ilustrasi perempuan berhijab melihat foto sekelompok perempuan tanpa hijab
Ilustrasi oleh Ellice Weaver.
media sosial

Finsta Memberi Ruang Berekspresi Bagi Perempuan Berhijab di Medsos

Jauh sebelum ada yang namanya finsta, aku sudah punya akun pribadi yang cuma diikuti teman dekat cewek. Di sana, kami bebas mengunggah apapun sesuka hati.
28 Juni 2020, 7:00am

Esai ini juga diterbitkan dalam VICE Magazine edisi Privacy & Perception, hasil kerja sama dengan Broadly. Kalian bisa membaca lebih banyak cerita dari edisi ini di sini.


Aku pertama kali bikin akun medsos saat masih kelas enam SD. Karena harus mengunggah foto profil, teman-teman satu pengajian—semuanya perempuan Muslim Somalia—memfoto aku pakai kamera snapshot. Aku lalu menjadikannya foto profil di Myspace. Aku mengedit pakai Blingee dan Microsoft Paint karena saat itu aku belum mengerti caranya memotong gambar.

Rasanya deg-degan banget. Main Myspace saja sebenarnya enggak boleh, apalagi mengunggah foto di internet. Ibuku sangat religius, dan dia takut ada kenalan yang menemukan profil dengan fotoku. Bisa-bisa mereka mengira aku bersikap enggak senonoh.

Sehabis sekolah agama Islam setiap minggunya, aku dan teman-teman cewek akan belajar geometri bareng dan main Myspace diam-diam ketika orang tua enggak mengecek. Kami sibuk memilih mana yang mau dijadikan foto profil. Walaupun fotonya biasa saja, kami pasti harus menjelaskan kepada orang tua kalau sampai ketahuan. Jadinya kami selalu pakai foto seaman mungkin, dan enggak terpikir untuk mengunggah foto tanpa hijab.

Aku sangat hati-hati saat mulai main Facebook. Aku memilih siapa saja yang bisa menjadi teman di sana. Aku berpura-pura enggak punya Facebook di depan keluarga. Ketika ngomongin soal Facebook dengan teman di saat ada orang tua dan bibi, kami akan menerjemahkannya ke dalam bahasa Somalia— waji (face) dan buug (book)—supaya mereka enggak ngerti apa maksudnya. Tak ada satupun dari kami yang menggunakan nama asli, dan kami mulai mengunggah foto diri sendiri di Facebook. Orang-orang di luar lingkaran pertemananku enggak akan tahu akun itu.

1529075003547-PURPLE_1

Pada 2015, jurnalis Meredith Haggerty membahas kebangkitan fenomena “alt-Twitter” dalam artikel WNYC. Dia menggambarkannya sebagai “akun terkunci yang pengikutnya dipilih sendiri, dan pengguna bisa mengetwit apapun sesuka hati.” Dengan alt-account, mereka mendapatkan kebebasan dan privasi yang enggak dimiliki pada akun utama.

Bagi perempuan Muslim sepertiku, ini bukan fenomena baru. Banyak teman, bibi dan sepupu berhijab yang menggembok akun Instagram mereka dan menuliskan “KHUSUS CEWEK” pada bio agar bisa mengunggah foto tanpa jilbab. Ini mengingatkanku pada acara khusus perempuan yang biasa aku hadiri semasa muda dulu. Kami bisa melepas hijab karena enggak ada laki-laki di sana. Dalam pesta pernikahan, misalnya, tamu undangan dipisah sesuai jenis kelamin mereka. Para perempuan datang mengenakan kerudung dan abaya, tapi kemudian melepasnya dan menari bersama perempuan lain. Enggak perlu khawatir ada laki-laki yang melihat kami.

1528987397698-UNCOVERING

Masyarakat terlalu mengatur tubuh Muslimah kulit hitam. Di satu sisi, kami sering diseksualisasikan karena warna kulit. Tapi di sisi lain, identitas sebagai perempuan Muslim membuat kami dicap polos dan enggak paham seks. Dengan adanya ruang selektif dan privat—baik online maupun bukan—kami bisa menjadi diri kami sesungguhnya.

Ketika tumbuh dewasa, aku enggak bisa membicarakan hal-hal tertentu karena itu akan membuatku tampak seperti perempuan nakal. Selama bulan Ramadan, perempuan yang menstruasi enggak boleh berpuasa. Semua orang sudah tahu ini, tapi aku merasa enggak perlu ngomong ke ayah atau saudara laki-laki. Aku curhat soal percintaan sama teman-teman, enggak pernah dengan orang tua.

Dalam akun privat, Muslimah bebas mendiskusikan apa saja bersama teman-teman ceweknya, bahkan untuk hal “tabu” seperti seks, ukuran penis, vibrator, dan birth control sekalipun. Topik-topik ini sebenarnya enggak menentang ajaran Islam, tapi perempuan Muslim dianggap enggak pantas membicarakannya di depan umum. Seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, ada stigma perempuan nakal jika kami terlalu blak-blakan. Itulah mengapa kami menjadikan akun digembok sebagai pelarian.

1529075022374-PURPLE_2

Aku sudah bosan Facebook-an ketika beranjak 15 tahun. Begitu main Twitter, Tumblr dan Instagram, aku bakalan pindah ke second account setiap mau berkeluh kesah tentang politik atau menceritakan pengalaman seputar seks, pacaran atau narkoba. Aku takut ketahuan orang tua dan dihina ‘Muslimah kerdus’ oleh sesama Muslim jika mempostingnya di akun publik.

Tapi pada saat yang sama, aku butuh meluapkan emosi di medsos. Di Tumblr, aku suka ngeblog panjang lebar soal gebetan, guru, pertengkaran dengan teman, dan pengalaman nge- high. Tumblr memiliki tingkat anonimitas yang tinggi. Tak ada satupun pengguna menggunakan nama asli mereka. Yang tahu username Tumblr-ku pun cuma teman dekat saja. Pada masa remaja, penting rasanya menuliskan pengalaman-pengalaman ini secara rahasia, seperti ketika kita masih bercerita di buku harian.

Aku sekarang lebih memahami pentingnya privasi melalui lensa identitas. Beberapa orang menilai kepribadian dan kehidupanku hanya dari apa yang mereka lihat di akun medsos milikku, termasuk orang tak dikenal yang mengira aku mewakili seluruh perempuan Muslim kulit hitam di dunia ini. Bahkan ketika aku mencoba menghindari penggambaran penuh sopan santun dan terhormat, aku sadar enggak bisa mengatur cara orang memandang perempuan kulit hitam di internet. Perdebatan atau diskusi sesepele apapun itu bisa menimbulkan kemarahan besar.

Sementara itu, wajahku di internet mewakili wajah anggota keluargaku. Banyak orang Somalia meninggalkan negaranya karena perang saudara, dan kami menjadikan internet sebagai tempat berkabar dengan satu sama lain selama 20 tahun terakhir. Kami mungkin akan menjadi pribadi yang lebih kompleks jika enggak terpisah seperti ini dan cuma bisa mengandalkan media sosial.

Sejak masih muda, aku sudah menyadari betapa identitas ini membuat diriku ‘tak terlihat’ dan ‘ hypervisible’. Aku tak mampu membaur dengan orang-orang yang berbeda dariku. Aku sudah enggak punya finsta lagi sekarang, tapi kadang masih buka akun privat di Twitter ketika ingin melampiaskan sesuatu. Memiliki akun alter mungkin terdengar konyol, tapi dari akun ini aku bisa memilih bagaimana orang-orang memandangku dan siapa saja yang bisa melihatnya. Dan itu memberikan kebebasan sesaat untukku.