Fashion

Desainer Balenciaga Terinspirasi Gaya Kaum Nerd Saat Merancang Koleksi Busana Terbarunya

"Geeks adalah anak punk masa kini, mereka mengubah wajah dunia,” ujar desainer Demna Gvasalia, yang kini merancang baju untuk Vetements.

oleh Steve Salter
21 Januari 2019, 7:07am

Busana baru dari Vetement

Kendati Demna Gvasalia dikenal sebagai desainer kreatif busana-busana glamor di Balenciaga—gaya “neo-tailoring” yang dia pamerkan dalam peragaan busana mode busana pria musim gugur/dingin 2019 mencuri perhatian khalayak pecinta fesyen. Dalam kesempatan tersebut, Gvasalia memanfaatkan pagelaran busana paling disruptif Vetements untuk memamerkan koleksi terbarunya. Dilihat sepintas dari foto-foto busana yang dipamerkan, Gvasalia kembali mendesain busana yang menyasar anak-anak muda yang resah dengan kondisi di sekitarnya.

Mulai dari normcore yang kaya akan detail subtil, hingga hoodie yang dihiasi slogan-slogan yang menohok, koleksi busana pria Vetements untuk musim gugur/dingin 2019 berfungsi sebagai eksplorasi dark web—bagian internet yang umumnya tak dijamah oleh netizen biasa—yang terasa makin seram lantaran tubuh hewan yang diawetkan di sepanjang catwalk di The French National Museum of Natural History.

Peragaan busana itu dibuka sebuah kaus yang diberi kalimat menegaskan tone busana-busana setelahnya: “Warning: what you are about to see will disturb you. There is a dark side to humanity the censors won’t let you see, but we will. View it at your own risk.”

Vetements autumn/winter 19

“Seperti biasa, inspirasinya datang dari internet. Begitu cara kami biasanya bekerja,” jelas Demna Gvasalia usai acara. “Tapi, untuk pertama kalinya, kami menggali internet lebih dalam lagi. Peragaan busana kali ini ditujukan mereka tahu cara mengakses dark net dan kerap menjelajahi dunia digital tersembunyi di balik dinding yang tak kasat mata. Aku enggak tahu banyak tentang dark web, tapi kalian nisa membeli apa saja yang kalian mau dengan Bitcoin. Ini kan gila dan menakutkan. Kalian bisa dengan leluasa melakukanya karena tak akan ada yang bisa melihat kalian. Kalian tak punya identitas di dark web,” Gvasalia mewanti-wangti. “Sedalam apa sih dark web, realitas mana yang kita ketahui dan mana yang tidak? Ini kan belum terjawab. Yang jelas, kaum geek kini sudah mirip anak punk, merekalah yang mengubah wajah dunia. Ini semua adalah penghargaanku pada anak-anak punk dan grunge baru ini.”

Sejak berdiri pada 2014, Vetements getol menantang norma yang berlaku di kancah fesyen. Dari mulai seenaknya membatalkan peragaan busana, menggelar pasar barang palsu orisinil dadakan, sampai bikin peragaan busana dadakan. Brand kelahiran Paris yang kini bermarkas di Kota Zurich ini memang berniat membongkar tradisi fesyen usang dan memantik pemikiran-pemikiran progresif tentang masa depan dunia fesyen.

Bahkan, saking bandelnya, saat brand-brand lain mulai meninggalkan streetwear dan busana-busana normcore, Vetements tetap keukeuh bertahan. “(streetwear dan normcore) kan wilayah Vetements, aku ingin menguasainya.”

vetements autumn/winter 19 demna gvasalia

Dari semua gaya busana anak-anak muda resah dekade ‘90an dan 2000’an, simbol-simbol anarki dan merchandise Interpol palsu, terselip slogan-slogan yang berpotensi bikin kita terbahak-bahak, seperti “It’s my birthday and all I got was the overpriced hoodie from Vetements (Hari ini saya ultah dan saya dapat hadiah hoodie kemahalan dari Vetements)”, “It’s Hocus Pocus time w(b)itche (Saatnya bermain sihir, penyihir/sundal)s, “I survived swine flu, so now I'm vegan (Aku selamat dari serangan flu babi, makanya sekarang aku vegan”, atau kutipan kata Kurt Cobain saat Nirvana diwawancarai Rolling Stone pada 1992 (yang dicetak di cover majalah yang berisi hasil wawancara itu): "Corporate magazines still suck a lot (Majalah korporat masih cupu banget kayak dulu)."

Pekan ini unjuk rasa Gilets Jaunes di Paris memasuki pekan kesepuluh. Koleksi terbaru Vetements ini bisa dimaknai sebagai pernyataan politik yang tepat waktu (atau malah kurang peka dengan semangat unjuk rasa Gilets Jaunes). Cuma jangan liupa, Vetements tak pernah berusaha menanggapi momen-momen spesifik. Dan satu yang pasti, Vetements sudah membidik remaja resah sejak lama. “Kita tak bisa lari keresehan mereka,” tutur Gvasalia. “Kita harus menguak akar kecemasan mereka.”

vetements autumn/winter 19 demna gvasalia
vetements autumn/winter 19 demna gvasalia
vetements autumn/winter 19 demna gvasalia
vetements autumn/winter 19 demna gvasalia
vetements autumn/winter 19 demna gvasalia
vetements autumn/winter 19 demna gvasalia
vetements autumn/winter 19 demna gvasalia
vetements autumn/winter 19 demna gvasalia

Artikel ini pertama kali tayang di i-D