Iklan
LGBTQ di Indonesia

Influencer Berlatar LGBTQ di Indonesia Dilarang Jadi Dirinya Sendiri

Banyak brand tertarik memanfaatkan persona para influencer berlatar queer di instagram. Masalahnya brand-brand itu ternyata tak suka jika para queer menampilkan jati dirinya secara terbuka.

oleh Bintang Lestada
06 Juni 2018, 8:17am

Ilustrasi oleh Dini Lestari

Di era Instagram, susah memberi batas antara sebuah brand dan kepribadian seseorang. Keduanya seringkali tercampur aduk, sengaja ataupun tidak.

Hal ini tak selalu buruk. Sebagai laki-laki queer, saya sulit menemukan representasi di media saat beranjak dewasa. Untungnya, Instagram bisa jadi platform bagus untuk laki-laki queer yang punya gaya menarik atau bakat, seperti Troye Sivan, Nyle DiMarco, atau Bretman Rock, untuk menemukan lampu sorot mereka. Tapi industri pemasaran influencer di Indonesia adalah dunia yang keras bagi sebagian orang, yang seringkali harus menjaga citra mereka dengan ketat supaya brand-brand mau menggunakan jasa mereka.

Tapi mereka semua kan tinggal di luar negeri, terus gimana dengan influencer laki-laki queer di negara yang masyarakatnya fobia homo seperti Indonesia?

“Susah tau jadi influencer gay atau LGBT. Image yang pengen dibuat tuh pasti limited banget,” ujar Samrisux*, 21 tahun. Ia memilih untuk menutup identitas aslinya karena, yah tahu sendiri kan ya, namanya juga Indonesia.

Dia menata postingan instagramnya serupa kepribadiannya—terang dan ceria. Pelan-pelan pengikutnya membukit, kini berjumlah 16.000, karena dia rutin mengunggah konten busana siap pakai, pengalamannya jalan-jalan ke luar negeri, dan dunia malam di Bandung dan Jakarta. Online dan offline, citranya dianggap cukup kontroversial.

Dia mengenakan pakaian “racy,” sering mengganti warna rambutnya, dan berpesta tiap malam. Selain itu, dia mengelola pesta-pesta ramah LGBT di Bandung, tempat dia tinggal. Setelah bekerja sebagai salah satu staf pemasaran di salah satu klub di Bandung, dia mulai dipekerjakan oleh perusahaan-perusahaan sebagai blogger lifestyle. Setelah itu, Samrisux diterbangkan ke Singapura, Jepang, dan Los Angeles untuk membuat konten Instagram.

Tetapi, salah satu manajer dari perusahaan yang menyewa jasanya mendapatinya berciuman dengan seorang laki-laki di LA. Mulanya, ini bukan masalah besar. Tapi setelah kontrak Samrisux habis, perusahaan tersebut membuat peraturan baru untuk tidak menyewa influencer laki-laki yang queer. Alasannya? Ya karena perusahaan tidak mau citra mereka rusak.

Kenapa? Perusahaan itu benar-benar takut citra brand mereka runtuh karena influencer yang mereka ajak kerja sama ketahuan queer. Gimana enggak, ini negara di mana 90 persen warganya memandang LGBTQ sebagai komunitas yang merusak akhlak dan moral.

Budaya influencer (atau buzzer, brand ambassador, penggiring opini, apapun deh) telah ada cukup lama, sebelum ponsel pintar ada. Masih ingat, kan, saat Paris Hilton membuat Juicy Couture sangat diminati pada 2000an?

Namun kolaborasi antara influencer dan merk berubah drastis dengan keberadaan Instagram. Kurang dari lima tahun terakhir, istilah “influencer” masih jarang terdengar. Sekarang, berkat media sosial, banyak orang menjadi terkenal tanpa mengikuti tahapan-tahapan tradisional untuk menjadi seleb.


Tonton dokumenter VICE soal para penari lelaki Lengger di Banyumas yang berusaha menghidupkan tradisi lama yang sempat dilarang OrBa:



Kalau mereka punya cukup followers, brand rela membayar mahal supaya produk mereka dipasang di postingan mereka—baik secara halus atau terang-terangan. Ini genius sih, cara yang mudah untuk mendapat uang bagi influencers dan supaya brand-brand jadi lebih terkenal.

Dua tahun lalu, Forbes memprediksi influencers akan punya kekuatan yang lebih besar ketimbang media konvensional lewat kolaborasi-kolaborasi ini. Tapi, gimana kalau kamu seorang influencer di negara dengan homofobia mendarah daging?

Standarnya lebih tinggi, dan tak adil. Irin* dulunya hanya dikenal sebagai atlet karate saat agensi model mengontaknya empat tahun lalu. Sekarang, semua konten Instagramnya putih bersih, hanya menunjukkan foto-foto brand fashion kelas atas yang dipampang bareng dengan teman-teman modelnya. Irin bilang dia memang lebih suka instagramnya terlihat begitu, tapi pada saat yang sama mengakui agensi-agensi itu mengintai semua postingan yang dia bikin.

“Mereka ngasih tahu aku dan model-model lain untuk jaga perilaku di media sosial,” kata Irin. “Kita diminta sama agensi untuk gak nyinyir ke model atau agensi lain aja karena image modelling agency, apalagi agency aku tuh, classy. Tapi bahkan beberapa temen aku tuh bakal dibrand ulang sama agensinya. Apapun deh, dari baju sampai perilaku.”

Itu masih belum parah-parah amat. Ada Queer influencer yang saya ajak ngobrol untuk diminta untuk mengurangi-ngurangi pamer kepribadian mereka yang “flamboyan” , lebih selekftif pilihan fashion, dan kalau bisa tak perlu unjuk-unjuk pada publik perihal pandangan politik mereka.

Ketika Valerie MS, lagi-lagi bukan nama sebenarnya, bekerja sebagai influencer dengan perusahaan rokok, dia secara khusus diperintahkan untuk tampil lebih “keras” dan “macho”—kebalikan dari citranya di dunia fashion. Perusahaan rokok menyewanya karena dia “mewakili keberanian dalam masyarakat” namun, mereka berusaha menyensornya. “Ya tapi mau gimana pun juga, perusahaan-perusahaan ini mestinya udah tahu kalo jaman sekarang gak semua influencer yang cowok, apalagi yang gay, itu gak typical ‘manly’ yang muscled gitu-gitu.”

Sangat ironis—perusahaan akan menggunakan queer influencer karena gaya, kepribadian, atau bakat mereka, untuk mendapatkan keuntungan. Tetapi, pada saat yang sama, memberi tahu influencer bahwa mereka tidak dapat menjadi diri mereka sendiri. Jadi ketika kita berbicara tentang pencitraan di media, siapa sebenarnya yang mengendalikan representasi itu?

Saya ngobrol dengan fashion stylist dan influencer Ilonk Sarizqi, yang tenar karena memposting sketsa mode dan foto Outfit of the Day di ASK.fm dan Instagram. Dia mengatakan kepada saya bahwa dia terpilih sebagai salah satu dari lima influencer oleh perusahaan layanan jaringan belum lama ini, karena selera mode androgynous dan pengalaman dia jalan-jalan. Saya bertanya apakah dia dapat melihat perusahaan-perusahaan ini mendukung hak-hak dan influencer LGBT di komunitas LGBT di masa depan, dan dia optimistis.

“Ya harus dong,” katanya. “Karena dari semua influencer, mereka milihnya aku. Jadinya pasti mereka bisa embrace isu-isu LGBTQ. Karena ke depannya, kalau mereka mau hire influencer yang ‘belok’, mereka udah harus tahu gimana plan untuk marketing kita. Mereka udah harus siap untuk nge-handle hal-hal negatif, apalagi kita di Indonesia, yang masih konservatif dan masih agamis gitu.”

*Nama semua narasumber sudah diubah untuk melindungi privasinya