Seni

Karya Seni Penuh Warna yang Mengeksplor Hubungan Tak Sehat Kita dengan Medsos

Corey Wash menyindir ketergantungan kita pada teknologi digital dalam pamerannya yang bertajuk Conversation Derelict.

oleh Sara Radin
19 Juni 2019, 11:33am

Seniman dan model Corey Wash memang paling jago membuat karya seni yang mampu memikat siapa saja yang melihatnya. Di pameran terbarunya, bertajuk Conversation Derelict, diadakan di ABXY Gallery, New York, perempuan kelahiran Baltimore ini menggunakan kanvas berwarna terang dan goresan satiris untuk membuat orang berpikir lebih dalam. “Aku ingin menciptakan sesuatu yang mudah dicerna tapi ngena buat banyak orang,” akunya. .

Di pamerannya, Wash memajang sejumlah koleksi lukisan, instalasi khusus dan video. Karakter bergaya komik dan balon kata bikinan Wash menyindir penurunan kemampuan kita berbahasa dan berkomunikasi akibat terlalu bergantung pada teknologi digital. Di zaman ketika kehidupan manusia didominasi layar ponsel, emoji dan tagar, Conversation Derelict melempar pertanyaan “Mengapa kita sulit banget memperoleh kebenaran dan pengetahuan, padahal kita hidup di dunia yang memudahkan siapa pun untuk berbagi ide dan informasi?” Sang seniman berharap para pengunjung bisa berintrospeksi setelah mengunjungi pamerannya.

Kepada i-D, Wash bercerita mengapa dia memilih doodle untuk membahas topik seserius ini. Dia juga membeberkan harapannya tentang pelajaran yang bisa diambil dari pameran itu.

Sejak kapan kamu mulai membuat karya seni?

Ketika aku masih muda, ibuku sangat suka menggambar dan selalu mengajakku membuat kerajinan tangan. Aku sendiri juga hobi menulis cerita pendek dan puisi. Setelah SMA, aku pindah ke New York dari Baltimore karena mau kuliah fotografi dan jadi model. Dari situlah aku mulai jatuh cinta pada dunia seni. Ada satu waktu di mana aku merasa harus pergi ke toko alat kesenian buat beli kanvas dan cat. Aku ingin mengungkapkan rasa frustasiku sebagai orang baru di New York. Itu kayaknya pas 2012 lalu, waktu aku akan berulang tahun ke-19. Aku baru menyadari betapa menyenangkannya melukis, dan aku ingin melakukannya penuh waktu. Aku pun mendalaminya dan mulai melukis sepanjang waktu. Waktu itu aku belum punya gaya khas sendiri.

1557510833310-_84A4795

Topik apa yang paling sering diangkat dalam karyamu?

Awalnya ekspresionisme abstrak, tapi lama-kelamaan aku mulai fokus pada masalah sosial dan segala hal yang terjadi di dunia. Misalnya lingkungan, penggundulan hutan, dan perlakuan kita terhadap bumi dan laut. Aku mulai bertanya-tanya pada diri sendiri, dunia ini kenapa sih? Apa isu yang perlu mendapat lebih banyak perhatian? Apa yang selama ini kita abaikan? Apa yang sedang terjadi dalam kehidupan pribadiku? Bagaimana dengan keluarga dan teman-temanku? Aku mengamati keadaan di sekitarku untuk mencari tahu apa yang bisa diungkapkan dalam karyaku.

Aku kini mengangkat masalah komunikasi dan media sosial di era teknologi canggih, dan juga mengeksplorasi isu-isu seperti rasisme, seksisme, prasangka dan kelas sosial. Aku berusaha menciptakan sesuatu yang mudah dipahami tapi pesannya ngena banget.

Pameranmu kali ini tentang apa?

Pameran ini menyinggung pentingnya komunikasi yang sehat. Aku mulai memerhatikan kalau komunikasi kita sekarang semakin tidak sehat dan buruk. Dari situ, aku jadi penasaran dengan evolusi bahasa. Aku menggali sedalam-dalamnya, dan menemukan bahwa kita kesulitan berkomunikasi secara produktif biarpun teknologi, media sosial dan kemudahan mengakses informasi telah berkembang pesat.

1557510860243-_84A4931

Bagaimana akhirnya kamu menggunakan karya corat-coretmu untuk membahas isu-isu ini?

Ini sama sekali tidak ada unsur kesengajaan. Awalnya aku tidak punya gaya melukis yang khas, dan mencoba semua jenis seni yang berbeda. Tapi, aku lama-lama jadi bosan sama ekspresionisme abstrak. Dari situ, aku mulai mengurangi detail-detail gambar dan menghasilkan karakter-karakter yang aku buat sekarang. Kebetulan saja ternyata kartun adalah bentuk paling pas bagiku untuk mengekspresikan diri. Karyaku jadi lebih menyenangkan karena ada sisi humornya, tapi tetap bisa serius membahas temanya.

Aku juga menginginkan kebebasan berbicara yang bisa dimengerti semua orang tanpa perlu menyebutkan secara spesifik bahwa yang digunakan adalah sudut pandang perempuan atau perempuan kulit hitam. Aku bukan bermaksud menyamarkan itu, melainkan mau mengembangkannya dan membuat karyaku jadi lebih relevan untuk semua orang. Dengan balon kata, aku bermaksud menggambarkan percakapan verbal dan cara kita berbicara satu sama lain sehari-hari, baik itu nada yang digunakan maupun pemilihan katanya. Aku ingin bermain-main dengan hal itu tetapi juga menyoroti bahasa tubuh.

Ada beberapa karya yang mengandung pesan tersembunyi yang takkan aku jelaskan artinya. Tidak semua karya harus dijelaskan kepada khalayak. Tapi kadang pesanku juga bisa lebih tegas. Lewat pameran ini, aku ingin menyampaikan pesan secara tersirat supaya pengunjung bisa merenungkan maksud karyaku dan memecahkan teka-tekinya.

1557510916314-_84A7286

Kenapa kamu memutuskan membuat instalasi dari kliping koran?

Bagiku ini seperti ruangan penelitian. Alasanku menggunakan surat kabar karena menurutku media cenderung sangat menyesatkan dan aku ingin mengubah narasinya. Aku tidak memilih surat kabar yang digunakan secara spesifik, tetapi aku berusaha membuatnya terlihat spesifik dan aku bubuhi berbagai pesan acak. Ada satu bagian yang disensor karena aku percaya kebenaran kerap disembunyikan dari kita. Intinya, aku menegaskan hal-hal tertentu tentang media sosial dan bagaimana mereka membunuh beberapa aspek kita berkomunikasi. Instalasi yang aku buat juga melambangkan riset, proses perkembangan dan semua dokumenter yang pernah aku tonton dan buku yang pernah aku baca. Persis seperti menulis catatan.

Apa pesan yang kamu harap orang bisa petik dari pameran ini?

Sebagai seniman, tugasku sekadar menciptakan karya seni. Terserah bagaimana orang mengartikan karyaku. Aku tak punya ekspektasi harus seperti apa mereka melihatnya. Akan tetapi, aku berharap karyaku membuat orang-orang berintrospeksi diri, dan memikirkan kembali cara mereka berkomunikasi dan peran yang mereka mainkan dalam kultur komunikasi yang tidak sehat ini, dan apa yang bisa mereka lakukan untuk menghentikan perilaku-perilaku tidak sehat.

1557510966840-_84A5147
1557510996222-_84A5151
1557511011896-_84A5087

Artikel ini pertama kali VICE US.