Kesetaraan Gender

Kami Turut Serta dalam Festival Transgender di Odisha, Kota Kecil di Pinggiran India

Lebih dari sekadar berjoget dan menari, festival di Odisha adalah kesempatan bagi para transgender merebut kembali kebebasan mereka

oleh Maroosha Muzaffar
21 Juli 2018, 3:00am

Ranjita punya salon kecantikan di Berhampur, Odisha, yang juga jadi rumah singgah bagi anggota komunitas transgender di sana. Semua foto oleh Viraj Nayar.

Begitu taksi kami tiba di loket tol Berhampur di Ganjam, Odisha, Rupali, seorang perempuan transgender 20-an tahun menyapa kami. Ia mengetuk kaca mobil sebelum tersenyum dan meminta sedekah seikhlasnya pada kami. Rupali hari itu mengenakan sari, lipstik merah, dan tak lupa ia memoles keningnya dengan sindoor, cap merah sebesar ujung ibu jari yang biasa menghiasi wajah para perempuan India. Sopir yang membawa kami jalan ke mana-mana menjelaskan bahwa beginilah para perempuan transgender India menjalani kehidupan sehari-hari, dengan menjadi peminta-minta di loket tol atau stasiun kereta. Tak jarang pula mereka jadi pekerja seks untuk menambah pendapatan sehari-hari. Pemandangan seperti itu tak asing di Odisha, kota di mana jumlah perempuan transgender lebih tinggi dari tempat-tempat lainnya.

Berhampur jauhnya kira-kira 185 kilometer dari Bhubaneswar. Butuh waktu empat jam perjalanan untuk menuju kota yang kering dan lengang itu. Pemandangan di sepanjang perjalanan didominasi oleh sawah-sawah dan pepohonan yang ada di kiri-kanan jalan. Sesekali tampak gubuk beratapkan rumbia bertebaran di pinggir-pinggir jalan. Begitu tiba di Berhampur, jalan-jalan mendadak jadi sempit, pedagang kaki lima dan penjaja bahan makanan di pasar turut meramaikan badan jalan. Jika mata sedikit teliti, maka kamu akan mendapati salon-salon kecantikan di sudut-sudut Odia, biasanya bersebelahan dengan toko yang menjual jamu Ayurvedic khas India, hotel-hotel tua yang reyot, toko pembuat tenun, dan restoran yang menyajikan makanan lokal. Setibanya kami di pusat kota, aku sudah mulai agak sesak, jadi kami memutuskan untuk istirahat sejenak di kamar hotel.


Kami datang ke sini untuk meliput festival kultural transgender yang diorganisir oleh Anwesha Kala Kendra, institusi kebudayaan yang didirikan pada 1999 oleh seniman tari 65 tahun bernama Usha Rani Mahapatra. Usha mengorganisir banyak kelas tari dan seni pertunjukkan di sekujur kota. Ia juga mengorganisir acara kebudayaan yang digelar saban tahun, dan kali ini mereka mendedikasikan festival bagi para transgender. Anwesha Brahma, 26 tahun, mahasiswa komunikasi massa di India, mengatakan di kota kecil ini, tak banyak opsi tersedia bagi para transgender yang hidupnya acapkali terpinggirkan. Ibunya Brahma juga ikut jadi panitia di festival kebudayaan itu. Brahma juga pernah membuat dokumenter tentang kehidupan para transgender di India yang judulnya The Transition.

Pengalaman Brahma tumbuh besar di India turut dibentuk oleh salah seorang sepupunya yang menganggap dirinya sebagai seorang queer. Melihat sepupunya seringkali dikerjain dan diejek-ejek karena ia seorang queer membuat Brahma mudah bersimpati pada para transgender yang melewati banyak kesulitan hanya untuk menjalani kehidupan sehari-hari. “Aku membuat dokumenter itu setelah Mahkamah Agung mengakui adanya gender ketiga di India 2014 lalu. Dokumenter itu bercerita tentang perubahan status transgender setelah aturan baru itu diterbitkan,” kata Brahma. Dokumenter itu juga menceritakan bagaimana para warga transgender hidup lebih nyaman setelah mendapat pengakuan dari negara.

Festival itu sedianya digelar pada 8 Juli di hari Minggu di sebuah balai kota di Berhampur. Ketika kami tiba di lokasi acara, ternyata kosong-melompong. Hanya ada sejumlah juru sapu membersihkan ruangan sembari meniup balon-balon penghias di sela-sela pekerjaan utama mereka.

Acara yang berlangsung sepanjang hari itu seharusnya mulai pukul 10.30 pagi. Di jadwal yang tertera, diberi tahu nanti bakal ada macam-macam pertunjukkan, di antaranya fashion show, lomba joget tari anak-anak, dan pentas tari tradisional. Kami sudah menunggu di dalam ketika penonton mulai datang satu per satu, tapi ruang pertunjukkan utama masih kosong. Mungkin kami datang terlalu pagi. Kami melipir sebentar ke belakang panggung. Rupanya di sanalah mereka berada, sedang merias wajah dan berdandan secantik-cantiknya untuk tampil di acara. Sementara di luar sana, awan kelabu mulai perlahan menebal.

Ruangan hijau itu tak banyak berhias pernak-pernik. Aku disapa oleh sekelompok anggota komuntas, mereka memperkenalkan diri dengan mengajak bersalaman: Lovely, Ganga, Preeti, Mamta, dan Ranjita. Aku memperhatikan mereka selagi semuanya sedang sibuk berdandan sembari bersusah payang membuat sari yang mereka kenakan tampak rapi. Lovely siang itu memadukan sari beludru warna ungu dengan kaos kuning. Ganga beres menggunakan make up dan segera saja semuanya berlomba-lomba mengambil selfie. Aku juga menjepret beberapa. Semua tampak sedang cantik-cantikya, tampil istimewa untuk acara yang dibikin khusus bagi mereka.

Lovely bercerita padaku tentang tari yang akan dia pentaskan. Ganga tak sabar menyambut pentas fashion show di mana dia akan melenggok seperti model. Tak biasanya ia jadi pusat perhatian di atas panggung. Di hari-hari biasa, Ganga adalah seorang pengemis yang seringnya nongkrong di loket tol atau stasiun. Tapi hari itu bukan hari biasanya. Hari itu terlalu istimewa bagi dia untuk mengingat semua cacian yang kerap dia terima sehari-hari. Ia begitu riang dan hal itu terpancar dalam penampilannya.

Festival mulai terlambat hampir sejam. Perhelatan dimulai dengan nonton bareng dokumenter the Transition. Menteri Keamanan Sosial dan Pemberdayaan Warga Disabilitas, Prafulla Samal membuka festival (di India, transgender oleh negara dianggap sebagai penyandang disabilitas). Ramesh Chandra Chaupattnaik dan Kepala Otoritas Pembangunan Berhampur Subash Maharana juga hadir di lokasi.

Acara telah berlangsung setengah jalan. Suasana semakin meriah, perempuan-perempuan itu, yang di negaranya diidentifikasi sebagai penyandang gender ketiga, menari-nari sesuka hati. Pesta yang sebenarnya baru saja dimulai. Mereka yang menari di ruangan itu mengenakan pakaian tradisional patto asal Berhampuri, dengan bunga-bunga di rambutnya. Gadis 19 tahun Roshni Kinnar datang dengan gaun cantik, dengan rambut dikepang satu menjuntai dari kepalanya. Pemudi 25 tahun Simran Das, yang lahir dan besar di Berhampur, menggunakan sari sutera yang berpadu dengan lipstik pink mencolok. Mereka datang dari kelompok orkes yang sama, dan mereka juga tinggal bersama di sebuah rumah kontrakan.

Dalam festival itu, seorang jurnalis Odia, Sudip Tripathy, menyanyikan lagu lawas Odia yang disambut meriah dengan seruan dan tepuk tangan dari penonton. Para pelajar dari Anwesha Kala Kendra pentas sementara pelatih mereka, Dileep, koreografer berusia 30 tahun, tampak gembira sekaligus bangga. Awak-awak media sudah mulai berhamburan sekarang, mencoba mencari foto terbaik.

Di ruang hijau itu pula, Lovely, yang sudah berganti pakaian mengenakan kaos merah dan lehenga (sari dengan rok mengembang), mementaskan pertunjukan tari. Penampil lain, yang berasal dari komunitas Kinnar bersiap-siap. Musik tradisional terdengar di seluruh penjuru ruangan begitu Lovely memasuki ruangan. Dia menyanyi dan menari layaknya Madhuri Dixit, artis India idolanya, dan ia mengajak penonton turut serta.

Di satu momen saat dia manggung, kalung Lovely terlepas. Ia segera saja dengan spontan menggemgamnya dengan tangan lalu melemparnya ke arah penonton. Lovely sedang menikmati momen. Pagi tadi saat kami bertemu, ia bilang ia merasa teramat bebas ketika sedang menari.

Kemudian tiba saatnya fashion show digelar. Musik berganti jadi lagu India yang dipadupadankan dengan beat-beat kontemporer. Satu per satu model memasuki panggung. Mereka menari-nari mengikuti arahan Dileep. Meski telah berpekan-pekan berlatih, mereka tetap saja menunggu Dileep memberi aba-aba setiap gerakan.

Pertunjukan terakhir adalah pentas dari penari 30 tahun bernama Preeti Pattnaik. Sebelum acara mulai, ia sempat banyak curhat padaku. Ia bertanya kenapa komunitas transgender sering diejek-ejek? Kenapa mereka mesti dibedakan dengan orang-orang kebanyakan? “Ketika remaja aku jadi kuper dan berjarak dengan orang-orang, karena semua mengejekku,” katanya. “Aku menjauhi orang-orang. Aku tak mau mereka menertawakan aku. Bura lagta hai (itu menyakitkan),” katanya. Saat ini, saat ia pentas di panggung, tak ada yang menertawakannya. Penonton berjoget bersama terbius irama tarian Preeti, dan lagu Madhuri Dixit melantun seru : ‘Ek, do teen’.