Iklan
Lion Air Jatuh di Karawang

Tiga Hari Ke Depan Amat Krusial Untuk Evakuasi Korban Jatuhnya Lion Air JT 610

Basarnas menyatakan, "kejaiban kalau ada yang selamat" dari total 189 penumpang pesawat yang jatuh di Tanjung Karawang itu.

oleh Ananda Badudu
29 Oktober 2018, 11:56am

Tim SAR mempersiapkan kapal boat di Pesisir Karawang. Foto oleh Beawiharta/Reuters

Ratusan orang dari tim Search and Rescue (SAR) serta aparat TNI lalu lalang di Terminal 2, Dermaga Pelabuhan Tanjung Priok. Semua mata menanti ke arah laut, melihat iring-iringan speed boat yang datang dari perairan Karawang.

Namun yang merapat dari laut, lagi dan lagi, hanya kantong jenazah. Semua berharap ada keajaiban selepas pesawat Lion Air rute Jakarta-Pangkal Pinang dengan nomor penerbangan JT 610 jatuh di perairan Karawang pagi tadi. Terutama keluarga korban yang menunggu dengan harap-harap cemas di Bandara Halim Perdanakusuma, Soekarno-Hatta, maupun Depati Amir.

Setelah lebih dari 10 jam menyisir perairan yang diperkirakan menjadi lokasi jatuhnya pesawat, juru bicara Badan SAR Nasional Yusuf Latif meminta harapan yang berlebihan sedikit dipadamkan. "Ini keajaiban kalau ada yang hidup," ujarnya saat ditemui awak media di kantornya, Kemayoran, Jakarta.
Dalam momen harap-harap cemas ini, momen tiga hari ke depan akan sangat menentukan. Pesawat Lion yang nahas itu mengangkut 178 orang dewasa, 1 anak, dan 2 bayi serta 7 awak.

1540813837344-WhatsApp-Image-2018-10-29-at-175725
Proses evakuasi jasad korban jatuhnya Lion Air JT 610 di Pelabuhan Tanjung Priok. Foto oleh Ananda Badudu/VICE

Kepala kantor SAR Jakarta Hendra Sudirman mengatakan pencarian akan terus dilanjutkan pada malam hari. Tak ada cahaya matahari tak jadi alasan bagi tim SAR untuk menghentikan pencarian puing-puing dan jenazah di perairan Karawang. "Kan bisa pakai lampu dari kapal," kata Hendra saat ditemui VICE di posko Tanjung Priok.

Tim SAR akan terus mengoptimalkan apa yang disebut Hendra sebagai golden hour pencarian serpihan kecelakaan di laut. Di masa kritis ini sebaran puing belum terlampau luas. "Kalau di laut golden hour nya itu 3x24 jam," katanya. Sejauh ini belum ada tanda-tanda alam yang memaksa tim penyelemat menghentikan pencarian puing maupun jenazah korban.

Hingga Senin sore, posko Tanjung Priok terus menerima puing-puing pesawat maupun jenazah dari kapal pencari yang beroperasi di perairan Karawang. Basarnas mencatat saat ini ada puluhan unit kapal yang hilir mudik di perairan Karawang, itu belum termasuk kapal nelayan yang berinisiatif ikut mencari.

1540814076804-pencarian
Warga di Pesisir Tanjung Pakis Karawang menyaksikan proses pencarian korban jatuhnya Lion Air JT 610. Foto oleh Beawiharta/Reuters.

Luas daerah yang jadi fokus pencarian basarnas besarnya 22 nautica mil. "Itu sudah diperhitungkan, ada ilmunya, kami hitung juga faktor angin, arus air," kata Apriyanto, staf posko Basarnas di Tanjung Priok.

Lebih dari 300 orang terlibat pencarian gabungan hari ini. Mayoritas adalah elemen SAR, personel TNI, serta nelayan di pesisir Karawang yang sukarela menyumbangkan tenaganya. Hingga Senin (29/10) sore Waktu Indonesia Barat, total ada sembilan kantong jenazah berhasil dibawa pulang oleh tim pencari dari koordinat yang diduga lokasi jatuhnya pesawat Boeing 737 MAX tersebut. Sebelumnya, tim penyelam dari elemen SAR menemukan berbagai barang pribadi, termasuk KTP, paspor, dompet, hingga seragam pramugari yang sesuai dengan manifes penumpang Lion Air JT 610.

Sesuai rekaman percakapan dengan menara pengawas penerbangan, pilot Bhavye Suneja yang bertugas sempat melaporkan adanya masalah setelah pesawat 13 menit lepas landas. Di ketinggian mendekati 2.000 kaki, dia meminta ATC mengizinkannya putar balik ke Bandara Soekarno-Hatta. Saat permintaan itu dipenuhi, pesawat sudah hilang kontak. Saat jatuh dengan kemiringan 40 derajat menukik bumi, radar mencatat Lion Air JT 610 ada di ketinggian 3.000 kaki.

1540813949562-WhatsApp-Image-2018-10-29-at-175730
Jasad dan benda-benda lain dari proses evakuasi dibawa dari pelabuhan ke RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur. Foto oleh Ananda Badudu/VICE

Direktur Utama Lion Air, Edward Sirait, menyatakan pesawat yang baru berusia dua bulan itu memang sempat mengalami kendala teknis ketika mendarat di Cengkareng, semalam sebelum jatuh, setelah terbang dari Bali. Namun persoalan itu sudah diatasi sesuai prosedur. "Kalau dia rusak tidak mungkin dirilis terbang dari Denpasar," kata kata Edward dalam jumpa pers."Malam itu langsung dilakukan pemeriksaan dan perbaikan sesuai petunjuk pabrik pesawat."

Keluarga kini diarahkan untuk berjaga di Crisis Center Halim Perdanakusuma. Identifikasi DNA tiap korban baru akan dilakukan Selasa.

*Daniel Darmawan berkontribusi untuk laporan ini