Iklan
Hoax dan Kehidupan Kita

Media Se-Indonesia Berulang Kali Kecele Tampilkan Kisah Hoax Sosok Berprestasi

Dwi Hartanto santai menggembar-gemborkan prestasi palsu. Berulang kali media percaya saja sama klaim temuan ilmiah sepihak. Jurnalisme kita melupakan prinsip penting: verifikasi.

oleh Arzia Tivany Wargadiredja
10 Oktober 2017, 10:03am

Ilustrasi oleh Diedra Cavina

Tahun lalu, nama Dwi Hartanto, mahasiswa doktoral asal Indonesia di Technische Universiteit Delft, Belanda masih harum, sebab Ia disebut-sebut bergelimang prestasi di dunia aeronautika. Dwi dan prestasinya dapat sorotan luar biasa di media, malahan Dwi disejajarkan dengan legenda dirgantara Indonesia, B.J. Habibie, dengan menyebutnya sebagai "The Next Habibie".

Syukur-syukur kalau betul, eh ternyata 7 Oktober lalu Dwi Hartanto mengeluarkan klarifikasi dan dan permohonan maaf terkait klaimnya, setelah Perhimpunan Pelajar Indonesia di Delft melakukan investigasi, dan membuatnya disidang atas kasus etika oleh Delft University of Technology, Belanda, pada 25 September.

"Saya mengakui bahwa kesalahan ini terjadi karena kekhilafan saya dalam memberikan informasi yang tidak benar (tidak akurat, cenderung melebih-lebihkan), serta tidak melakukan koreksi, verifikasi, dan klarifikasi segera setelah informasi yang tidak benar tersebut meluas," tulis Dwi dalam permohonan maaf yang dikeluarkan 7 Oktober lalu.

Investigasi tersebut dilakukan ketika beberapa klaim Dwi terdengar janggal. Dwi pernah mengklaim bahwa dirinya merupakan Assistant Professor di TU Delft dalam acara Mata Najwa di sebuah stasiun TV swasta. Ia juga mengklaim serangkaian prestasi lainnya seperti: terlibat dalam proyek jet tempur generasi ke-5 Eurofighter Typhoon NG; terlibat dalam proyek generasi ke-6 di Airbus; terlibat dalam berbagai riset bidang national security di beberapa badan seperti Kementerian Pertahanan Belanda (ESA), National Aeronautics and Space Administration (NASA), dan Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA).

Terakhir, Ia mengaku pernah membuat Satellite Launch Vehicle (SLV), dan memiliki lima hak paten yang kenyataannya tidak pernah ada. Semuanya, pekan lalu, ia akui sebagai bohong belaka.

Namun dari mana sih kita semua bisa tahu akan segala informasi mengenai prestasi Dwi? Mengapa pihak PPI Delft kemudian gencar melakukan investigasi? Tentunya karena klaim palsu bombastis yang dilakukan Dwi terhimpun di berbagai media massa. Dengan kata lain, media massa punya andil dalam penyebaran "informasi positif", yang ternyata malah berujung keliru ini.

Bukannya anti sama "kisah sukses dan inspiratif", tetapi kok lama-lama kita seakan-akan kena euforia berita-berita penuh inspirasi dan motivasi yang kadang mengaburkan kita (bukan hanya pembaca atau pemirsa tapi juga awak media) dari fakta yang sesungguhnya. Dwi sebagai narasumber yang memberikan klaim palsu, ditunjuk sebagai sumber kesalahan utama. Lantas, adakah kontribusi media massa dalam konteks ini?

Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Laksana Tri Handoko menilai bahwa kasus tersebarnya "kisah sukses inspiratif" palsu di media massa sudah banyak terjadi. Menurut Handoko, selain minimnya verifikasi media, Dwi sebagai "tokoh inspiratif" tidak berupaya melakukan koreksi ataupun revisi pada media yang terlanjur menuliskan keterangan palsu dan berlebihan.

"Pada banyak kasus tersebut meski yang bersangkutan (narasumber) tidak proaktif dan tidak vulgar seperti Dwi, tetapi mereka mendiamkan dan seolah menikmati," kata Handoko kepada VICE Indonesia. "Fenomena ini menunjukkan bahwa bangsa ini haus prestasi dan inspirasi, sehingga mudah termakan oleh hal yang sifatnya gegap gempita. Pada saat yang sama ini menunjukkan bahwa literasi Iptek bangsa Indonesia masih rendah,"

Handoko berpendapat bahwa literasi Iptek bangsa Indonesia yang masih rendah membuat publik dan jurnalis menurunkan kadar skeptisisme mereka. Publik abai untuk menggali dan mempertanyakan kembali, sementara jurnalis abai untuk melakukan prinsip cek dan ricek.

Mungkin memang benar, jumlah penemuan teknologi yang didaftarkan di Tanah Air sangat minim. Sejauh ini hanya sekitar 34.000 paten yang terdaftar, di mana sekitar 95 persennya merupakan milik warga negara asing. Dari segi penemuan, Indonesia tertinggal jauh dari negara-negara berpenghasilan menengah G20. Negara ini terpuruk di peringkat 39 dari 45 negara versi Global Intellectual Property Center (GPIC) yang mencakup penilaian soal unsur-unsur Hak kekayaan intelektual, seperti paten, copyrights, trademark, dan enforcement. Jadi sekalinya ada yang mengklaim berhasil menemukan sesuatu, maka Ia pastinya salah satu makhluk terlangka di Indonesia.

Peneliti Media dari Remotivi, Roy Thaniago menegaskan bahwa keriuhan yang tercipta dari adanya kasus Dwi Hartanto tidak lepas dari peran media massa yang dalam kasus ini bisa saja disebut sebagai agen penyebaran hoax. Roy menegaskan bahwa jurnalis dan media punya tanggung jawab penuh kepada masyarakat sehingga, mereka punya kewajiban untuk melakukan verifikasi sebelum berita keluar, dan klarifikasi serta permohonan maaf jika berita dengan keterangan palsu terlanjur dipublikasi.

"Balik ke prinsip jurnalisme dasar, verifikasi," ujar Roy ketika dihubungi VICE Indonesia. "Ketika sebuah data dan berita dia terima, skeptisisme adalah hal yang harus dikedepankan. Skeptis terhadap data, informasi."

Roy pun menambahkan bahwa tidak cuma perihal kultur jurnalisme di media tempat seorang jurnalis berkerja yang berperan terhadap penyebaran kisah inspiratif bombastis ini. Ada gejala sosial kultur yang lebih luas berperan dalam konteks kasus Dwi, yakni kecenderungan cara masyarakat Indonesia mendefinisikan nasionalisme dan patriotisme dengan cara yang banal.

"Ada gejala poskolonial. Euforia, dan nasionalisme, sebagai bangsa yang dijajah. Rasa inferioritas terhadap diri cenderung sudah terbentuk," tutur Roy ketika dihubungi VICE Indonesia. "Jika ada orang Indonesia yang berhasil di luar negeri ini jadi dorongan, sehingga secara psikologis 'lupa' jadi wartawan (yang harus skeptis -red), jadi melibatkan emosi bahwa kasus ini harus diangkat,"

Namun sepertinya bukan hanya soal cara mendefinisikan nasionalisme. Kasus Dwi Hartanto bukanlah kejadian pertama. Sebelumnya ada kasus serupa yang tidak jauh-jauh dari soal klaim akan penemuan, prestasi atau pencapaian, atau kita bisa sebut "kisah sukses dan inspiratif" bombastis. Sebut saja klaim tentang tangan bionik buatan I Wayan Sutawan, seorang tukang las asal sebuah desa di Karangasem, Bali. Wayan mengklaim telah membuat lengan bionik. Beritanya tersebar di berbagai media di tanah air.

Dalam kasus lengan bionik Wayan, yang jadi fokus media massa adalah kontras antara latar belakang Wayan yang seorang juru las dari Desa kecil di Bali, dengan kemampuan canggihnya yang bisa membuat lengan bionik yang lazimnya hanya dibikin perusahaan-perusahaan besar. "Kisah inspiratif dari pelosok Bali" ini pun dapat perhatian luar biasa. Namun gemerlapnya hilang setelah beberapa ahli mulai meragukan bahwa klaim Wayan palsu, setelah tidak ada yang bisa menguji cara kerja "lengan bionik" tersebut selain Wayan sendiri. Beberapa ahli pun menambahkan adanya beberapa komponen yang semestinya ada pada robot, tetapi tidak ditemukan pada lengan bionik Wayan.

Ada juga cerita serupa dari tanah Rencong. Di sebuah desa di Kabupaten Aceh Timur, Nangroe Aceh Darussalam, disebut-sebut ada pohon kedondong yang menghasilkan listrik. Semua itu bermula dari kemenangan seorang anak bernama Naufal Raziq dalam lomba teknologi tepat guna yang diselenggarakan Balai Pemberdayaan Masyarakat Aceh. Inovasi itu lantas disambuk oleh Pertamina EP Lapangan Rantau yang bermarkas di dekat sana.

Pertamina EP lantas membuat program pengembangan kedondong listrik. Suatu hari dibikin lah acara seremoni merayakan jalannya program. Wartawan diundang, kabar keberadaan kedondong listrik bisa menghidupi kampung semakin luas tersebar. Belakangan, setelah diverifikasi jurnalis, diketahui bahwa listrik berhasil menyala saat ada acara atau ada pejabat yang datang saja, sebagaimana ditulis oleh Tempo. Sehari-hari, pohon-pohon kedondong itu ya pohon biasa saja. Tidak mampu menghidupi kampung.

Dalam konteks berita Wayan, Roy menambahkan bahwa kewajiban wartawan yang dituntut menyajikan berita yang unik menyebabkan adanya bias. bias urban, yang menjadi landasan asumsi bahwa orang desa seperti Wayan yang seorang juru las tanpa pendidikan robotik mampu berpikir dan berinovasi.

Sementara itu, melihat banyaknya "kisah inspirarif" terkait penemuan dan ilmu pengetahuan yang kian bombastis, Handoko mengingatkan awak media dan masyarakat untuk menghindari ekspos berlebihan. Ia mengingatkan bahwa ekspos berlebihan bukanlah bentuk apresiasi. Terakhir Handoko mengingatkan pentingnya melakukan cek dan ricek pada pakar terkait.

"Tanyakan ke pakar terkait untuk mengetahui kebenaran dan level klaim," kata Handoko yang berpesan pada awak media, agar kejadian serupa tidak terulang. "Itulah proses standar di komunitas ilmiah. Karena komunitas itulah yang paling paham perkembangan ilmu di bidangnya."

Tagged:
nasa
indonesia
Delft
Jurnalisme
Remotivi
Media Massa
Ilmuwan
B.J Habibie
Dwi Hartanto
hoaks
Dirgantara
Habibie