Kamboja

Nestapa Perempuan Dipenjara dan Dideportasi ke Negara Yang Tak Pernah Dia Datangi

Ny Nourn dituduh terlibat pembunuhan berencana di Kamboja. Dia dipenjara 16 tahun, lalu akan dideportasi ke negara itu. Padahal dia tak pernah ke Kamboja Kasus ini potret kacaunya sistem peradilan Negeri Paman Sam.

oleh Victoria Law
15 Agustus 2017, 8:26am

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly.

Ny Nourn pertama kali merasakan kebebasan kembali, setelah dipenjara selama 16 tahun, di belakang Van inventaris Badan Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE). Nourn bahkan belum bisa melangkah keluar sampai borgol di tangan dan kakinya dilepas oleh agen ICE.
Nourn masih ingat dengan jelas pepohonan, rumput dan langit yang dia lihat dari jendela Van selama tiga jam perjalanan dari Penjara Perempuan California Pusat menuju Penjara Daerah Youba.

Di penjara ini, tahanan ICE mendekam berdasarkan sebuah kontrak tertentu. "Aku gembira bukan kepalang karena akhirnya bisa meninggalkan penjara," ucapnya lewat sambungan telepon dari penjara. "Tapi, kenyataannya, aku belum bebas, aku masih akan ditahan."

Pada 2003, Nourn divonis bersalah karena ambil bagian dalam pembunuhan yang digagas kekasihnya kejam waktu itu. Bertahun-tahun lamanya, peristiwa itu digambarkan oleh media massa sebagai "cinta segi tiga yang kacau balau." Kekasih Nourn membedil atasan Nourn lantaran pernah tidur dengan Nourn. Dalam prakteknya, Nourn memang ikut memfasilitasi niat jahat kekasihnya, setidaknya begitu yang dipercaya terjadi. Namun, Nourn dan tim pembela terbarunya kembali dengan cerita yang benar-benar baru: Nourn‚ masih remaja ketika pembunuhan terjadi, terperangkap dalam hubungan yang kasar dengan seorang pria. Kekasihnya ini berumur dua kali usia Nourn. Di malam jahanam itu, Nourn mengaku ketakutan dibunuh jika menuruti apa yang dikatakan kekasihnya.

Kini, kendati sudah mendapatkan kebebasan bersyarat, perempuan berumur 36 tahun ini akan dideportasi ke Kamboja setelah status pemegang green card-nya dicabut. Masalahnya, Nourn tak pernah menginjakkan kaki di Kamboja.

Nourn akrab dengan kekerasan sejak lahir. Tahun 1980, Nourn dilahirkan di sebuah kamp pengungsi di Thailand. Ibunya baru saja kabur dari Kamboja. Lima tahun berselang, Nourn dan Ibunya sampai ke AS sebagai pengungsi dan menetap di Florida. Setahun kemudian, mereka pindah ke San Diego. Di tempat inilah, Ibu Nourn bertemu lelaki yang kelak menjadi ayah tirinya.

Menurut Nourn dan banyak ahli psikologi yang mempelajari dokumen persidangan, laporan polisi dan video, hubungan antara ayah tiri dan ibunya kental dengan kekerasan fisik, seksual dan verbal. Ayah tiri Nourn kerap mengancam mendeportasi sang Ibu jika nekat menghubungi polisi.

Nourn saat masih remaja. Foto dari arsip pribadi Ny Nourn

Pada gilirannya, Nourn mengenang ibunya kerap melakukan kekerasan fisik dan verbal padanya. Sang Ibu kerap berkata "Aku harap kamu tak pernah dilahirkan" atau "Harusnya kamu, aku tinggal di Thailand saja." Apa yang dilihat Nourn di rumahnya jadi semacam cetak biru hubungan orang dewasa yang kerap dijalinnya. "Aku enggak akan mau dipukul seorang laki-kali," ujarnya dalam beberapa sambungan telepon dengan Broadly, "masalahnya, aku tak pernah tahu pemicunya."

Di umur 16 tahun, Nourn menenmuan dunia kencan online. Ini jadi pelariannya dari kekerasan di rumah. "Di dunia maya, kamu bisa jadi orang macam apapun," akunya. Setahun berselang, Nourn bertemu Ron Barker yang berumur 34 tahun. Mereka mulai kencan dan melakukan hubungan intim, namun dalam jangka beberapa bulan, Barker mulai menampakkan tabiat aslinya, ujar Nourn. Barker menjadi seorang pria yang manipulatif dan posesif. Dia membatasi pergerakan Nourn dan berusaha mengisolasi Nourn dari kawan-kawannya. "Dia bilang aku selalu diawasi dan diikuti kemanapun," ujarnya. "Waktu itu sih aku cuma mikir 'cowok ini perhatian banget. Dia benar-benar sayang sama aku.'"

Namun, tabiat Barker makin mengganggu, menurut keterangan yang diberikan Nourn pada psikolog pengadilan, dewan pengampunan bersyarat dan Broadly. Barker mulai memanggil Nourn dengan kata-kata kasar dan sering mengangkat tangan seakan ingin memukul Nourn. Barker juga sering menyelinap ke rumah Nourn saat kedua orang tuanya tak di rumah. Olehnya, Nourn dirayu untuk menggunakan kartu kredit ayahnya hingga menunggak hutang puluhan ribu dollar. Barker mengancam menghabisi nyawa Nourn jika berani mereka putus. Layaknya korban hubungan penuh kekerasan, Nourn mengganggap dirinya yang bersalah. Pikiran macam "Mungkin ini salahku. Aku bukan pacar yang baik" kerap datang. Nourn masih ingat betapa malunya Nourn menceritakan hubungannya dengan Barker, apalagi kekerasaan yang dialaminya, pada orang lain.

Tak lama setelah menginjak usia 18 tahun, Nourn mulai bekerja sebagai seorang telemarketer sebuah layanan kencan. Ketika bosnya, lelaki 38 tahun bernama David Stevens, bilang suka padanya, Nourn berpikir bahwa tidur dengan sang bos tak bakal jadi bencana selama Barker tak tahu. Suatu malam, Nourn pergi ke apartemen atasannya. Keduanya lantas bersenggama. Tatkala kembali ke rumah, Barker sudah menunggunya. Nourn mengaku baru saja berhubungan intim dengan lelaki lain. Mendengar ini, Barker kalap, memukuli, memperkosa dan mengacam akan memutuskan Nourn. Itulah pertama kali Barker memukul Nourn. (Broadly tak bisa menghubuni Barker yang kini menjalani hukum seumur hidup di California.)

Kalut Barker akan makin kasar jika Nourn setuju mereka bubaran, Nourn memohon Barker untuk tidak meninggalkan dirinya. Barker mengatakan satu-satunya agar mereka bisa impas adalah dengan membunuh Stevens. Di depan polisi, Nourn mengaku dia berpikir akan dibunuh Barker jika tak menuruti rencananya. "Aku benar-benar pasrah," tutur Nourn lewat telepon. "Dia tak mengizinkan aku keluar mobil sampai aku setuju. Dia sudah memukuli dan memerkosaku."

Barker memerintahkan Nourn untuk bilang pada bosnya bahwa mobilnya mogok dan dia butuh bantuan. Setelah Nourn dan Stevens meninggalkan apartemen, Barker menguntit keduanya. Dia menghadang mereka, mengaku sebagai saudara laki-laki Nourn. Barker menembakkan 2 butir pelor ke kapala Stevens dan membakar mobilnya.

"Aku enggak akan bunuh kami selama kamu nurut," ucap Barker setelah menghabisi. "Kalau kamu cerita orang lain, aku akan bunuh kamu dan keluargamu. Kamu tahu aku bisa ngapain aja kan?" Takut karena ancaman ini, Nourn bungkam selama tiga tahun sebelum akhirnya melapor ke polisi. Pihak berwenang lantas menggelandang Barker dan Nourn. Pengacara Nourn pertama mundur dari kasus ini setelah diancam oleh Barker. Ini tercatat dalam dokumen pengadilan. Barker bahkan berusaha menyewa orang untuk menculik keluarga Nourn guna memaksa Nourn mengaku sepenuhnya bertanggung jawab atas kematian Stevens.

"Aku sebenarnya merasa sangat gembira bisa keluar penjara. Tapi, faktanya, aku tetap saja belum bebas."

Keduanya disidang terpisah. Di pengadikan, Barker mewakili diri sendiri dan menyangkal semua tuduhan. "Bukan aku yang yang melakukan pembunuhan ini," ujarnya di hadapan juri. Barker berdalih luka bakar di lengannya didapat karena hobinya bikin barbekyu bukan lantaran membakar mobil Stevens. Dalam pernyataan penutupnya, Barker tak sekalipun menyebut nama Nourn. Barker menyanggah pernah membunuh atau menyakiti seseorang. Satu-satunya kesalahan yang dia akui adalah berbuat serong tanpa sepengetahuan istrinya.

Pada 2003, Nourn diputuskan bersalah atas pembunuhan tingkat pertama dan dihukum penjara seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat. Setelah itu dia mengajukan banding, menyerahkan laporan-laporan dari empat ahli psikologis menyatakan bahwa dia menderita Battered Women's Syndrome, dan kemudian hukumannya diringankan menjadi 15 tahun penjara hingga seumur hidup. Pada Januari 2017, dia diberikan pembebasan bersyarat. Empt bulan kemudian, dia meninggalkan tahanan CDCR, namun kemudian langsung ditahan oleh agen ICE dan diantar pada tahanan.

Pada 2016, ICE mendeportasi 65,332 orang—paling banyaknya 1,250 orang per minggu—yang telah hidup di AS. (Angka ini tidak termasuk 174,923 orang yang ditahan dan dideportasi dekat perbatasan.) Di bawah administrasi saat ini, sepertinya angka tersebut akan meningkat.

Ny Nourn adalah bagian kelompok yang menghadapi ancaman deportasi paling ekstrem: imigran dalam tahanan dan penjara. Criminal Alien Program, atau CAP, adalah program deportasi ICE terbesar. CAP bertanggung jawab atas dua pertiga atau tiga perempat dari seluruh deportasi di Amerika Serikat (atau deportasi yang tidak terjadi di perbatasan). Di bawah CAP, pejabat imigrasi memiliki akses pada tahanan dan penjara untuk mencari imigran yang dianggap "dapat dideportasi." Dari 2010 hingga 2013, CAP bertanggung jawab atas hampir 508,000 deportasi. Cakupannya melebar secara dramatis bersamaan dengan bujet mereka, dari $6.6 juta pada 2004 kemudian menjadi $192.5 juta pada 2010 lalu $316.2 juta pada 2016. Interseksi atau irisan antara kriminalisasi dan deportasi telah menarik perhatian dalam beberapa tahun terakhir, sampai-sampai muncul istilah "crimmigration."

Nourn juga bagian dari subgrup kecil, di mana tidak ada data yang disimpan: imigran yang telah bertahan dari kekerasan domestik dan pengurungan, namun kemudian menghadapi deportasi setelah meninggalkan penjara. Penyintas kekerasan direpresentasikan dengan tidak proporsional dalam tahanan dan penjara: Menurut ACLU, hampir 60 persen perempuan Amerika di penjara pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual, dengan tingkatan mencapai 94 persen di beberapa populasi penjara. Nourn telah mengalami realita keras ini secara langsung. "Saya belum pernah bertemu seorang perempuan yang belum pernah mengalami kekerasan dalam hubungan selama hidup 16 tahun dalam penjara," ujarnya.

Beberapa tidak menyadari kekerasan yang dilakukan pasangan mereka—dia ingat seorang kawan sekamar yang tidak sadar bahwa pacarnya yang memukul berulang kali termasuk kekerasan. "Saya mendorong dia untuk melakukan terapi, dan saya bangga sekali dengannya," ujar Nourn. "Saya bilang, 'Tidak ada yang punya hak untuk menguasai siapapun atau memukulmu.'" Ini adalah sebuah pelajaran yang Nourn dapatkan saat menghadiri konseling atau kelompok-kelompok panduan-diri dalam penjara—suatu hal yang dia angankan dapat dipelajari saat dia masih lebih muda dan di luar penjara.

Nourn saat masih SMA (kiri). Dia lulus kuliah jarak jauh dari dalam penjara.

Anoop Prasad, staf pengacara untuk Advancing Justice-Asian Law Caucus dan pengacara Nourn saat ini, mewakili imigran berpenghasilan rendah yang menghadapi deportasi karena dakwaan hakim. Dia bilang bahwa setiap perempuan yang pernah dia wakilkan adalah penyintas kekerasan. Meski begitu, penyintas imigran tanpa dakwaan dapat meminta perlindungan Violence Against Women Act, namun mereka yang diputuskan bersalah tidak dapat melakukannya.

