Dunia Kerja

Sudah Saatnya Kita Tak Lagi Pakai Kantor Berkonsep 'Open Space'

Sumpah deh, kerja di kantor open space enggak ada khusyuk-khusyuknya. Kita cuma mau kerja dengan tenang!

oleh Hannah Ewens
02 Oktober 2018, 10:26am

Sumber foto ilustrasi: Arcaid Images / Alamy Stock Photo

Saya menulis artikel ini di sebuah kantor open space. Saat ini, saya bisa mendengar suara jari Joel Golby, rekan saya, menekan-nekan tuts keyboardnya. Belum lagi suara sendok teh berbenturan dengan gelas keramik atau berisiknya suara kursi kantor ergonomis yang sepintas mirip seperti suara kodok. Lalu, seorang perempuan baru saja bersin kencang sekali.

Ada juga seorang pria yang tak mau berhenti bersiul, seakan-akan semua bagian 'Mas Que Nada' yang dia mainkan bakal mengurangi stres pekerjaannya. Seperti saya, dia juga ingin cepat-cepat membereskan pekerjaannya.

Saya sudah memakai headphone dengan feature noise-cancelling. Malang, semua suara ini tetap tembus, masuk ke kuping saya. Malah, suara lagu “Fast Car” yang diputar lewat speaker overhead masih jelas saya dengar. Seingat saya, ini ketiga kali lagu itu disetel—sebuah hal yang sia-sia pasalnya semua orang pakai headset demi menghindari kebisingan dan suara kekacauan sebuah rungan kantor berkonsep open space.

Menurut sebuah penelitian, 80 persen kantor di Amerika Serikat berkonsep open space. The Guardian melaporkan bahwa Inggris punya dua kali lipat kantor open space dari rata-rata kantor open space di dunia. WeWork—yang terus mewujudkan misinya untuk mengisi tiap bangunan kantor yang kosong dengan furnitur dari abad pertengahan— adalah perusahaan berkonsep open space yang sepenuhnya percaya bahwa konsep macam ini bisa menggenjot produktivitas dan meningkatkan kolaborasi.

Apa benar begitu? Tidak. Kerja di kantor berkonsep open space membuat kita lebih mudah terdistraksi. Rasanya seperti sedang menonton acara TV yang sangat ditunggu-tunggu, tetapi adikmu melakukan hal konyol. Ujung-ujungnya kamu menengok ke arahnya untuk melihat apa yang dia lakukan.

Foto: Peter Bennets, via / CC By 3.0

VICE pernah menerbitkan artikel yang membuktikan pengalaman bekerja di kantor seperti ini sangat mengganggu, tidak nyaman, bahkan meningkatkan stres (penelitian tentang stres di ruang kantor terbuka menunjukkan bahwa karyawan yang mudah cemas jarang mengubah posisi/postur, yang berpotensi menyebabkan gangguan muskuloskeletal). Konsep ppen Office turut meningkatkan risiko penyebaran kuman. Akibatnya, karyawan sering izin tidak masuk kerja karena sakit, kebayang lah ada yang flu pasti gampang menular.

Konsep open space juga tidak meningkatkan produktivitas lho. Penelitian dari Harvard membuktikan bahwa desain kantor terbuka justru menurunkan produktivitas karyawan. Orang introvert tidak bisa bekerja dengan baik di kantor open space, dan aku bahkan bukan seorang introvert. Namun, aku sensitif terhadap setiap rangsangan, suara, gerakan, dan suhu AC. Konsentrasiku mudah pecah dan akhirnya tidak fokus kerja. Kondisinya makin parah kalau aku sedang cemas.


Tonton dokumenter VICE mengenai tren pekerja Jepang modern mengalami kematian akibat keseringan kerja lembur:


Cara bekerja kita sudah lama berubah. Kita sekarang bisa bekerja dari laptop, secara remote atau lepas, dan mementingkan portofolio. Akan tetapi, kita tetap harus pergi ke kantor yang posisi duduknya berdempetan kayak ikan pepes. Generasi tua mungkin menciptakan desain ruang kantor terbuka sebagai reaksi dari kantor berbilik yang ada pada zaman mereka dulu. Sayangnya mereka tidak mempertimbangkan hal-hal yang mungkin menghambat rencana mereka dalam meningkatkan produktivitas karyawan. Misalnya, bagaimana kita bisa berkonsentrasi kalau rekan kerja sering kirim chat lewat GChat, Slack, email, Whatsapp, Messenger atau aplikasi lain yang digunakan kantor?

Kantor berkonsep open space katanya bisa membangun kerja sama antar karyawan. Tujuannya memang bagus, tetapi kenyataannya tidak sesuai harapan. Profesor Cal Newport mengutip co-founder Twitter Jack Dorsey dalam bukunya Deep Work, "Kami mendorong orang untuk bekerja di tempat terbuka karena kami percaya pada kebetulan — dan mereka bisa berinteraksi dan saling mengajarkan hal baru dengan orang lain."

Selama aku bekerja di kantor open space, aku tidak pernah melihat seorang pun yang menghampiri meja rekannya untuk mengajarkan hal baru. Para peneliti Harvard menemukan bahwa "konsep open space memicu respons alami manusia untuk menjauhkan diri dari rekan kerja dan membuat mereka lebih suka berinteraksi lewat email dan IM."

Selain itu, data yang dirilis oleh peneliti dari Auckland University of Technology, yang diambil dari 1.000 responden, menunjukkan bahwa hubungan pertemanan karyawan yang bekerja di kantor open space lebih buruk daripada mereka yang bekerja di kantor berbilik dan secara remote.

Hal ini tidak mengherankan, karena konsep kantor seperti ini jarang memberikan batasan, kontrol, dan rasa hormat. Berbagai divisi seringnya ditempatkan dalam satu ruangan. Beberapa orang butuh ketenangan supaya bisa fokus, ada juga yang butuh keheningan saat menelepon klien. Kamu terpaksa menyaksikan dan mendengar segala hal yang terjadi di ruangan, dan merasa sebal sendiri dengan rekan kerja yang suka ngomong keras-keras.

Kita tidak menginginkan jenis kantor seperti ini. Menurut penelitian terbaru dari Oxford Economics, generasi millennial lebih "suka tempat kerja yang tidak bising" dan "fokus bekerja tanpa gangguan apapun." Sayangnya, banyak anak muda terjebak bekerja di kantor berkonsep open space. Kebanyakan kantor tidak mengizinkan karyawannya kerja jarak jauh, walau sebagian orang terbukti bisa tetap bekerja dengan baik tanpa harus hadir secara fisik. Satu-satunya ide saat ini untuk menggantikan konsep open space adalah bekerja tanpa meja. Makin konyol saja ya?!

Intinya, aku bekerja lebih baik di ruangan tertutup dan bebas minum kopi atau makan camilan tanpa dilihat orang lain. Kembalikan kantor berkubik! Aku butuh ruangan yang bisa kutata sendiri. Kalau ini dirasa berlebihan, biarkan aku memilih tempat kerja yang bisa membuatku fokus. Aku jamin hasilnya tidak akan mengecewakan.

Aku duduk di lantai dekat pintu darurat saat menulis artikel ini. Sudut kantor ini adalah satu-satunya tempat berlindung terbaik yang kutemui. Jangan salahkan aku kalau artikel yang kalian baca sekarang berantakan karena aku mudah terdistraksi. Salahkan saja siapapun yang membangun kantor bergaya terbuka macam ini.

Follow penulis artikel ini lewat akun @hannahrosewens

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK.