That Was Easy

Tips Terbaik Buat Para Pengecut Supaya Tak Cedera Saat Dijotos di Kepala

Beginilah pengalamanku dipukuli atlet pro MMA Jakarta. Tips ini pasti bisa kalian terapkan. Beneran deh. Aku yang dari dulu menolak kekerasan, langsung menguasai ilmu brilian ini.

oleh Muhammad Ishomuddin
07 September 2017, 6:49am

Semua foto oleh Bambang Noer Ramadhan.

Aku punya kenangan buruk gara-gara berantem. Saat itu aku masih SD. Aku berkelahi sama teman sekelas. Kami berkelahi di belakang sekolah. Dia kutonjok tepat di muka beberapa kali, sampai babak belur. Apakah aku senang? Sama sekali enggak. Temanku itu lapor ke orang tuanya. Mereka marah-marah ke ayah dan ibuku. Aku dihukum tak boleh keluar rumah seminggu lebih. Aku diancam akan dilaporkan ke polisi. Aku menangis sepanjang hari, setelah orang tuaku marah besar. Sejak itu aku bersumpah tak akan pernah lagi melayangkan tinjuku ke wajah orang lain. Kapok. Aku tak mau lagi berantem. Aku berikrar menjadi manusia pasifis. Sampai SMA, aku melewati masa remaja sekuat mungkin tanpa memicu masalah. Pernah aku dikeroyok sampai bonyok oleh kakak kelas, tapi aku memilih diam saja. Kawan-kawan menyebutku pengecut. Aku tak peduli.

Namaste!

Sayang, makin dewasa, makin mustahil aku menghindari jalan kekerasan. Aku kuliah di Bandung. Satu hari, di jalur Taman Makam Pahlawan, angkot yang kutumpangi menyalip sesama angkot demi berebut penumpang. Sopir angkot yang didahului tak terima. Dia segera menyerempet mobil yang kutumpangi, memaksa sopir di depanku mengerem. Tak berapa lama, bogem mentah meluncur menghantam sang sopir nahas. Sopir yang dipukul sudah diperlakukan tidak adil. Tapi aku tak bisa melakukan apa-apa. Aku terlanjur berikrar menjadi pasifis.

Di kantor, aku sering merenungkan prinsipku menghindari kekerasan.

Sekian bulan belakangan aku pindah ke Jakarta. Kondisi jalanan di ibu kota ini begitu menyeramkan, jauh lebih parah daripada Bandung. Orang berkelahi di pinggir jalan, hanya karena perkara sepele, biasa terjadi. Tiap malam barangkali. Tindak kejahatan di Jakarta bahkan lebih tinggi dibanding kota-kota besar lain.

Aku jalan kaki ke mana-mana selama di Jakarta. Tiap membaca koran kuning soal perampokan di jalanan, pikiranku makin tak tenang. "Perlukah aku belajar bela diri?"

Lalu terbersit ide di kepalaku. Ide belajar bela diri tanpa harus menggadaikan prinsipku yang menolak kekerasan. Bisakah aku belajar teknik terbaik agar tidak cedera saat dipukuli seseorang? Mungkinkah ada teknik semacam itu? Tampaknya aku harus belajar langsung ke orang yang sudah mahir dalam olahraga MMA (Mixed Martial Arts).

Saat keliling Jakarta Selatan, aku melihat satu sasana latihan bela diri di Jalan Daksa, Kebayoran Baru. Di baliho luar bangunan, terpampang keterangan bermacam seni bela diri yang diajarkan di sana; mulai dari muay thai, tinju, serta brazilian jiu jitsu. Nah, mungkin inilah waktunya aku sedikit melonggarkan prinsip pasifis.

Suasana sasana bela diri MMA di Kebayoran Baru.

Di sasana itu, aku disambut ramah Sulistyono. Lelaki 28 tahun ini tak terlalu kekar. Cenderung ceking malah. Siapa sangka, dia ternyata sudah pro dalam dunia MMA. Sulistyono meraih sabuk emas dari kompetisi MMA di Rembang 12 Juli lalu. Berbeda dariku yang tak becus (dan tak mau) menjotos seseorang, Sulistyono sejak SMP di kota kelahirannya, Semarang, sudah aktif mempelajari bermacam bela diri. Kami basa-basi sejenak, sampai kemudian aku menyampaikan niat utama.

"Kang, punten, kalau boleh saya mau ngerasain ditonjok di muka," ujarku pada Mas Yono, panggilan akrabnya, tanpa tedeng aling-aling.

