Iklan
Bullying

Tren Bullying Anak Muda di Indonesia Berpotensi Membunuh Korban dan Orang Lain

Sejumlah kasus beberapa tahun terakhir bisa jadi contoh, bullying bisa berakibat nyawa melayang.

oleh Ikhwan Hastanto
19 November 2019, 11:47am

Ilustrasi bullying dari Wikimedia Commons/lisensi CC 4.0

Hati-hati dengan mulutmu. Sejumlah kasus bullying ini menunjukkan, korban yang sudah muak bisa jadi bernyali mencabut nyawa orang lain. Yang terjadi 17 Mei silam di Lubuklinggau, Sumatera Selatan adalah salah satu contohnya. AD (17), seorang siswa SMA, jadi bernyali menusuk perut Wiwik Wulandari (14) sampai tewas karena tidak tahan selalu diejek “banci” dan “miskin”. Di Bali empat tahun lalu, JS (15) menikam mati AS (16) karena tak kuat dengan perilaku AS yang suka mengejek.

Pembunuhan yang disebabkan oleh omongan tak enak bukan cuma terjadi di kalangan remaja. Tahun lalu di Garut, seorang pemuda 28 tahun berinisial FN membunuh tetangganya, Aisyah (32), karena tersinggung selalu di- bully dengan pertanyaan "Kapan nikah?"

Penyebab persis sama juga terjadi Mei lalu di Manado ketika Aswin yang berusia (52) tersinggung, membunuh Ari Kongingi (47). Mengapa ada orang yang merespons bullying dengan kekerasan? Apakah hasrat menyerang balik itu wajar dan termasuk dalam pertahanan diri?

Jawabannya bisa rumit sekali, namun yang pasti, ide membunuh bukan hal asing bagi manusia. Menurut penelitian, 91 persen laki-laki dan 84 persen wanita pasti pernah berpikir untuk membunuh seseorang. Penelitian itu didukung penjelasan ahli saraf bahwa kekerasan fisik dan psikis akan memancing otak untuk memompa naluri agresif.

Ketika bullying berujung penghilangan nyawa, sebenarnya korbannya tak selalu si pem- bully. Ada kalanya korban bullying tak berdaya untuk melawan perundungnya sehingga hasrat membunuh dialihkan menjadi bunuh diri. Kisah tragis siswa kelas 2 SMP berinisial YSS termasuk di antaranya. Korban menggantung diri di rumahnya di Kupang, Nusa Tenggara Timur karena tak kuat menahan sedih akibat sering dihina sebagai anak pembunuh. YSS adalah korban tragedi keluarga: Ayahnya dipenjara karena membunuh istrinya sendiri. Mayat ibu YSS bahkan dicor sang ayah di dinding rumah.

Perundungan tak eksklusif terjadi di kalangan remaja. Walau begitu, statistik bullying pada orang usia 18 tahun ke bawah sudah menggelisahkan. Sebanyak 40 persen kasus bunuh diri anak di Indonesia disebabkan oleh bullying, Menteri Sosial Khofidah Indar Parawansa mengatakan pada 2015. Juli tahun ini KPAI menyebut, 8 dari 10 anak di Indonesia pernah mengalami kekerasan, yang mana 50 persen kasus berupa bullying di sekolah.

Menengok kasus bullying parah seperti yang dialami siswa SMP di Blitar yang disiksa teman sekolahnya sampai pingsan enam kali, atau kisah-kisah perundungan yang menimpa ibu muda baru melahirkan, pekerja kantoran, hingga milenial muda, menjadi lebih sensitif pada perasaan orang lain rasanya harus jadi pegangan hari-hari ini.

Jika bullying kerap dimaksudkan sebagai candaan, kita jelas harus ingat satu hal: Jadi garing jauh lebih terhormat ketimbang membahayakan nyawa orang lain atau malah diri kita sendiri.

Tagged:
indonesia
Budaya
Kesehatan Mental
Kekerasan
Depresi
Remaja
Anak Muda
Perundungan
Kenakalan Remaja