Iklan
Masa Depan Ekonomi

Haruskah Kita Khawatir Melihat Popularitas Transaksi Nontunai?

Di zaman serba ‘cashless’ tanpa harus direpotkan lembaran uang dan koin, emangnya apa kerugian yang bisa dialami konsumen? Artikel ini menelisik kemungkinan terburuknya.

oleh Ryan Bassil; Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
22 Agustus 2019, 11:16am

Foto oleh VICE

Dewasa ini, transaksi nontunai semakin diminati berbagai kalangan di dunia. Di kota-kota besar Indonesia, misalnya, bayar tol dan parkir saja mesti pakai kartu atau layanan pembayaran mobile. Bisa dibilang perkembangan sistem pembayaran sudah sangat signifikan, dan tidak lagi mengandalkan uang tunai. Padahal, beberapa tahun lalu, tak sedikit pusat perbelanjaan yang belum menyediakan fasilitas kartu debit dan kredit.

Coba ingat-ingat lagi, kapan terakhir kali kalian bayar pakai uang tunai? Kayaknya sudah lama banget, ya? Sekarang, kalian tetap bisa jajan es kopi meski isi dompet tidak seberapa. Pindai kode QR, es kopi di tangan. Alat transportasi semacam KRL bahkan sudah memberlakukan sistem nontunai di setiap stasiun. Kalian harus mengisi saldo kartu terlebih dulu kalau mau naik kereta.

Masalahnya, apakah jenis pembayaran ini sehebat yang digembar-gemborkan? Bagaimana nasib kelas menengah ke bawah yang boro-boro punya ponsel cerdas atau kartu rekening, nyari uang saja sudah susah?

Cashless terbukti praktis dan memudahkan pengguna, baik itu pelaku usaha maupun konsumen. Kita cuma perlu mengunduh dompet digital, mendaftarkan diri, dan menggunakannya setiap kali mau belanja. Transaksi nontunai dirasa mampu mengurangi antrean. Kita bisa membawa pulang barang yang telah dibeli dalam hitungan detik. Akan tetapi, kita harus sadar betul metode ini tak selamanya aman.

Physical money
Uang koin milik staf editorial VICE UK

Tren pembayaran nirkontak memang sedang meningkat, tapi mayoritas orang Indonesia—bukan cuma generasi tua— masih menggunakan uang tunai. Pegawai restoran, Jessica Tuer, mengaku “sudah lama banget” tidak bayar pakai kartu. Perempuan 23 tahun ini masih menyimpan uang di dompet. “Saya paling tidak suka sama perusahaan yang cuma menerima pembayaran kartu. Saya bahkan tidak pernah belanja online karena malas menggunakan kartu. Saya paling pakai buat bayar SPP saja.” Begitu halnya dengan Anya (18). Gajinya sebagai pelayan bar berupa uang tunai. Menurut Anya, lebih mudah menaruh uang di tempat yang tak mudah dijangkau, supaya uangnya tidak cepat habis.

Saya pribadi suka menyimpan recehan. Saya hidup pas-pasan, tapi setidaknya saya merasa punya uang setiap kali mendengar suara gemerincing koin logam di kantong. Apabila metode pembayaran diubah seluruhnya menjadi nontunai, itu berarti bank semakin berwenang mengatur uang kita. Tak hanya itu, mereka juga akan memegang data nasabah yang diperoleh dari setiap transaksi. Masih ingat kasus Cambridge Analytica, kan? Bukankah sebaiknya kita lebih waspada dengan ini?

Dr Francesc Rodriguez Tous menganjurkan untuk berhati-hati. Dia seorang dosen perbankan di sekolah bisnis Cass, yang menyandang gelar PhD di bidang Ekonomi dari Universitat Pompeu Fabra di Barcelona. Dia juga pernah bekerja di Bank of England, Deutsche Bundesbank, dan Banco de España. Berhubung datanya tak jelas akan diapakan suatu saat nanti, maka kita sebaiknya menarik persetujuan untuk penggunaan data. “Jika menyukai postingan di Facebook saja bisa menentukan pandangan politik, saya tak sanggup membayangkan bagaimana data perilaku pembelian kita akan dimanfaatkan,” ujarnya.

Meskipun demikian, transaksi nontunai masih memiliki banyak sisi positif lain. Dengan sistem cashless, kita bisa memantau ke mana saja uang kita pergi. Selain itu, bank dapat menawarkan perencanaan keuangan yang cocok untuk kita. Dr Francesc Rodriguez Tous menyebutkan layanan keuangan dapat meningkat secara signifikan dengan menggunakan data yang jumlahnya sangat besar ini, seperti mewajibkan proses verifikasi untuk mencegah pengeluaran berlebihan dan sejenisnya. Namun, dia mengutarakan “Butuh waktu lama untuk menyeimbangkan peningkatan dalam layanan keuangan dan perlindungan data.”

A cashless shop

Ada masalah lain yang butuh diperhatikan apabila kita berhenti menggunakan uang tunai. Laporan independen Access to Cash mengungkapkan tahun ini bahwa, sistem uang tunai di Inggris berada “di ambang kehancuran” dan delapan juta orang dewasa akan “hidup dalam kesulitan” jika metode pembayaran tunai dimusnahkan. Ini menimbulkan serangkaian masalah bagi orang-orang yang gajinya dibayar tunai. Para tunawisma juga bisa menderita dalam masyarakat nontunai, terutama apabila mereka tidak diberikan akses ke transaksi digital.

Mengubah sistem pembayaran menjadi serba nontunai tak semudah yang kita kira. Pertama, menurut Dr Francesc Rodriguez Tous, semua pelaku usaha, bank, dan pemerintah harus berpartisipasi dalam menyingkirkan metode transaksi konvensional. Ditambah lagi, uang tunai masih akan sangat dibutuhkan dan setiap layanan punya cara kerjanya sendiri.

Dr Francesc Rodriguez Tous menyamakannya dengan konsumsi musik. “Orang-orang masih sangat tertarik beli vinyl, meskipun sudah ada jauh sebelum munculnya CD dan MP3. Vinyl dibutuhkan oleh golongan dan khalayak tertentu. Transaksi tunai tidak ada bedanya.” Itu berarti kita tidak akan dipaksa bayar ini-itu dengan kartu dalam waktu dekat. “Sistemnya tidak akan segera diterapkan. Butuh 20 tahun lagi,” tutup Rodriguez Tous.

@ryanbassil

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK.