AS Mendakwa Korea Utara Atas Serangan WannaCry dan Peretasan Sony

Park Jin Hyok diduga memiliki keterkaitan dengan kasus serangan siber paling signifikan yang terjadi belakangan ini. Departemen Kehakiman AS mengatakan bahwa dia bekerja untuk perusahaan yang mendanai rezim Korea Utara.

|
Sep 7 2018, 8:00pagi

Gambar: Shutterstock

Kamis ini, Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) mendakwa seorang peretas yang diduga bekerja untuk Korea Utara. DOJ menyatakan bahwa programmer bernama Park Jin Hyok, otak di balik serangan virus komputer WannaCry, terlibat dalam kasus pencurian siber yang merenggut puluhan juta dolar dari bank Bangladesh pada 2016, dan peretasan terhadap Sony Pictures pada 2014.

Ini pertama kalinya AS mendakwa peretas yang bekerja untuk Korea Utara. Dakwaan ini dikeluarkan setelah pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengatakan kalau dia mempercayai Trump saat membahas denuklirisasi bersamanya.

Dalam panggilan konferensi dengan wartawan, pejabat senior DOJ mengatakan bahwa Hyok bekerja di Cina untuk perusahaan Korean Expo Joint Venture. Menurutnya, perusahaan ini mengalirkan dana untuk intelijen militer Korea Utara.

Pejabat menerangkan bahwa Hyok dituduh melakukan pemerasan, penipuan, dan berbagai tindakan peretasan. Peretas tersebut juga diduga menyerang Lockheed Martin. Selain itu, ada keluhan yang menuduhnya melakukan peretasan sepanjang 2018. DOJ akan segera menjatuhkan sanksi terhadap programmer dan perusahaannya.

Caption: The FBI's wanted poster of Hyok. Image: DOJ.

Pada 2014, para peretas yang menyebut dirinya sebagai “The Guardians of Peace” menyerang entitas hiburan Sony. Mereka mencuri dokumen internal dan email, lalu menyebarkannya ke publik untuk diunduh. Tim penyelidik perusahaan dan penegak hukum segera menghubungkan kasusnya dengan Korea Utara. Serangannya disebut-sebut sebagai tanggapan film The Interview yang menghina pemimpin Korea Utara. Pejabat DOJ mengatakan bahwa Korea Utara juga mengirim email phishing ke AMC Theatres dan perusahaan Inggris Mammoth Screen baru-baru ini. Dia menambahkan bahwa Hyok sempat pergi ke Korea Utara sebelum peretasan Sony terjadi.

Lalu, pada 2016, para peretas dari Korea Utara diduga membobol sistem bank Bangladesh dan mencuri lebih dari $80 juta (Rp1,1 triliun). Tahun lalu, serangan ransomware besar-besaran menyebar di seluruh dunia dan mengunci komputer mana saja yang terkena virus. Serangan ini sangat merugikan National Health Service di Inggris.

More VICE
Vice Channels