Jamari pelukis bak atau pantat truk yang masih tersisa di Indonesia
Jamari berpose di depan tempat kerjanya melukis bak truk. Foto oleh Muhammad Ishomuddin / VICE
Seni Jalanan

Menemui Salah Satu Empu Pelukis Bak Truk Terakhir

Kombinasi aturan kepolisian, teknologi, dan takhayul para sopir menyebabkan cabang seni jalanan ini perlahan makin sulit ditemui di atas bentangan aspal.
11 Februari 2019, 11:45amUpdated on 11 Februari 2019, 10:16am

Bagi Jamari, galeri untuk memamerkan karyanya adalah sepanjang aspal membentang di negeri maritim ini. Dia menumpahkan kreasi lukisan dari sebuah bangunan kayu mungil yang dipenuhi kaleng cat di sana-sini. VICE disambut papan berhiaskan tubuh perempuan separuh telanjang dan tulisan “Kutunggu Jandamu" terpacak saat tiba di bengkel lukis miliknya.

Pemandangan macam itu amat familiar bagi kalian yang biasa berkendara. Sebab lukisan perempuan seronok, ataupun slogan unik—selain menanti janda yang juga populer misalnya 'pulang malu, tak pulang rindu'—adalah hiasan khas di banyak bak truk seantero nusantara. Saking populernya, sampai ada akun instagram yang mendedikasikan diri mengkurasi lukisan-lukisan pantat truk menarik.

Lukisan dan slogan unik yang menghiasi 'pantat' truk adalah hiburan murah meriah bagi para pengendara di jalan. Seringkali kombinasi gambar dan tulisan itu menggelitik, sehingga membantu kita menumpas kantuk atau mengusir jenuh di tengah riuh perjalanan yang seringkali macet. Galeri visual jalanan itu belakangan makin menyusut jumlahnya. Agak susah menemukan truk dengan lukisan menarik, apalagi seronok, di bokongnya.

Sosok yang bisa menjelaskan perubahan visual truk tentu saja Jamari. Dia pelukis bak truk kawakan yang karyanya beredar di sepanjang jalanan kawasan Pantai Utara Jawa. Dia tiduran di kursi bambu lapuk miliknya. Rambut ikal Jamari dibiarkan terurai begitu saja saat kami temui. Cincin-cincin akik melingkar di jemarinya, tato terpacak di kiri kanan lengannya. Hari itu, dia tidak sedang berkarya.

"Orderan sedang sepi," kata Jamari, setelah VICE memulai basa-basi lebih dulu. "Emang enggak bisa ditebak. Namanya hidup di jalan, rezeki pun juga mampirnya wara-wiri." Kepulan asap rokok selalu meluncur dari mulutnya selama kami ngobrol.

Contoh-contoh lukisan bak truk yang populer. Kolase foto dari akun @visual.jalanan @kata.supir @rzky.mhmmd @kutipanberjalan @bocah.galaksi @catatankemarin @ariep90 @kiki_mochammad @jhariwibowo dan @lukisdinding_solo

Jamari menghabiskan hari-harinya di bangunan kayu yang mepet bahu jalan kawasan Cibitung, Bekasi itu. Lelaki kelahiran Purwodadi ini diakui banyak kalangan sebagai salah satu pelukis bak truk yang masih tersisa. Orang-orang yang menekuni profesi seperti Jamari kian langka. Seiring perkembangan zaman, hiasan bak truk ikut berubah.

Populernya medium bernama cutting stiker selama 10 tahun terakhir, memaksa pelukis bak truk satu angkatan Jamari gulung tikar. Jamari sendiri tetap bertahan, karena percaya lukisan masih punya daya tawar tersendiri. Apalagi, kata Jamari, sopir-sopir truk, menurutnya, bosan dengan motif stiker yang seragam.

"Buat apa takut? Ada beberapa hal dari seni melukis bak truk yang tidak bisa digantikan sama teknologi. Gambar hasilnya beragam kalau pakai teknik manual. Kalau stiker? Sama semua. Saya tidak pernah takut," tandas Jamari. "Satu-satunya membuat saya takut adalah YouTube. Karena saya pernah terkenal, video saya [diupload] anak. Saya tidak bahagia karena kerja terus, enggak leren-leren [kunjung berhenti]."


Tonton dokumenter VICE saat mendatangi bisnis kamp pelatihan anti-teroris bagi warga sipil di Polandia:


Jamari membenarkan, kalau sekarang hiasan di bak truk tidak warna-warni seperti katakanlah satu dekade lalu. Perubahan wajah bak truk itu bukan hanya perkara karena maraknya stiker atau teknik airbrush. Ia merasa selera para sopir pun turut bergeser belakangan. Pada dekade 80’an hingga 2010, potret cewek seksi dengan balutan kata-kata liar menjadi favorit para sopir. Kini, seingat Jamari, lukisan perempuan berkerudung yang menjadi primadona. Tulisan-tulisan motivasi dan gambar bintang film, atau potret seorang tokoh Islami juga banyak diminati.

Perubahan juga dipengaruhi sikap aparat kepolisian, kata beberapa sopir yang kami temui. Bila gambar-gambarnya dianggap bermuatan suku ras agama (SARA), ataupun terlalu vulgar, truk bisa ditahan. Bahkan gambarnya akan dihapus paksa jika ada gambar menjurus ke pornografi. Sejak saat itu, gambar perempuan seksi tak lagi diminati seperti bagaimana sebelumnya.

Takhayul turut andil mengeser perkembangan wajah bak truk. Sejumlah sopir merasa gambar di bak bisa mendatangkan petaka dalam perjalanan. Supriyadi salah satu yang berpandangan seperti itu. Ia adalah seorang sopir truk trans Sumatra. Makanya sekarang dia menyematkan kata Doa Ibu di bak truk miliknya.

"Saya ini kok khawatir takut terjadi kecelakaan ya kalau ada gambar seksi di belakang? Teman-teman saya pun begitu. Ada yang dulu pakai gambar artis Madonna? Nah, terus truknya dicegat sama _bajing loncat_[perompak]. Terus sekarang gambarnya diganti Wali Songo. Saya pun akhirnya memutuskan menganti gambar bak truk saya," kata Supriyadi kepada VICE.

Gambar perempuan—bagaimana pun di lukiskan—adalah favorit dari para sopir. Pelukis-pelukis seperti Jamari, tak lebih sebagai tukang gambar saja bagi para sopir. Segala bentuk tubuh, pose, subjek dan tulisan yang akan dilekatkan pada bak truk, sepenuhnya ‘titipan’ sopir.

Menurut Obed Bima, dosen Universitas Kristen Petra Surabaya yang bertahun-tahun meneliti lukisan truk, pilihan sopir memasang sosok perempuan semata-mata curahan hati tentang pelbagai masalah hidup. Gambar itu menjadi penawar rindu kepada keluarga yang menunggu di rumah.

Pemandangan bengkel lukisan bak truk milik Jamari dari pinggir jalan.

"Dulu sebelum perempuan, yang sering kita temui adalah gambar Elang atau Garuda. Yang menjadi representasi si sopir truk adalah seorang petualang. Setelahnya, gambar perempuan yang kemudian jadi komodifikasi. Berbagai motif tentang pemilihan gambar pun mengekor di belakangnya” kata Obed.

DhaVe Danang, dosen di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga serta fotografer yang pernah merekam dan berpameran dengan foto dari 250 bokong truk, memberi penjelasan senada dengan Obed. Kata Danang, gambar perempuan sekilas adalah obyektifikasi atau pertanda kalau para sopir itu seksis. Tafsiru macam itu berbanding terbalik dengan apa yang hendak diutarakan oleh para sopir.

"Seringnya para sopir ini cenderung menuliskan apa yang tidak berani mereka katakan di kehidupanya nyata, dan kemudian dilampikaskanlah di bak truk mereka," kata Danang saat di hubungi oleh VICE. "Lukisan ini menjadi pengusir lelah setelah melewati perjalanan panjang. Rata-rata adalah jeritan dari hati mereka. Entah kepada keluarga, atau sindiran kepada rekan sesama sopir."

Meski begitu, memang ada lukisan yang dibuat untuk menggambarkan maskulinitas sang sopir sebagai kepala keluarga. Misalnya lewat jargon “Semakin berat muatanku, semakin ringan cicilan keluargaku”. Banyak juga tulisan itu yang bermuatan motivasi, namun dikemas dengan plesetan bahasa, seperti New Fear The Me An Egg Is Three [Nyupir demi anak istri]. Ada juga yang diberi potret wajah buah hati sekaligus istri dengan tulisan pengingat “Semua ini kulakukan demi Nyai dan Buah hati.”


Tonton dokumenter VICE mengikuti kehidupan keras para pengemudi truk lintas negara di kawasan Barat Afrika:


Supriyadi pernah melakukan hal serupa. Ada rekan sesama sopir, yang lebih muda darinya, ingin meminang anak perempuan semata wayangnya. Dia tidak ingin anaknya bersuamikan sopir. Satu-satunya harapan perbaikan nasib keluarga dia gantungkan kepada putri tunggalnya itu.

"Karena teman saya ini susah dibilangi [dan terus mendekati anak saya], jadi saya menyindirnya lewat bak truk. Saya menuliskan kalimat 'Ora Butuh Mantu Sopir' [Enggak butuh menantu sopir-_red_]. Kalau ngomong langsung sungkan, dan enggak bisa. Besoknya udah kapok dia," kata Supriyadi disusul gelak tawa.

Lukisan juga bisa menjadi penanda dari mana sang sopir berasal. Berdasarkan penelusuran merdeka.com, gambar-gambar perempuan bernuansa vulgar biasanya disukai sopir-sopir asal Lampung, Sukabumi, juga Medan. Sementara sopir-sopir truk asal Sumatera Barat lebih suka gambar bernuansa Islami atau pemandangan alam.

Hingga saat ini, belum ada yang tahu pasti kapan dan di mana tren melukis bak truk bermula. Danang mengaku kesusahan melacak proses kelahiran tradisi lukisan bak truk. Penyebabnya karena mobilitas truk yang selalu wara-wiri dari satu kota ke kota lain, sehingga melacak akar pengaruh tren jadi susah. Dari berbagai wawancara dengan sopir, Danang hanya bisa menduga semua ini bermula pada akhir dekade 1970’an.

Jamari pun tak tahu persis siapa yang mencetuskan lukisan pantat truk pertama kali. Dia mulai belajar melukis truk pada 1996. Awal dekade 2000’an adalah puncak kejayaan pelukis bak truk. Permintaan membanjir. Jamari diajak seniornya melukis untuk sopir-sopir sekitaran Jakarta.

Jamari memamerkan koleksi foto lukisan truk yang pernah dia garap.

Obed Bima menganggap ukisan bak truk masuk kategori vernacular art. Lukisan di bak truk lahir dan tumbuh secara natural, tanpa didasari pengetahuan ilmiah. Mereka menyebutnya salah satu identitas kesenian jalanan bangsa ini.

"Segala lukisan di bak truk dapat menjadi penanda khas, hasil dari pemikiran lokal, dan di situlah letak ke-Indonesianya. Tidak bisa ditampik, lukisan itu pemikiran mereka [sopir dan pelukis]. Itulah mengapa karya di bak truk menjadi sangat jujur," kata Obed.

Jamari sendiri tak menganggap karyanya sebagai sebuah seni adiluhung. Dia sepenuhnya menganggap seni ini sebagai lahan penghidupan. Sejak awal berkarya, pada 1996, ia sadat statusnya adalah seniman kapiran, yang tidak akan pernah melampaui Basuki Abdullah, pelukis idolanya.

"Tuhan telah mengatur semua rejeki saya. Kita manusia hanya menunggu ‘orderan’ darinya," kata Jamari.

Sambil menanti orderan datang, Jamari terus menyimpan kalimat favorit, yang kelak mungkin akan dilukis sendiri untuk bak truk miliknya.

"Hidupmu, hidupku, hidup kita adalah lelucon belaka."