Penelitian Menyimpulkan Anjing Tak Segan Berbohong Supaya Keinginannya Dipenuhi

Anjing memang sahabat terbaik manusia. Tapi mereka tak seloyal yang kita bayangkan.

|
21 Maret 2019, 8:03am

Foto ilustrasi anjing manipulatif oleh Boris Jovanovic via Stocksy 

Sebuah penelitian dari 2017 yang terbit di Jurnal Animal Cognition menyimpulkan bila anjing peliharaan mampu membohongi kita sebagai majikan. Mereka tidak seloyal yang dibayangkan manusia.

Peneliti dari Swiss ingin mengamati kemungkinan anjing menipu manusia demi mendapatkan apa yang mereka inginkan. Pertama, mereka melatih anjing (27 anjing berbagai jenis, antara usia 1,5 dan 14 tahun) membedakan dua 'majikan' perempuan berdasarkan kesediaan manusia tersebut membagi makanan. Satu perempuan akan dikesankan “koperatif”, karena ia siap membagi makanan dengan anjing. Sementara perempuan lainnya berakting sebagai sosok “kompetitif” karena ia memperlihatkan makanan kepada anjing, tapi tidak membaginya. Ketika kemudian diuji, para anjing ternyata lebih memilih perempuan yang kooperatif.

dogs-are-sneaky-liars-study-says-body-image-1489516286

Foto ilustrasi oleh Denise Rosser via Flickr

Dalam penelitian ini, anjing diajarkan cara mengarahkan salah satu dari kedua perempuan tadi menuju ke arah makanan. Mereka mengamati sosis (makanan kesukaan mereka) dan biskuit anjing dimasukkan ke dalam dua kotak identik, yang diletakkan di lantai bersama kotak ketiga yang kosong.

Selama uji coba, para anjing disuruh melakukan gerakan yang bisa dimaknai "kasih lihat saya makanannya." Mereka mengarahkan pasangan manusia menuju ke salah satu kotak yang ada di lantai. Mereka diuji dua kali dengan pasangan koperatif dan dua kali dengan pasangan kompetitif. Si pasangan koperatifnya memberi makanan yang berada di dalam kotak kepada anjingnya (jika tidak kosong), dan pasangan kompetitifnya menyimpan makanan tersebut.

"Setelah membandingkan perilaku anjing terhadap pasangan koperatif dan kompetitif, kami menemukan interaksi antara hari ujian dan peran pasangan mengarahkan mereka menuju ke box yang mengandung makanan," demikian kesimpulan tim peneliti. "Pada kedua hari ujian, para anjing cenderung lebih memilih mengajak pasangan kooperatif menuju ke kotak yang berisi makanan, dan sikap ini semakin jelas pada hari kedua uji coba."

Sederhananya, lebih dari setengah anjing yang diuji sadar bahwa mengajak orang kompetitif ke box yang mengandung sosis tak menguntungkan mereka sama sekali. Dua anjing, Arwen dan Nelson, saking pintarnya hanya mau mengarahkan pasangan kooperatif untuk memperoleh sosis. Mereka tak mau berinteraksi dengan pasangan yang kompetitif. Baxter, Cicca, Barni, dan Caju, anjing lain dalam penelitian ini, juga tidak mengajak pasangan kompetitif, tetapi mereka kurang konsisten mengajak pasangan kooperatif.

Makanya tim peneliti menyimpulkan bila anjing mampu menyesuaikan perilaku mereka dan menggunakan manipulasi taktis; mereka memahami jika tindakan mereka mempengaruhi perilaku manusia.

"Dari sudut pandang si anjing, ia secara cerdas memanipulasi skenario untuk menguntungkan dirinya."

Elisha Stynchula, pelatih sekaligus pemilik sekolah anjing "I Said Sit!" di Los Angeles, mengapresiasi ada penelitian seperti ini. Ia berkata penelitian tersebut membuat manusia wajib memikirkan niat anjing kita. “Meski sampelnya kecil dan hanya mewakili skenario buatan, saya menganggap kesimpulannya valid. Tapi saya tidak menganggap anjing suka berbohong dan menipu," ujarnya saat dihubungi Broadly. "Lebih tepatnya, anjing merupakan hewan yang sangat cerdas. Anjing sangat termotivasi untuk melakukan apa yang paling menguntungkan mereka. Sebab itu, anjing sangat muda dilatih."

Gagasan anjing mampu memanipulasi situasi demi mendapat apa yang mereka inginkan sebenarnya bukan hal baru. Stynchula mengaku di rumah anjingnya sering merayu suaminya, seakan-akan belum dikasih makan malam. "Kebiasaan itu selalu muncul tiap suami saya pulang sehabis saya kasih dia makan. Anjing saya pintar dan suka banget makan, jadi dia mencoba mendapatkan dua kali makan malam."

Berdasarkan skenario penelitian ini, akan muncul kesan anjing suka berbohong. Namun, Stynchula mengajak masyarakat memandang persoalan tersebut dari sisi si binatang. "Dari sudut pandang si anjing, ia secara cerdas memanipulasi skenario untuk menguntungkan dirinya."

Pertanyaannya kini, haruskah pemilik anjing memperhatikan perilaku peliharaan mereka jika dirasa mulai suka memanipulasi? Menurut Marianne Heberlein, penulis utama penelitian tersebut, jawabannya memang harus.

"Anjing itu tetaplah hewan yang setia dan penuh cinta kasih," ujarnya kepada Broadly. "Namun, penelitian kami menunjukkan bila anjing, seperti hewan-hewan lain, akan selalu berusaha menguntungkan dirinya sendiri. Tampaknya mereka tahu apa yang mereka inginkan, dan mampu memanipulasi manusia untuk mencapai tujuan tersebut."

Makanya, Heberlein menyarankan para pemilik anjing agar lebih "berhati-hati dan harus bijak ketika menghadiahi anjing peliharaan pakai makanan." Sebab ada kemungkinan perilakunya yang sok imut dan manis di hadapan kita telah dipalsukan.

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly