Iklan
media sosial

Kultur Meme Membuat ABG Jadi Tertarik Sama Marxisme

Tapi akankah meme membuat mereka tertarik menamatkan Das Kapital?

oleh Hannah Ballantyne
20 Desember 2017, 4:51am

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.

Di tahun terakhirnya di bangku SMA, Myles dipilih sebagai “Comedian of the Year,” sebuah penghargaan yang dia terima sebagai admin halaman meme Facebook sekolahnya. Berdasarkan kurasinya, lelucon-lelucon internal dan gosip merajalela, membuatnya dihadiahi gelar tersebut.

Kini berumur 18 tahun dan tengah mempelajari jurnalisme, Myles adalah bagian dari gerakan remaja dunia yang hobi menciptakan dan berbagi meme politik kekirian di Facebook, Reddit, dan Tumblr. “Saya suka bagaimana meme bisa secara cemerlang menjelaskan isu politik besar secara sederhana,” kata Myles.

“Jelas meme bukanlah satu-satunya bentuk keterlibatan politik, tapi mereka kadang bisa menjelaskan dan mengajak orang muda masuk ke diskusi. Saya pernah melihat sebuah meme keren dari Sassy Socialist Memes yang menunjukkan kritik kritis terhadap rasionalisme ekonomi.

Images courtesy of Facebook/SassySocialistMemes

Ada banyak percekcokan dan kritik terhadap penggunaan meme di arena politik; beberapa pihak merasa meme mengandung terlalu banyak ironi, atau rentan mengapropriasikan teori ke luar konteks. Di sisi sebaliknya, seperti yang disebutkan Myles, mereka membuat teori politik lebih mudah dicerna. Meme juga aksesibel dan demokratis: para pencipta meme membuat konten sesuai keinginan mereka, dan secara tidak langsung merebut “alat produksi.”

“Banyak orang tidak memiliki waktu untuk menulis artikel atau menjadi stand-up comedian untuk bisa masuk ke dalam percakapan politik,” ujar Susie, 18 tahun, seorang pelajar sastra Inggris dan aktivis LGBT. “Tapi banyak orang punya waktu untuk membuat meme.”

“Lagipula, banyak kultur meme politik yang saya ikuti memasukkan hal-hal yang sudah saya pahami, atau nilai yang saya pegang, jadi rasanya seru memiliki semacam gurauan internal dengan banyak orang—dan inilah salah satu serunya meme.”

“Sama seperti kartun politik, yang dimulai dua abad lalu di 1850-an oleh majalah Punch, meme politik adalah cara orang untuk melihat politik dengan penuh rasa curiga, dari sudut pandang nyentrik, dan ini menyenangkan,” tulis Profesor Marshall dari Deakin University. “Mereka menawarkan hubungan pribadi dan cara untuk menunjukkan ketertarikanmu dalam sebuah isu dari sudut pandang yang berbeda.”

James*, 27 tahun, adalah admin dari Crunchy Continental Memes, sebuah halaman meme filsafat kekiri-kirian di Amerika Serikat. “Kalau ada pelajaran yang bisa diambil oleh orang muda atau aktivis yang mengunjungi halaman kami, adalah bahwa filosofi kontinental bukanlah sekedar abstraksi akademis,” ujarnya. “Kultur meme ini bisa menginformasikan dan memperteguh praktek politik kiri secara vital.”

Kadang isu meme bertentangan dengan sudut pandang pribadinya. “Ketika kamu seorang admin, kamu tidak memandang orang sebagai individual, tapi sebagai potensi konsumen untuk kontenmu.” Tapi Susie (bukan admin) tidak khawatir soal ini. “Ngetag seseorang di meme membantu memulai percakapan,” jelasnya via Facebook. “Ya sepertinya sekarang meme adalah pembuka percakapan, dan itu rasanya sudah lumayan.”