Sepakbola

Menyelami Kehidupan Istri Pesepakbola alias WAGs, Memilah Mitos dan Fakta Seputar Mereka

Stereotipe para WAG—sebutan bagi istri dan pacar atlet Liga Primer—tak pernah berubah di media massa. Padahal, mereka tak sebejat yang digambarkan media.

oleh Annie Lord
24 Oktober 2018, 12:41pm

Carly Zucker, Cheryl, dan Victoria Beckham yang sering dicap WAGs menyaksikan Inggris vs Portugal pada 2006. Sumber foto: Trinity Mirror / Mirrorpix / Alamy Stock Photo 

Megan Heath selalu mencintai pekerjaannya. Sayang, saat umurnya menginjak 18 tahun, Heath harus merelakan mundur dari pekerjaannya di pusat perbelanjaan Kota Manchester. Alasannya, demi mendampingi pujaan hatinya sejak kecil, dia tak bisa lagi menyambi kerja.

Pacar Heath kala itu, Will Keane, tiba-tiba saja tak nongol di bagian penjualan sepatu di H&M tempatnya bekerja. Selidik punya selidik, Keane baru saja menandatangani kontrak sebagai striker Manchester United. Konsekuensinya, Heath mendadak mendapat sorotan dari media, dan jadi sosok yang menonjol dibandingkan koleganya. "Aku bekerja di All Saints, Trafford Centre selama beberapa saat," akunya. "Akhirnya, aku berhenti kerja karena malu. Orang-orang selalu menyindir ‘kamu kok kerja yang gajinya cuma UMR doang sedangkan pacar kamu kerja di Man United.’"

Begitulah. Cara pandang orang terhadap WAGs—sebutan media Inggris bagi istri atau pacar atlet, terutama pesepakbola—tak banyak bergeser sejak sebutan tersebut populer digunakan dalam pemberitaan media. Terminologi WAGs pertama kali digunakan pada 2002 oleh staf sebuah klub malam Dubai untuk menyebut istri pesepakbola yang berperangai liar (saat itu, timnas Inggris tengah singgah di sana sebelum menjalani pertandingan Piala Dunia di Korea Selatan dan Jepang). Mulai 2006, istilah WAG makin sering digunakan dalam pemberitaan media massa Inggris, terutama oleh tabloid gosip.

WAG, umumnya digambarkan sebagai perempuan-perempuan matre dan hanya punya daya tarik fisik doang. Istilah ini sering kali digunakan oleh surat kabar sebagai contoh dalam artikel-artikel bernada menggurui, sebagai bukti kalau uang tak bisa membeli segalanya atau contoh perangai yang dianggap buruk. Dua tahun lalu, kolomnis Jan Moir dari koran kuning the Daily Mail menulis betapa pelatih timnas Inggris Roy Hodgson adalah sosok naif karena tidak mau ketat mengendalikan kelakuan istri anak asuhnya. Hodgson dianggap, "tak pernah melihat seorang WAG sibuk pesta-pesta dan kebanyakan menenggak Bacardi. Payudara berisi silikon milik WAG ini berderak selagi dia melangkah dalam sepatu heel tinggi menuju mesin karaoke di tengah malam."

Alison Kervin, dari The Daily Mail juga, dalam artikel hari minggu pernah menulis lebih pedas lagi. Dia menyamakan WAG seperti binatang. "Mereka perempuan-perempuan berkaki panjang mengeluarkan bebunyian keras saat berjalan di atas trotoar. Kaki-kaki mereka biasanya mengenakan stiletto murahan yang saking tingginya sampai terlihat seperti makhluk dari film Avatar." Fabian Capello, bekas pelatih timnas Inggris, pernah mencap WAG sebagai "virus."

Sayangnya, kita tak pernah mendengar bantahan atau pendapat para perempuan ini secara langsung. Makanya, stereotipe seputar WAG kerap muncul dalam headline sensasional macam “Malam-Malam yang Yang Kuhabiskan dengan WAG Wannabe bikin Aku Malu dengan Performaku di Ranjang” atau “WAG Mendapatkan Set Dapur Seharga Rp3,9 Miliar—Lengkap dengan Enam Buah Oven.”

Sejatinya, istri atau pacar para pesepakbola harus mengalami cobaan yang tak terpikirkan penggemar sepakbola sekalipun. Para WAG punya beban hidup sunyi. Mereka harus bertahan dan menemani sendirian saat pasangannya ditandu ke luar lapangan olah petugas medis. Mereka juga hadir saat pasangannya memegangi lutut, kesakitan, di rumah tanpa sorotan media. Pernahkah kalian membayangkan perasaan perempuan-perempuan yang 'dipersekusi' media itu disuruh mati saja oleh suporter sepakbola hanya karena dicap cewek matre dan dianggap membuat performa pemain turun di lapangan?

