Difoto oleh Ruth Assai untuk Majalah GARAGE .

Perempuan Menjadi Penggerak Gelombang Baru Perfilman di Nigeria

Penulis Adébólá Ráyò mengingat kembali masa remajanya ketika ia tumbuh besar menonton, dan menyaksikan bagaimana sineas perempuan membuat perubahan-perubahan besar

|
Sep 6 2018, 7:12pagi

Difoto oleh Ruth Assai untuk Majalah GARAGE .

Seringkali, memori saya kembali ke era kanak-kanak: pertengahan era sembilan-puluhan. Saya sedang duduk di ruang tamu rumah orang tua dengan kakak adik dan beberapa anak tetangga. Kami semua baru selesai menonton sebuah film, dan salah seorang dari kami berusaha mengeluarkan video kaset dari pemutar agar kami bisa nonton yang lain. Sembari menunggu, kami membahas tentang film-film dan aktornya.

Kebanyakan dari kami perempuan, jadi seringkali kami membahas aktor wanita yang kami idolakan. Ada satu adegan dari film Glamour Girls (1994) besutan Chika Onukwufor di mana Barbara Odoh, sebagai Helen, mengenakan gaun off-the-shoulder hijau berkilau. Rambutnya terlihat sempurna ketika dia berjalan membawa gulungan film yang akan digunakan untuk memeras seorang kandidat gubernur. Dia terlihat sangat menawan dan berkuasa. Seperti inilah ingatan saya akan aktor wanita dari film-film Nollywood di era tersebut.

Banyak orang menunjuk ke Living in Bondage (1992) karya Chris Obi Rapu, film pertama yang terjual lebih dari setengah juta kopi, sebagai awal dari Nollywood. Namun banyak juga yang kekeuh mengatakan industri film Nigeria sudah ada beberapa dekade sebelumnya. Orang-orang bahkan memiliki definisi yang berbeda tentang apa itu “Nollywood” sebenarnya. Namun mereka semua setuju bahwa di era 90-an lah industri film Nigeria mulai menarik perhatian dan menjadikannya yang terbesar kedua di dunia. Film-filmnya seringkali dibikin dengan anggaran rendah dan langsung diproduksi untuk VHS—karakteristik yang justru memberikan mereka akses ke ruang tamu-ruang tamu keluarga Nigeria. Nilai produksi ini justru berkembang menjadi semacam glamor estetika low-fi yang khas.

Namun tidak peduli betapa menawan penampilan para aktor wanita dan kemampuan akting mereka, seringkali plot filmnya tidak menawarkan kualitas yang sama. Perempuan biasanya entah dibuat menderita atau mengalami opresi—dalam Living in Bondage, sang suami tokoh utama mengorbankan nyawa istrinya ke Iblis demi mendapatkan kekayaan yang diimpikan—atau sebagai perempuan yang tujuan hidupnya hanyalah menjadi kaya dan mendapatkan suami, seperti di Glamour Girls. Ini tidak mengherankan: selain sutradara langka seperti Amaka Igwe yang menghasilkan film romansa prasangka kelas paling populer di tahun 1996, Violated, kebanyakan sutradara dan penulis film adalah laki-laki.


Tonton dokumenter VICE yang membahas tentang perkembangan Nollywood di Nigeria:


Namun dalam dekade terakhir, sekelompok sutradara baru, “Nollywood Baru,” telah bermunculan—dan banyak dari mereka perempuan. Mereka-mereka ini menciptakan film dengan budget yang lebih besar dan narasi yang lebih baik; merilis film mereka di bioskop alih-alih sekedar DVD; dan kadang memutar film mereka di festival film internasional.

Sekarang hampir tidak mungkin membahas sutradara Nollywood tanpa menyebut nama Kemi Adetiba, yang film penuh pertamanya, The Wedding Party, menjadi film paling laku Nigeria pada tahun 2016.

Begitu pula Mildred Okwo, yang film satir politiknya, The Meeting (2012) diputar pertama kali dengan sebuah pidato dari presiden Nigeria saat itu, Goodluck Jonathan; atau Tope Oshin Ogun, sutradara, produser dan casting director perempuan yang luar biasa. Kegigihan Igwe-lah yang membuka jalan bagi mereka untuk membangun karir sebagai sutradara dalam industri yang tadinya didominasi oleh lelaki.

Jalan masih panjang dalam perihal representasi karakter perempuan, tapi film-film yang bermunculan dari Nollywood kini semakin rumit dan manusia. Dan kini yang menulis dan menyutradarai mereka, serta menginisiasi perubahan dalam industri adalah perempuan.

More VICE
Vice Channels