Raut Mas Yono terkejut. Sejurus kemudian, dia berkomentar, "Yakin? Buat apa?"

"Buat cari pengalaman aja kang, gimana rasanya ditonjok sama orang yang sudah pro. Biar tahu ke depannya kalau ada yang tiba-tiba pengen ngelukain, saya tahu harus gimana."

"Ya sudah, besok kita sparring. Datang lagi sore ya. Lebih enak sore karena kalau kemaleman udah rame banget orang latihan tinju," balas Mas Yono.

Aku berlatih push up pakai satu tangan di atap kantor. Meniru film-film kung fu.

Adrenalinku menggelegak. Setelah lebih dari 10 tahun, tubuhku akan mengalami lagi kekerasan. Aku memang tidak minta diajari cara berkelahi, aku hanya ingin Mas Yono memberiku tips terbaik menerima pukulan. Tapi tidak mungkin aku besok berangkat tanpa persiapan. Aku memutuskan latihan fisik di kantor, di sela-sela pekerjaan.

Lari bolak-balik tangga darurat juga kulakukan. Semua demi latihan dijotos di kepala.

Keesokannya, aku datang lagi lewat jam tiga sore. Sulistyono tertawa kecil melihatku benar-benar datang. Dia meminta pemanasan lebih dari 10 menit, gerak badan kecil-kecil aja. "Tadi enggak makan sebelum ke sini kan?" tanyanya.

Perasaanku mulai tidak enak.

"Hmm, enggak sih mas." Aku bohong dikit. Tadi siang makan di warteg sama teman-teman. Kenapa tiba-tiba ditanya beginian. Ditonjok bisa bikin aku muntah gitu? Ah elah Mas Yono ga bilang dari kemarin…..

Aku kembali pemanasan sebelum digebuki Mas Yono.

Selesai mengikuti pemanasan, aku mempersiapkan diri pakai sarung tinju dan pelindung kepala. Ternyata Sulistyono tak mengizinkanku ditonjok tanpa pelindung. "Aku kasih tahu ya, yang sudah pro aja bisa kolaps kalau dipukul beneran di kepala, apalagi kamu."

Aku masih sayang nyawa. Jadi aku menurut saja sama perintahnya. Sulistyono menjelaskan satu prinsip penting bila seseorang ingin melindungi diri dalam kontak fisik: gunakan tanganmu.

Aku diberi sedikit teori melindungi diri.

Tak cuma buat menonjok, tangan itu penting juga melindungi kepala. Lalu dia mengajarkanku mengangkat tangan dengan posisi double cover, sehingga wajah tak otomatis kena bogem mentah. Double cover ini juga penting diarahkan melindungi perut. Wajah dan perut itulah minimal yang harus kita lindungi saat dihajar orang.

Tibalah saatnya. Ronde pertama belajar dipukuli dimulai.

Aku hanya bisa pasrah kepada Tuhan YME sebelum memasuki arena.

Sulistyono tanpa ragu memukuliku dari segala arah. Dia sengaja mengarahkan tinjunya ke perut dan muka beberapa kali. Satu ronde sparring itu sebetulnya cuma berlangsung dua menit. Rasanya kayak dua jam.

Dipukul lagi dan lagi dan lagi.

Pukulan datang tanpa henti. Untung Sulityono niatnya mengajari, dia memukul tetap dengan pertimbangan aku belajar menangkisnya.

Selesai ronde pertama, aku diberi kesempatan satu menit rehat. Aku langsung minum dan mengatur nafas, tanganku gemetaran karena menerima pukulan-pukulannya yang kutangkis agar tidak mengenai muka dan perut.

Aku cuma bisa minum buat mengurangi rasa linu di kedua tangan.

Ronde kedua dimulai.

"Buk," hantaman Sulistyono telak mengenai pipi kiriku di percobaan pertama. Aku tertegun sesaat. Pelan-pelan rasa sakit itu menjalar. Lalu, aftertaste setelah beberapa detik, kepalaku pusing. Ah, jadi beginilah rasanya ditonjok beneran. Untung aku menaati saran Mas Yono tadi. Mungkin aku langsung ambruk kalau tak pakai pelindung kepala.

Sakit Njing. Kok ada yang suka ya berantem?!

Mas Yono memberiku peluang memukul balik. Beberapa anggota sasana yang nonton sedari tadi riuh menyemangatiku ganti menjotosnya. Semangatku naik. Maaf tangan, aku akan memakaimu untuk memukul seseorang.

BGST. Ternyata setelah tanganku mengarah ke wajahnya, aku segera dijatuhkan. Yono melakukan kuncian kaki ke leherku. Aku kehabisan nafas.

Mas Yono menerkamku dari bawah, serupa harimau menerkam kambing lemah.

Ronde kedua berakhir. Tuhan Pemilik Semesta Alam, aku memikirkan ulang makna hidup selama istirahat antar ronde. Ngapain sih aku berada di sasana MMA sore ini, membiarkan tubuhku dipiting mas-mas????

Apa makna hidupku ini?

Berlanjut ke ronde tiga, ronde terakhir kesempatanku sparring bersama Mas Yono. Dia mempersilakanku meninju wajahnya. Aku sempat ragu, takut dipiting lagi. Ah bodo amat. Kulayangkan tinju. Kali ini dia tidak memiting, tapi menghindar cepat ke samping. Gerak kakinya lincah sekali. Perkara kaki ini, dari contoh yang diperagakan Yono, akan sangat menolong ketika kalian dijotos orang. Setidaknya, tidak langsung kena muka yang bisa bikin kita kehilangan orientasi. Tak cukup cuma menghindar, Yono ternyata kembali memanfaatkan kepolosanku.

Setelah kaki geser ke kiri, tangan kanannya langsung melesat, menghantam keras tepat ke mukaku. Saat itu juga aku merasakan pusing dan linu sekujur kepala. Sudah bagus aku enggak nggeblak di matras.

Dipukul telak sekali lagi. BGST.

Cukup Mas Yono, Cukup. Aku menyerah!!! Dipukul di kepala tidak enak. Mas Yono berusaha menghibur. Dia bilang aku sudah melakukan yang terbaik. Palsu banget mas.

Selesai sparring, aku membahas pengalaman dipukuli tadi bersama Yono. Kami ngobrol soal peluangku, atau orang-orang lain, menghindari cedera jika sampai terlibat adu jotos di jalanan. Dia mengingatkan, elemen utama perkelahian jalanan adalah ketiadaan kontrol. Seringkali, mutu pukulan dalam kompetisi bela diri sebetulnya jauh lebih menyakitkan dibanding bogem yang dilepas bocah sedang tawuran.

Penghiburan Mas Yono tidak membuatku bahagia sama sekali.

"Tadi saya mukul kamu dengan tenaga belum seberapa, beda lagi kalau sedang kompetisi," ujarnya. Hah, syukurlah.

Yono menambahkan, setidak-tidaknya, upayakan melindungi wajah dan perut. Apapun caranya. Itu prinsip dasar bela diri tanpa menyerang balik. Sebab, dari semua organ tubuh, kepala terutama sangat fatal bila dibiarkan terbuka menerima pukulan. Jika memang mau belajar sungguhan, bermacam seni bela diri punya trik masing-masing untuk meminimalisir dampak merusak pukulan lawan kita. "Ada teknik menghindar, teknik ngeblok, terus kalau dipukul balasnya seperti apa, semua ada tekniknya," kata Yono.

Dia menawariku berlatih lebih serius supaya bisa makin mahir menghindari pukulan merusak di kepala, sesuai tujuan awalku. Tapi aku gentar. Aku tak tahu malu balik bertanya, masih adakah trik lain supaya aku bisa selamat dari perkelahian tanpa harus menguasai seni bela diri? Jawaban Yono mengejutkanku.

"Jika bertemu dengan orang arogan yang mengajak adu jotos di jalanan, ya ga usah ditanggapi, ga ada gunannya buat kita. Udah tinggalin aja selagi kita masih bisa mengontrol emosi," ujarnya. "Orang yang sudah mengenal bela diri itu semakin humble, semakin sederhana, semakin rendah hati."

Mukaku pakai pelindung aja masih bengep. Kayak gini disuruh latihan lagi? Makasih deh.

Ya ampun, ternyata prinsip pasifisku selama ini sudah memadai untuk membela diri. Dibanding repot-repot menerima jotosan di kepala, menjadi pengecut rupanya jalan terbaik mengarungi hidup yang penuh kekerasan ini. Jauh lebih aman daripada dipukul tepat di wajah.

Terima kasih Mas Yono. Dengan begini aku semakin mantab mendalami jalan hidup yang bebas kekerasan.

"That Was Easy" adalah seri artikel di VICE. Penulis kami akan mencoba skill-skill baru yang sulit dan tak biasa dipelajari orang. Kalian punya ide tim kami harus belajar apalagi? mention saja Twitter kami jangan lupa beri tagar "#thatwaseasy."