"Dulu saya suka mikir ‘kayaknya, aku enggak mau hidup bareng pesepakbola,’" kata Megan, yang suaminya kini sudah berpindah klub dari United ke Hull City. "Kebanyakan pesepakbola dan istrinya adalah orang-orang baik dan rendah hati, seperti orang dengan latar belakang biasa pada umumnya. Ada sih memang yang aneh-aneh, seperti yang kamu lihat di media. Mereka inilah yang sering bikin masalah."

Celakanya, citra WAG di media selalu disandarkan pada sekelompok kecil WAG yang memang kurang ajar. Tabloid di Inggris sampai rela membayar hingga Rp98 juta pada informan yang bisa memasok cerita tentang WAG brengsek macam ini.


Tonton dokumenter VICE mengenai suka duka calon atlet sepakbola yang gagal lolos jadi pemain pro dan merelakan mimpinya kandas:


"Kebanyakan orang selalu berpikir ‘pacaran sama pesepakbola itu pasti enak banget,’" imbuh Megan, "padahal sepakbola tak seglamor yang kita bayangkan. Kamu mungkin bisa punya rumah yang keren, bisa liburan dengan mewah, punya tas serta mobil mahal. Masalahnya, kalau pasanganmu cedera berkepanjangan atau lebih sering duduk di bangku cadangan, mereka pulang ke rumah dalam keadaan depresi dan marah-marah enggak karuan—intinya enggak glamor sekali. Bahkan bila performa pasanganmu baik-baik saja, setelah latihan tenaga mereka sudah habis. Pulang ke rumah, pasti langsung ngeloyor tidur."

Samantha Collins kini sudah menikahi James Collins, mantan pemain bertahan West Ham United. Waktu pertama kali bertemu, Samantha tidak tahu bahwa James adalah pesepakbola profesional di liga primer Inggris. "Saat itu aku masih kerja di Starbucks, umurku 18. James sering mampir, terus dia pernah ngajak temannya, Teddy Sheringham yang dulunya bermain untuk Millwal. Aku bilang 'Aku enggak ngikutin sepak bola, tapi kalau iya, aku pasti mendukung West Ham.' Hari berikutnya dia kembali datang membawakan jersey West Ham yang telah ia tandatangani. Aku enggak gitu mikirin pemberiannya sampai aku lihat James pas aku nonton FA Cup sama ayahku. Aku kepikiran 'lho, itu kan cowok yang sering masuk Starbucks dan aku sering ngobrol sama dia.' Sureal banget."

Surat kabar tabloid seringkali menjuluki WAG sebagai “gadis berlipstik” atau “pelacur Stepford,” tetapi tidak pernah membahas beban emosional yang menimpa mereka hanya karena mengencani pesepakbola. Bagi banyak perempuan, mempunyai pacar terkenal bisa sangat melelahkan secara emosional.

Pasangan perempuan terpaksa harus selalu memberi dukungan moral yang terus berkurang buat lelaki. Karena saat menginjak umur 15 tahun, penelitian psikologis menunjukkan laki-laki sering ditekan lingkungan agar "bersikap seperti laki-laki", yang artinya cowok dipaksa menyingkirkan semua hal yang dianggap feminin. Termasuk dalam hal membicarakan emosi. Tekanan sosial ini diperparah beban melakoni profesi pesepakbola, di mana 70.000 penggemar klub biasa meneriakkan namamu di stadion penuh pemujaan, atau sebaliknya, kamu jadi bahan meme sindiran selama berbulan-bulan hanya karena gagal menangkap operan rekan setim di lapangan.

Saat suami Megan bermain untuk Man United di awal-awal hubungan mereka, Will dianggap pandit sepakbola sebagai 'anak ajaib' karena gaya atletisnya yang sekilas mirip Ruud van Nistelrooy. Tragisnya, karir Will berhenti sejenak karena buah zakar selangkangan kirinya “pecah.” Tanggal 25 Februari 2016 akan terus diingat suporter Setan Merah. Malam itu Marcus Rashford, yang masih berumur 18 tahun, mencetak dua gol meloloskan Man United ke dalam babak 16 besar Europa League dengan skor 5-1. Realitasnya, Rashford tidak akan bermain jika Will tidak cedera. "Buat aku malam itu sedih-sedih-senang," kata Will kepada The Times. "Aku ikut senang buat Marcus, tapi aku udah lama banget nungguin kesempatan kayak gitu, tapi kesempatan itu hilang karena aku terluka. Aku sering kepikiran, ‘malam itu yang bersinar seharusnya aku.'"

Setelah performanya memburuk gara-gara cedera selangkangan, Will pindah ke Hull City dengan biaya 1 juta Pound Sterling. Tapi tak lama kemudian dia melukai ligamen di lutut kirinya. "Kalau pekerjaanmu dan apa yang kamu cintai adalah lari-larian sambil menendang bola, terus tiba-tiba ada yang bilang kamu harus berhenti selama satu setengah tahun, rasanya menyedihkan banget.” kata Megan, mengenang perjuangan pasangannya dulu.

Mengalami cedera memang hal yang sulit bagi pemain sepak bola dan pasangan mereka, tapi rasa sakit itu semakin diperburuk oleh kritik dari suporter yang sering tidak mau tahu. "Aku udah enggak mau buka Twitter dan membaca komentar orang sehabis pertandingan," ucap Megan. "Waktu Will cedera untuk kedua kalinya, ada suporter yang nge-tweet 'Hal terbaik yang pernah terjadi pada Hull City adalah tidak mainnya Will Keane karena cedera.' Jujur, aku kesel banget bacanya."

Selain ikut terpukul saat pasanganmengalami cedera dan dihujani kritik, bagaimana para WAG mengatasi perasaan kekasih ketika mereka tidak bermain dengan baik? Aku ngobrol bareng Alexandra Solera, yang bertemu dengan suaminya kiper Cardiff City Neil Etheridge, saat dia bekerja di klub malam. "Kami punya anjing chow-chow yang gondrong dan imut banget–kayak beruang digabung sama singa," katanya. "Aku dan anak-anak selalu menunggu di rumah Neil saat dia lagi main. Anjing kita tungguin Neil di pintu depan dan dia menghilangkan semua energi negatif. Enggak mungkin bisa marah sama Chow Chow, kan?"

Para perempuan ini pada akhirnya tetap memilih bertahan dengan kekasih mereka karena beberapa alasan, walaupun situasi seringkali menyulitkan. Klub-klub sepak bola secara aktif mendorong monogami karena menunjukkan citra stabilitas dan keseimbangan atlet mereka di mata publik. Karena ini, pemain sepak bola kerap bertahan dengan kekasih dari masa kecil sepanjang karir mereka.

Aku sempat berbicara dengan Lex Wilkinson, penyanyi berumur 17 tahun. Pacarnya, Ryan Edmondson, baru saja direkrut Leeds United. Wilkinson percaya bahwa karir sepak bola Ryan yang membaik akan membuat hubungan mereka lebih dewasa. "Beberapa teman-teman kami pacaran setiap hari, tapi kalau kita berdua lagi sibuk dan gak bisa ketemu dua minggu, ya enggak apa-apa. Kita ngomongin topik-topik dewasa. Kalau aku udah pulang sekolah dan dia udah selesai kerja, kita duduk berduaan sambil minum anggur merah."

Berkomitmen pada kekasih yang pekerjaannya begitu menantang pasti memerlukan pengorbanan. Pesepakbola profesional di Inggris, apalagi yang klubnya tembus liga primer, memang gajinya tinggi. Karena itulah kehidupan para WAG sangat dipengaruhi tempat kerja sang kekasih. Awalnya Alex bekerja sebagai perawat lansia, tapi ketika Neil ditransfer ke Cardiff, dia terpaksa berhenti kerja. "Aku enggak bisa langsung melanjutkan pekerjaanku karena aku enggak kenal daerahnya, jadi aku pikir ‘Ya, mau ngapain lagi?’ Jadi aku kembali kuliah." Sekarang Alex bekerja sebagai terapis kecantikan dan bisa membuka praktik di mana saja.

Megan menghadapi pengalaman serupa ketika dia berhenti dari pekerjaannya di sebuah perusahaan perhiasan dan gaya hidup asal Amerika Serikat. Sangat sulit baginya untuk menjalani hubungan jarak jauh dengan Will. "Aku sudah bisa cari uang sendiri sejak masih 16 tahun," katanya. "Aku senang bisa punya uang sendiri atau beli sesuatu dengan uangku. Sekarang aku sudah 26 tahun. Selama ini aku bermimpi menjadi perempuan karier. Aku enggak pernah kepikiran sama sekali mau nikah muda dan punya anak."

Menyeimbangkan tujuan hidupmu dengan pasangan bukan urusan mudah. WAG tidak selamanya perempuan berkulit putih selebor yang suka berburu tas mahal baru. Kenyataannya jauh dari itu. Para perempuan muda ini sama saja dengan orang lain di Inggris, atau di negara lainnya. Mereka sama-sama rutin putar otak mencari cara bertahan hidup, sembari mencintai pasangan, dan menikmati proses jatuh bangun bersama saat membina hubungan tersebut hingga jenjang yang lebih tinggi. Sekadar menganggap WAG sebagai cewek matre brengsek, seperti kelakuan media di Inggris, jelas sebuah kesalahan fatal.


Follow penulis artikel ini di akun @annielord8

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK.