Pengembang Game Bikin Casting Kayak di Film Untuk Karakter yang Kita Mainkan Lho

Contohnya yang dilakukan Ubisoft saat mempersiapkan 'Far Cry 5'. Game ini lebih hidup berkat akting pemeran manusia sungguhan sebagai karakter-karakter di dalamnya.

|
11 April 2018, 9:43am

Foto poster promosi Far Cry 5 diunggah seizin Ubisoft. Sosok sang pendeta maniak (tengah) di game itu berdasarkan aktor sungguhan.

Catatan: Sembari membaca artikel ini kamu mungkin berpikir, “hmm apakah VICE diundang Ubisoft ngobrol-ngobrol sama pembuat Far Cry 5?” Jawabannya, betul. Mereka ngasih saya bir gratis dan kami bersenang-senang, tapi selain itu tidak ada lagi. Saya menulis artikel ini bukan karena dibayar, melainkan karena tertarik pada makin tipisnya batasan game dan film.


Pada 1983, sebuah game Atari dirilis menampilkan sulih suara pertama dalam video game. Game ini disebut Sinistar dan mencakup suara digital penyiar radio bernama John Doremus. Suara itu berseru, “I am Sinistar! Run coward!” Meski sekarang kalian mungkin kaget karena merasa kemahalan, faktanya saat itu kompresi suara digital bernilai US$1,000 per kata.

Kini, pada 2018, video game tak hanya menampilkan suara-suara, melainkan penampilan aktor sungguhan yang dirender jadi CGI, sebagai karakter yang bisa kalian mainkan. Ini adalah pencapaian yang diraih lewat teknologi motion capture, dan juga berkat perusahaan-perusahaan yang mencoba mengikuti konvensi film.

Game modern adalah dunia imersif yang dipenuhi oleh karakter-karakter penuh nuansa, motivasi, dan latar belakang kisah yang rumit. Pada 2018, narasi sebuah game sama pentingnya dengan permainannya. Sehingga aktor-aktor utama seperti Samuel L. Jackson, Ellen Page, dan Elijah Wood sempat dikasting untuk model karakter video game, meresmikan perkawinan antara industri game dan sinema.

Tentunya bermacam perubahan ini juga mengarah pada pergeseran ekspektasi. Game tak lagi bisa lolos jika karakternya didasarkan pada akting buruk. Alhasil kasting pemain semakin menjadi tahapan yang serius—hal ini diperjelas lewat peluncuran Far Cry 5 oleh pengembang Ubisoft pada 2018. Game andalan mereka itu tahun ini dirilis sekalian sama trailer versi live action-nya, seperti bisa kalian lihat berikut.

Kamu mungkin familiar sama franchise FPS ini. Far Cry menempatkan gamer di lokasi-lokasi hutan belantara. Tugas gamer cuma satu: berperang habis-habisan supaya lolos dari masalah. Cerita Far Cry 5 berawal dari misi kepolisian yang gagal menangkap pemimpin kultus gereja hari kiamat. Lelaki mengaku inkarnasi Kristus itu menyebut dirinya Father. Pemain harus menuntaskan sekian misi, berperang melawan anak buah Father, supaya bisa keluar dari satu kota yang dipenuhi pengikut kultus kiamat, sekaligus (kalau sukses) menangkap pemimpinnya.

“Semua plot game ini bergantung pada adanya sosok karakter laki-laki jahat,” ujar Dan Hay, selaku produser eksekutif Far Cry 5. “Supaya bisa membangun kultus yang realistis, kami perlu pemimpin kultus yang sangat realistis—dan kebutuhan itu hanya bisa diperoleh kalau kami mendapat aktor yang tepat memerankannya sepanjang durasi game.”

Adegan lain dari game Far Cry 5

Dan memaparkan kesulitannya saat mencari model karakter Father. Menurutnya, Father bukan tokoh antagonis jahat dalam definisi tradisional. Sebaliknya, dia seseorang yang percaya tindakan imoral, seperti membunuh dan menjarah, dibenarkan jika ada tujuan yang lebih agung. Dengan cara inilah Father memiliki banyak sifat kepribadian, termasuk karisma, yang memikat penduduk kota kecil menjadi anak buahnya.

“Saya seumur hidup enggak pernah tergabung di kultus apapun,” ujar Dan. “Dan kesulitan yang saya alami adalah seseorang bisa meyakinkan saya untuk bergabung dengan kultus mereka. Saya jarang menemukan orang yang karismatik begitu, jadi menemukan aktor yang cukup meyakinkan untuk memeranka Father adalah tugas sulit.”

Dan mendeskripsikan bagaimana timnya melalui ratusan pendaftar, tapi tak juga menemukan aktor yang cocok. Karakter-karakter lain sudah menemukan aktornya, dan dengan mudah, tapi belum ada yang bisa mengisi karakter Father. “Orang-orang mulai bertanya-tanya, ‘Apakah kita akan menemukan orang yang cocok? Kapan nih?’ maka saya bilang, ‘Ya, jangan khawatir. Ntar ketemu kok, bakal ketemu kok.’ Padahal dalam hati saya sempat berpikir, ‘Duh apakah kami dalam masalah?’”


Simak ulasan singkat dari situs game VICE (namanya Waypoint) saat menjajal Far Cry 5 pertama kali:


Akhirnya Dan mendeskripsikan aktor Kanada bernama Greg Bryk yang memiliki potensi. “Greg memiliki cara komunikasi menarik. Kerennya lagi dia tak terlalu sering berkedip. Dalam 30 detik saya berpikir, ‘Oke, kayaknya laki-laki ini bisa meyakinkan orang macam saya untuk bergabung ke sebuah kultus.’”

Jadi bagaimana performans seorang aktor menjadi digital? Dan menjelaskan proses ini adalah menerbangkan Greg ke fasilitas motion picture Ubisoft di Toronto, membungkus badannya dengan penanda, lalu membuatnya berakting adegan-adegan dalam game sambil dikelilingi kamera. Dengan begitu, gerakan-gerakannya diukur. Seluruh akting Greg diubah menjadi sekumpulan satu dan nol, bagian dari programming Far Cry 5.

“Greg sering mengembangkan hidungnya dan melakukan banyak hal aneh dengan mulutnya,” kata Dan. “Makanya kita harus merekam semua data itu dan menyerahkannya pada animator berbakat sambil bilang, ‘OK sekarang jadikan ini platinum.’”

Setelah bertemu Dan, VICE menonton sebuah video promosi dari Ubisoft. Ini adalah sebuah vignette dari gamenya, menampilkan Father yang membaptis pengikutnya di sebuah air terjun. Kami menyaksikan seorang perempuan muda berlutut, dan Father mendorongnya ke belakang sebelum memasuki sejenis trance.

Setelah dia tersadar, menit-menit telah berlalu, dia mendapati ternyata dia telah tak sengaja menenggelamkan salah satu pengikutnya sampai tewas. Tanpa jeda, Father mengangkat tangannya ke atas sehingga tubuh perempuan itu sampai terbawa arus.

Begitulah hasil akhirnya. Ini memang video game, tapi rasanya pemain seperti berada dalam adegan sebuah film.

Far Cry 5 kini bisa dimainkan di PlayStation 4, Xbox One, dan Microsoft Windows