkan realitas aneh dunia sepakbola modern, tapi juga menciptakannya. Klub menggunakan game ini untuk mencari pemain baru dan merencanakan pertandingan. Hubungan game ini dengan sepakbola nyata bersifat simbiotik, dan mengaburkan batas antara realitas sepakbola nyata dengan versi simulasi Football Manager.

Sebuah pertanyaan menarik muncul seputar simbiosis ini. Sulit untuk mengklaim bahwa popularitas prediksi realitas ala Football Manager yang menyebabkan semua ini, tapi Sports Interactive juga bukan developer game sepakbola nyata yang netral. Mereka sangat terkait industri sepakbola. Maka dari itu, ada beberapa kekhawatiran yang dilontarkan gamer maupun pecandu sepakbola terhadap keberadaan game ini. Apakah nilai transfer dalam game yang terus naik selama bertahun-tahun ini sebetulnya membuat publik terbiasa dengan angka fantastis? Apakah ekspektasi kita akan cedera pemain di dunia nyata kacau akibat tingkat cedera yang lebih rendah dalam game?

Saya tidak mengatakan sebuah skenario yang terjadi dalam simulasi game tersebut berpengaruh pada dunia nyata. Coba kita lihat skenarionya seperti ini: game seperti Football Manager perlahan-lahan mengikis tembok batas antara game (yang mencoba meniru kenyataan) dan dunia sepakbola nyata yang jadi patokan para developer.

Sports Interactive boleh saja terus menciptakan game sesuai kemauan mereka, dan pemain di manapun boleh terus memainkan game tersebut (saya sendiri sudah main FM 2017 selama 67 jam). Namun, sepintas terlihat betapa garis antara kecerdasan artifisial dan realitas, pemain dan developer game saat ini semakin keruh dan tidak jelas. Terutama ketika dunia nyata jauh lebih liar dari imaginasi fiksi manusia.

Tagged:
Gaming
Video Games
GAMES
FIFA 16
VIDEO GAME
Waypoint
Football Manager
Simulasi
Industri Sepakbola
Transfer Pemain