Ini disebabkan litani hukum menyasar imigran yang telah diputuskan bersalah dan memberikan mereka hukuman keras dan spesifik: Anti Drug Abuse Act tahun 1988, yang dikenal mewajibkan hukuman atas penyalahgunaan obat-obatan terlarang, juga mengandung ketetapan menyoal imigrasi, menyebabkan kategori kejahatan diperparah yang menyasar agar imigran dideportasi. Immigration Act pada 1990 menciptakan penalti tambahan bagi kejahatan diperparah. Antiterrorism and Effective Death Penalty Act tahun 1996 mewajibkan hukuman wajib bagi non-warga yang diputuskan bersalah atas berbagai dakwaan. Illegal Immigration Reform and Immigrant Responsibility Act, yang juga diresmikan pada 1996, memperluas daftar tersebut.

"Serangkaian UU ini mendekatkan imigrasi dan sistem kriminal," ujar Prasad. "Kedua sistem menjadi lebih keras dan sejajar." Pada 2013, 40 persen (atau 52,935) deportasi terhadap imigran yang hidup di AS adalah orang-orang dengan riwayat kejahatan yang diperparah.
Sebagaimana kriminalisasi tidak berdampak bagi semua orang secara setara, penegakkan imigrasi pun begitu. "Siapa yang di tahanan imigrasi terlihat seperti sedang dipenjara," imbuh Prasad. Hal ini termasuk orang-orang dengan masalah kesehatan mental, orang-orang miskin, orang-orang queer, mereka yang berasal dari kelompok marginal, dan penyintas kekerasan domestik. Dengan kata lain, mereka dengan akses terbatas pada sumber daya dan kesempatan.

Setelah konseling menahun, Nourn memahami bagaimana pengalaman orangtuanya dengan peperangan dan pembunuhan massal membentuk interaksi mereka. Sejak itu mereka telah berkonsiliasi, meski jarang sekali mereka terbang 650 km untuk mengunjunginya, mempertimbangkan usia mereka dan kesehatan yang menurun, orangtuanya terus berupaya keras untuk berhubungan. Dideportasi berarti Nourn tidak bisa membantu mengasuh orangtua mereka di ujung usia mereka; mempertimbangkan jarak antara California dan Kamboja, hal ini bisa berarti mereka tidak akan bertemu lagi.

Nourn juga khawatir bahwa Barker, yang kini masih di penjara namun keluarganya di Asia, tidak bisa memenuhi ancamannya untuk membunuhnya. Di Kamboja, ujarnya, pemerintah tidak bisa melindunginya. "Dia selalu bilang, 'saya enggak akan membiarkanmu lolos.' Saya percaya itu, meski sekarang sudah 16 tahun berselang," ujarnya. "Dia masih berpikir itu salah saya, bahwa saya yang menjebloskannya ke penjara."

Meski begitu, Nourn tidak juga menyerah. Pada 11 Agustus, dia memiliki satu sidang imigrasi lagi. Normalnya, seorang hakim tidak dapat mempertimbangkan kemungkinan faktor-faktor mitigas saat memutuskan soal deportasi. Bagi Nourn, hal ini berarti masa mudanya, sejarahnya dikasari, kesalahannya, atau rehabilitasi tahunan tidak dapat dijadikan pertimbangan. Namun dia dan Asian Laq Caucus akan membuat kasus melawan deportasi di bawah Convention Against Torture dan ketakutannya bahwa dia akan disakiti jika dipulangkan.

"Apa gunanaya dideportasi?" tanya Prasad. "Harusnya hal ini tidak punitif." Di California, gubernur harus mengeluarkan izin pembebasan bersyarat sebelum seorang pendaftar dibebaskan. Bagi Nourn, menurut Prasad, "sang gubernur, dewan pemembasan bersyarat, semua orang yang mengulas berkas dia sepakat bahwa dia berhak mendapatkan kesempatan kedua, bahwa saat anak-anak dia ditempatkan di situasi mustahil."

"Apapun yang saya lakukan, saya tidak bisa mengembalikan David," ujar Nourn. "Saya hanya bisa membantu orang lain." Dia sedang menempuh sertifikasi untuk menjadi konselor penyalahgunaan obat-obatan selama dia di dalam penjara, dan ingin bekerja sama dengan perempuan-perempuan lain yang pernah dikasari. "Saya telah melakukan hal itu di sini," imbuhnya. Dia berharap untuk melanjutkan pekerjaan tersebut dalam komunitas.

Nourn kini membagi kisahnya, bukan hanya untuk mengamankan kebebasannya namun juga untuk menyorot cara-cara kekerasan domestik bisa menjadi jalan menuju penahanan dan, bagi banyak imigran, deportasi. "Bagi saya, membicarakan kebenaran sangat membantu," dia bilang sebelum telepon terakhir kita usai. "Saya hanya ingin membantu orang lain."