Terorisme

Menyambangi Rumah Keluarga Bomber Surabaya Sebelum Serangan Bom Gereja Terjadi

Dita Oepriarto dan Puji Kuswati dikenang ramah, bahkan dengan tetangga beragama Kristen. Satu tetangga menggambarkan suasana rumah Dita semasa hidup dulu, plus isyarat ganjil yang ditinggalkan pelaku sebelum menjemput maut.
16 Mei 2018, 11:52am
Foto ilustrasi, ini bukan tampak depan kediaman Dita Opriarto. Personel Densus 88 berjaga di rumah tersangka teroris, yang diduga masih mengenal Dita di Medokan Ayu, Surabaya. Beawiharta/Reuters

Beberapa jam sebelum kedatangan aparat, Wery sudah mendengar pada Minggu 13 Mei pagi terjadi rentetan pengeboman dialami tiga gereja Kota Surabaya. Tak sedikitpun terlintas di pikiran Wery tetangga sebelah rumahnya bakal terkait serangan teror keji macam itu. Barulah ketika polisi datang dua jam setelah ledakan terjadi, mencari-cari rumah pasangan Dita Oeprarto dan Puji Kuswati—pelaku utama pengeboman Surabaya—Wery sangat terguncang.

“Enggak ada sama sekali pikiran itu,” kata Wery Trikusuma, ketika ditemui VICE di kediamannya di Komplek Perumahan Wisma Asri, Wonorejo, Kecamatan Rungkut, Surabaya.

Ia bahkan sempat mengira dua petugas berpakaian sipil adalah debt collector. Keraguannya segera berbalik begitu dua reserse yang datang menyusul menunjukkan foto jenazah Dita dan Puji kepadanya, baru dia yakini tetangganya adalah pelaku teror mengerikan tersebut.

Berambut gondrong sepundak dengan perawakan tegap, Dita Oepriarto digambarkan Wery sebagai sosok terbuka, ramah, dan suka bertegur sapa dengan tetangga.

Wery bukanlah satu-satunya tetangga yang terguncang. Anang, 42 tahun, tetangga yang rumahnya selang serumah dengan kediaman Dita dan Puji, sulit mempercayainya. Selain memang dikenal cukup baik, dia merasa tak ada sama sekali gejala atau keluarga Dita dan Puji menganut paham radikal.

Wery Trikusuma, 46 tahun, tetangga pelaku pengeboman gereja Surabaya. Rumah Wery persis di sebelah rumah keluarga pelaku. Foto oleh W.Andriana.

Pakaian yang dikenakan pasangan Dita dan Puji sehari-hari biasa saja. Mereka bukan pribadi tertutup. Tak pernah tampak ada lalu-lalang mencurigakan di kediaman mereka. Pun tak pernah ada acara-acara seperti pengajian terbuka di sana.

Tak hanya itu, Dita dan Puji pun tampak sebagai kepala rumah tangga yang terbuka pada siapapun, termasuk tetangga yang beda keyakinan, yang rumahnya persis bersebelahan dengan mereka. “Malah, dalam beberapa kesempatan, Pak Dita juga sering ngasih jajan ke tetangga yang beda keyakinan itu,” kata Anang.

Tinggal di komplek Perumahan Wisma Asri sejak lima tahun lalu, Dita dikenal sebagai pengusaha minyak herbal, seperti minyak jinten hitam, yang dibuat dengan tanpa campuran kimia dan proses pemanasan. Oleh Dita, tiap liter minyak tersebut dijual dengan harga Rp250 ribu.

Di beberapa situs jual beli online, Dita memasang alamat rumahnya sebagai lokasi usaha, tepatnya di Perumahan Wisma Indah Blok K-22, Wonorejo, Rungkut, Surabaya. Dita menggunakan bendera Usaha Dagang 'Dita Print' untuk bisnisnya. Karena sifat bisnisnya seperti itu, tetangga pun maklum jika ada orang kerap datang ke rumahnya. Mereka mengira rata-rata yang datang adalah konsumen.

Menurut Wery, bisnis Dita cukup lancar. Konsumen yang datang rata-rata membeli dalam jumlah besar. “Kan memang tidak dijual eceran. Jadi memang melayani partai besar. Pakai jeriken-jeriken gitu yang beli,” kenangnya.

Wery mengaku sempat beberapa kali masuk ke rumah Dita. Sepanjang yang ia ketahui, tidak ada yang janggal. Di bagian belakang rumah, banyak galon-galon Aqua berisi minyak. Tak ia temukan gambar, bendera organisasi tertentu, atau simbol-simbol agama di dinding rumah.

Bagian depan rumah mendiang Dita dan keluarga kini setelah dipasangi garis polisi. Foto oleh W. Andriana.

Pada 15 Mei lalu, VICE mendatangi rumah Dita. Rumah bercat krem itu masih ditutup garis polisi. Beberapa papan kayu lapis juga dipasang untuk menutupi pandangan. Melalui celah papan tersebut, VICE sempat melihat bagian teras rumah. Dua sepeda motor serta beberapa sepeda pancal. Selain itu, ada juga beberapa boks pendingin di sana. Sementara kaca pintu dan jendela terlihat pecah. Beberapa petugas kepolisian dari Polsek Rungkut juga masih berjaga di lokasi.

Misnah, istri Wery, yang mengaku dekat dengan Puji Kuswati, menilai tak ada yang aneh pada tetangganya itu. Dalam beberapa kesempatan, mereka berdua kerap ngobrol. “Obrolan khas ibu-ibu lah mas” kata Misnah. Kepada dirinya, Puji sering berbagi cerita bagaimana cara mendidik anak-anak supaya rajin beribadah.

Misnah mengatakan bahwa Puji aktif di kegiatan PKK. Ia selalu ikut acara arisan ibu-ibu kompleks yang digelar sekali sebulan. Hanya saja, dalam empat bulan terakhir, Puji tak tak pernah hadir. Tapi, uang arisan sudah dibayar lebih dulu dengan cara dirapel. Begitu juga dengan iuran dana kematian, sudah lunas hingga Desember 2018.

Foto keluarga Dita-Puji terakhir, Dita saat itu belum terlalu gondrong, bersama seluruh anak yang tersebar di media sosial.

Terakhir kali ngobrol dengan Puji adalah pada hari Minggu subuh, persis sebelum pengeboman. Misnah yang hendak ke pasar sempat bertegur sapa dan mengobrol dengan Puji. Dalam obrolan singkat itu, Puji menyinggung perihal kebiasaan Misnah yang sering minta izin memetik belimbing wuluh di depan rumah Puji. “Nanti, sewaktu-waktu butuh belimbing wuluh untuk obat darah tinggi, langsung ambil saja ya tanpa harus menunggu saya," kata Misnah menirukan kata-kata Puji.

Di sisi lain, meski dikenal sebagai keluarga terbuka, tidak diketahui pasti dimana Dita dan keluarganya tinggal sebelum pindah ke Wisma Indah Blok K-22, Wonorejo saat ini. Bagaimana pula awal interaksinya dengan komunitas Jamaah Ansharut Daulah, hingga berujung pada pengeboman tiga gereja, juga tidak banyak diketahui.

Rumah Dita (kiri) dan Wery (kanan). Foto oleh W. Andriana.

Penelusuran VICE di kalangan alumni SMA 5 (Smala) Surabaya, tempat Dita bersekolah dulu juga tidak banyak mengungkap sosok yang disebut sebagai top komando JAD di Surabaya. Dr. Prayudi, alumni Smala yang sebelumnya aktif di SKI (Sie Kerohanian Islam) tak pernah mendengar nama Dita. Pada data keanggotaan SKI, juga tidak muncul namanya. “Di kegiatan temu alumni, juga tidak ada,”terang alumnus Smala tahun 1995 itu.

Pihak Unair, tempat dimana Dita sempt kuliah tak menampik kabar tersebut. Bahkan, pihak Unair juga membuat rilis terkait status Dita di kampus berlogo garuda mukti itu. Dalam rilis yang ditandatangani itu, pihak Unair mengakui bahwa yang bersangkutan sempat tercatat sebagai mahasiswanya dengan nama Dita Oepriarto.

Kala itu, Dita terdaftar sebagai Mahasiwa Fakultas Ekonomi jurusan Manajemen Pemasaran program Diploma III (bukan akuntansi sebagaimana yang banyak diberitakan sebelumnya) dengan Nomor Induk Mahasiswa (NIM) 049114141P tahun 1991. Hanya, perkuliahan yang dijalani Dita tidak sampai tuntas.

Dari Universitas Airlangga, tempat Dita kuliah, juga tak banyak ditemukan informasi berharga. Dari sana hanya diketahui bahwa Dita drop out sebagai mahasiswa Diploma III Manajemen Pemasaran ketika baru menempuh 47 SKS dengan nilai IPK 1,47. “Yang bersangkutan juga tidak pernah aktif di organisasi kemahasiswaan atau senat mahasiswa atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM),” tulis rektor Unair Moh Nasih dalam maklumat yang didapat VICE. Selama menjadi mahasiwa, Dita juga tidak aktif pada kegiatan SKI (Sie Kerohanian Islam) atau di masjid kampus.

Hanya saja, pihak kampus memastikan bahwa Dita memiliki guru dan pembimbing lain yang lebih intens serta berpengaruh, selain dosen waktu kuliah. Nah, siapa guru pembimbing yang dimaskud? hingga laporan ini dibuat, masih dalam penelusuran.

Lain cerita dengan Dita yang tumbuh di lingkungan perkotaan, Puji Kuswati, istrinya melewati masa remajanya di pedesaan. Lahir di Banyuwangi, Puji yang diidentifikasi sebagai pelaku bom bunuh diri di GKI Jalan Diponegoro itu disebutkan pindah ke Magetan sejak umur 20 bulan. Di sana, Puji tinggal bersama budenya di Desa Krajan, Kecamatan Parang. Di bawah asuhan sang bude ini pula, Puji melewati masa kecilnya hingga lulus SMA 2 Magetan, sebelum akhirnya pindah ke Surabaya.

Wakasek Humas Sekolah SMA 2 Magetan, Budi Sumulyo membenarkan kabar jika Puji sempat belajar di sekolahnya itu. “Betul. Saya sudah cek berkas-berkas di kantor, ternyata memang pernah sekolah di sini,” katanya saat dihubungi melalui sambungan seluler, Rabu (16/5). Di sekolah ini, Puji disebutkannya lulus tahun 1993 silam.

Karena sudah berlangsung lama, Budi sendiri tidak mengetahui secara pasti bagaimana sosok Puji ketika itu. Namun, berdasar data dan juga sejumlah informasi yang diperolehnya, Puji tergolong sosok pendiam. Ia tidak banyak bergaul dengan teman-temannya. Selain itu, yang bersangkutan juga tidak aktif di organisasi kesiswaan semacam OSIS. “Hanya saja, kalau melihat absensinya, dia rajin. Jarang tidak masuk,” ujarnya.


Tonton dokumenter VICE mengenai upaya mantan anggota Jamaah Islamiyah menderadikalisasi anak-anak napi teroris agar tak mengikuti ideologi fatalistik:


Kepala Desa Krajan, tempat dimana Puji Kuswati tinggal, Mujiono mengatakan, di desanya, Puji diasuh budenya, Sukar yang sudah meninggal. Lulus dari SMA 2 Magetan, Puji yang memang dikenal cerdas ini kemudian melanjutkan kuliah S1 di Surabaya. Lulus S1 di Surabaya, Puji lantas menempuh S2 di Australia. Kabar tersebut ia peroleh dari kerabatnya di Magetan.

Semua yang tersisa sekarang tinggal isyarat-isyarat ganjil dari Dita maupun Puji, yang tak disadari para tetangga. Termasuk Misnah yang sempat bertemu Puji terakhir kalinya, membahas ajakan mengambil belimbing Puji tanpa perlu izin, sebelum aksi keji terjadi. Karena merasa hanya obrolan biasa, Misnah bergegas ke pasar. Tak lama kemudian dia kembali. Saat itu rumah dengan tipe 70 itu sepi. Mobil yang tadinya terparkir di depan rumah juga sudah tak nampak.

Keluarga itu rupanya pergi menjemput maut, sembari mengoyak kedamaian kota Surabaya selama-lamanya.