Tes Kepribadian Myers-Briggs Sebetulnya Cuma Omong Kosong

Padahal kadar ilmiahnya cuma sekelas ramalan tarot. Kenapa tes ini populer banget ya?

|
18 September 2017, 5:47am

Ilustrasi oleh Getty Images.

Apakah kamu seorang introvert atau extrovert? Lebih banyak pakai perasaan atau pikiran ketika bertindak? Selama bertahun-tahun, jawaban pertanyaan-pertanyaan berasal dari hasil tes Myers-Briggs Type Indicator (MBTI), sebuah survei laporan panjang diri sendiri yang dicetuskan Katharine Cook Briggs dan Isabel Briggs Myers di awal Abad 20. Pasangan Ibu dan anak ini bukan psikolog, tapi secara swadaya mempelajari teori-teori psikoanalitik klasik dari Carl Jung.

MBTI dibuat demi mengkategorikan individu melalui jawaban pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan berdasarkan interpretasi Jung perihal empat fungsi inti psikologi: extraversion vs introversion, intuitive vs sensing, feeling vs thinking, dan judging vs perceiving. Setelah selesai, kamu akan diberikan barcode empat digit (INFJ atau ESTP), dan setiap huruf melambangkan kecenderungan pribadi kamu di setiap spektrum yang disebut di atas, yang nantinya terbagi menjadi 16 tipe kepribadian yang berbeda-beda.

Kini, MBTI menjadi semacam studi psikologi populer yang bisa ditemukan dimana-mana. Banyak perusahaan menggunakan tes Myers-Briggs untuk membuat keputusan ketika hendak memperkerjakan pegawai. Banyak juga makalah akademik yang mengevaluasi korelasi antara MBTI dan tingkat kepuasaan pegawai. Berdasarkan pengalaman pribadi, banyak juga yang mencantumkan jenis kepribadian mereka di situs kencan macam Tinder. Kenapa sih tes ini bisa populer banget?

Ya tidak peduli seberapa logis dan pintar kamu, enak kan rasanya dimengerti oleh seorang ahli? Di 16personalities.com, situs komersil yang mencakup semua hal berhubungan dengan Myers-Briggs, itulah yang kamu dapatkan. "Rasanya luar bisa akhirnya dimengerti oleh seseorang," tulis sebuah kutipan yang terpajang di homepage situs tersebut.

Tentunya itu sentimen yang manis. Tapi sebelum kamu mulai ikut ngambil tes dan ikut-ikutan…

"Banyak penelitian di luar sana yang mengatakan bahwa MBTI tidak bisa memprediksi perilaku secara konsisten. Secara psikometri, konstruksinya juga aneh," kata Ronald Riggio, seorang Doktor Bidang Psikologi dari University of California, Riverside, dan saat ini mengajar di Claremont McKenna College. "Pertama kali saya melihat tes MBTI, saya kira itu bikinan mahasiswa baru, soalnya kacau banget konstruksi pertanyaannya."

Ketidaksukaan Riggio terhadap tes ini diamini oleh banyak orang dari komunitas psikolog profesional. Seorang spesialis tes kepribadian, Robert Hogan menyebut MBTI "tidak beda jauh dengan ramalan," dalam bukunya Personality and the Fate of Organizations. Adam Grant, seorang psikolog dari University of Pennsylvania juga mengatakan "tidak ada bukti bahwa tes Myers-Briggs akurat."

Grant menyimpulkan MBTI tidak memiliki "kemampuan prediktif terhadap kondisi psikologis seseorang," sama sekali. David J. Pittenger, asisten profesor yang pernah meneliti MBTI di University of Indiana dalam sebuah paper awal 90an menulis tanpa tedeng aling-aling bahwa, "tidak ada bukti jelas bahwa ada 16 kategori unik ini dapat menjelaskan semua kepribadian manusia."

Keluhan utama tentang MBTI adalah bagaimana tes tersebut bisa mengukur insting kognitif. Myers-Briggs bekerja dalam binari—entah kamu masuk kategori judging (bertindak cepat, dan terorganisir) atau perceiving (lebih terbuka, toleran dan mudah beradaptasi), intuitive (menggunakan insting) atau sensing (menggunakan logika)—yang memasukkan peserta ke dalam kategori berdasarkan jawaban mereka. Masalahnya, ini tidak melambangkan kompleksnya kepribadian manusia, yang tidak bisa diukur secara hitam dan putih. Kebanyakan orang berada di area tengah-tengah, dan inilah prinsip dasar yang MBTI gagal untuk mengerti.

"Untuk introversion dan extroversion, kamu diberikan huruf 'I' atau 'E'. Dan karena tesnya bersifat benar/salah, tidak banyak variasi yang bisa terjadi," jelas Riggio. "Tes kepribadian yang lain mengukur kepribadian sebagai sebuah kontinum. Mereka bisa mengatakan, 'Kamu agak I,' atau ,'Kamu ada di tengah-tengah,' atau, 'Kamu agak E.'"

Riggio juga tidak terlalu menganggap hasil penelitian Carl Jung, karena ya Carl Jung bukanlah seorang peneliti. Jung muncul dari era psikologi Freudian, yang lebih bersifat meratapi kondisi manusia dan bukan sains. "Teori Jung tidak dianggap solid," jelasnya. "Dia bukan seorang yang empiris. Dia tidak mengumpulkan data."

Lalu kenapa MBTI populer banget? Ini mungkin karena mereka deksripsi yang mempesona bagi setiap kepribadian. Tidak ada unsur negatif di 16personalities.com. Semua kalimat mengandung optimisme—lengkap dengan sub-kategori menjabarkan persahabatanmu, hubungan romantis, kesempatan karir, dan kebiasaan di lingkungan kerja. Bahkan ada pilihan profile premium berbayar yang menjanjikanmu cara untuk "menyayangi semua orang berdasarkan kualitas positifmu dan cara memanfaatkan kelemahan kita."

"Deskripsi dasarnya semua ditulis secara positif," jelas Riggio. "Psikologis menyebut ini Barnum Effect. Barnum Effect mengatakan ketika kamu menulis sesuatu yang sangat umum (bisa diterapkan ke semua orang), mereka akan terdengar benar. Justru hal-hal yang serba positif dan generik akan menyebabkan orang berucap, 'Wah gila ini bener banget—ini gue banget.'"

Ya intinya, tes MBTI gak beda jauh sama hororskop.

Tapi ya ada juga beberapa orang dalam komunitas psikolog yang menggunakan tes Myers-Briggs, terutama kamu hendak memperkerjakan seseorang. John Johnson, seorang psikolog kepribadian di Pennsylvania State University mengatakan biarpun MBTI memang gagal menggambarkan kompleksitas spektrum luas introversion/extroversion, misalnya, masalah ini juga menimpa evaluasi-evaluasi kepribadian lainnya.

"Ketika kamu hendak membuat keputusan berdasarkan skor kepribadian, keputusan itu sudah pasti bersifat binari atau kategoris," jelasnya. "Contohnya, apakah seorang individu memiliki sifat kepribadian A, B, atau C yang cukup sesuai kebutuhan pekerjaan? Kamu harus memutuskan mau memperkerjakan orang tersebut atau tidak—tidak ada area abu-abu. Dalam kasus macam ini—entah tentang orang lain, atau kamu sendiri—kamu dipaksa untuk memperlakukan spektrum kepribadian sebagai tipe kategori."

Tetap saja, Johnson sadar bahwa dia adalah bagian dari minoritas di komunitas psikolog. Tapi gakpapa—dia memperjuangkan hak orang-orang awam seperti kita untuk menikmati diagnosis tes kepribadian tanpa merasa bodoh. "Psikolog-psikolog akademis hampir secara universal mengkritik MBTI dan tes-tes yang serupa karena tidak mengikuti standar profesional penilaian psikologis," jelasnya. "Kontroversinya disebabkan karena adanya psikolog akademis yang menolak MBTI, namun disisi lain ada juga praktisi di bidang lain yang menggunakan MBTI dan menganggapnya berguna."

Riggio mengakui hal ini. "Kalau orang melakukan penelitian yang cukup, ya saya rasa gpp ngambil MBTI buat eksplorasi diri," katanya. "Kalau orang jadi tertarik dengan psikologi, ini kan efek yang positif."

Tidak ada yang salah dengan mengambil tes Myers-Briggs, selama kamu tidak menganggap hasilnya kelewat serius. Bayangkan saja tes ini tidak beda jauh dengan pembacaan kartu tarot, ramalan telapak tangan, hororskop, atau kuisnya BuzzFeed. Pendek kata, enggak perlu kalian anggap serius banget.

Follow Luke Winkie di Twitter.