Puluhan Beruang Kutub Ambil Alih Satu Pulau Di Rusia, Memicu Status Darurat

Kehidupan sehari-hari manusia yang masih tinggal di Novaya Zemlya jadi kacau balau. Semuanya akibat perubahan iklim.

|
14 Februari 2019, 11:05am

Gerombolan beruang kutub lapar menyerbu Desa Belushya Guba di Rusia. Sumber: YouTube

Puluhan beruang kutub yang lapar memicu keadaan darurat di satu kepulauan terpencil di Rusia. Mereka membobol rumah, bahkan mengejar warga yang ketakutan.

Paling tidak 52 beruang kutub terlihat dekat perumahan Belushya Guba di Novaya Zemlya, menurut sebuah pernyataan resmi oleh pemerintah Provinsi Arkhangelsk, yang wilayah kerjanya mencakup daerah tersebut. Warga kini takut keluar rumah. "Kehidupan sehari-hari “menjadi kacau,” kata administrator lokal Aleksandr Minayev kepada surat kabar Siberian Times.

Novaya Zemlya adalah sebuah pulau di Laut Arktik, tidak jauh dari pantai utara Rusia. Dihuni sekitar 3.000 warga, pulau-pulau ini pernah digunakan sebagai situs uji nuklir Soviet, tempat Tsar Bomba seberat 50 megaton—bom bikinan manusia terbesar sepanjang masa—diledakkan pada 1961.

Keadaan darurat resmi diumumkan pihak-pihak Rusia pada Minggu untuk menangani invasi beruang tersebut, yang mulai terjadi sejak Desember 2018. Warga lokal berkeluh bahwa “enam sampai sepuluh” beruang kutub terus-terusan hadir di kampung mereka, membobol rumah dan kantor, serta meneror warga.

Pagar dan suara keras seperti tembakan pistol dan klakson mobil tidak berhasil menakuti para beruang.

“Saya tinggal di Novaya Zemlya sejak 1983, tetapi belum pernah ada jumlah beruang kutub masuk kampung sebanyak ini,” kata Zhigansha Musin, salah satu pejabat lokal, kepada kantor berita Rusia TASS. Musin bilang beruang-beruang ini menduduki garnisun militer. Di sana kawanan binatang liar itu “secara harfiah mengejar orang.”

Berbagai laporan menyalahkan perubahan iklim sebagai penyebab utama masalah ini. Sebab lapisan es di laut meleleh, memaksa beruang sebagai predator alami di kawasan beku mencari makanan di darat.

“Sudah jelas sekali: ini tahun yang sangat sulit bagi beruang di sekitaran Arktik,” kata Andrew Derocher, guru besar Universitas Alberta yang mempelajari beruang kutub, saat dihubungi Motherboard melalui telepon.

Beruang kutub menghabiskan sebagian besar aktivitas harian di atas lapisan es, memburu anjing laut yang kembali ke permukaan untuk bernapas. Ketika lapisan es surut pada musim panas, para beruang pindah ke pedalaman darat sampai es kembali terbentuk.

Derocher memantau es laut di kawasan utara bumi. Dia menganggap kejadian di Rusia sebagai peristiwa “paling aneh” yang pernah dia saksikan. Proses pembentukan es muncul terlambat, dan bahkan tertunda beberapa bulan di berbagai lokasi.

Kawasan Arktik yang terus meleleh mengganggu rantai makanan beruang kutub. "Tindakan Beruang ini sama seperti kalau kamu lapar banget dan pergi ke restoran, tapi restorannya tutup," kata Derocher.. "Jadi kamu pergi ke mana? Kamu terus mencari-cari sampai ketemu yang masih buka."

Perubahan iklim menimbulkan naiknya jumlah hari tanpa es di berbagai daerah Arktik, menurut sebuah penelitian dari 2016 oleh peneliti internasional yang tayang di Cryosphere. Berdasarkan pengukuran NASA, laposan es di laut Arktik menurun hingga level 12,8 persen per sepuluh tahun, jelas lebih mengkhawatirkan dibandingkan angka rata-rata dari 1981 sampai 2010. Tak mengherankan kalau konfrontasi antara manusia dan beruang kutub semakin sering terjadi.

Polar bears in the Russian village of Belushya Guba.
Sekelompok beruang kutub yang berkeliaran di Desa Belushya Guba. Sumber foto: Vkontakte


Ilya Mordvintsev, peneliti di Institut Ekologi dan Evolusi Severtsev di Moskow, berkata kepada TASS kalau para beruang berkumpul di Belushya Guba. Soalnya di sana “ada makanan alternatif… Ada tempat sampah berisi limbah yang bisa dimakan, maka mereka berhenti untuk berkerumun.”

Beruang kutub memang diketahui suka menyerbu TPA. Di kota Churchill, Manitoba di Kanada—ibukota beruang kutub di dunia—para pejabat terpaksa menutup TPA terbuka pada 2006 setelah menjadi tempat berkumpul hewan yang mencari makanan.

“Beruang sebetulnya bisa bertahan hidup dengan memakan apapun. Itu khususnya semua spesies beruang,” kata Derocher.

Sayangnya sampah tidak bisa memenuhi kebutuhan nutrisi seekor beruang dengan bobot beberapa ratus kilo. Sebuah penelitian yang tayang tahun lalu di Jurnal Science oleh peneliti asal AS dan Kanada, menyimpulkan beruang kutub butuh banyak mengkonsumsi lemak, seperti anjing laut. Nutrisi terbaik beruang sayangnya tidak akan tersedia saat lapisan es mencair. Jadi, enggak heran kalau beruang-beruang ini berkeliaran di wilayah penduduk.

Kementerian Lingkungan Federal Rusia belum mengeluarkan lisensi untuk menembak para beruang—artinya warga dilarang menyakiti mereka—dan justru telah mengirim gugus tugas kepada Belushya Guba untuk menilai situasinya dan memastikan beruang tidak menyerang warga.

Spesies beruang kutub terancam punah di Rusia, yang menimbulkan pengesahan undang-undang yang melarang pemburuan mereka pada 1956. Namun, BBC melaporkan pada Sabtu bahwa pembunuhan massa mungkin dilakukan jika taktik menakuti mereka tidak berhasil.

"Tidak ada banyak yang bisa kami lakukan untuk mengelola beruang-beruang ini selain mengelola perilaku manusianya," kata Derocher.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard