Iklan
VICE Votes

Melacak Penyebab Semua Partai Baru Nyungsep Dalam Pemilu 2019

Perindo, PSI, Partai Berkarya, dan Partai Garuda tak mampu melewati ambang batas parlemen sebesar 4 persen, padahal sudah agresif berkampanye. Ada benang merah dari kegagalan mereka.

oleh Adi Renaldi
18 April 2019, 10:58am

Petugas salah satu TPS pemilu 2019 di Jakarta menunjukkan kotak suara telah kosong pada saksi. Foto oleh Dita Alangkara/Associated Press.

Belum juga keluar hasil resmi pemilihan legislatif 2019, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie buru-buru mengibarkan bendera putih. Keputusan Grace dibuat tak lama setelah berbagai lembaga survei kredibel mengeluarkan hitung cepat masing-masing tentang peroleh suara legislatif.

PSI ditaksir hanya mampu mendulang sekira dua persen dukungan di level nasional—setara tiga juta suara. Masih jauh dari ambang batas parlemen yang sebesar empat persen. Grace lantas menulis surat kekalahannya, yang diunggah politisi PSI Andy Budiman ke medsos, dengan judul "Setelah Kami Kalah."

"Kami telah berjuang dengan apa yang kami bisa," tulis Grace. "Kader kami, pengurus PSI, caleg kami, telah bekerja keras siang dan malam menyakinkan rakyat. Tetapi inilah keputusan rakyat melalui mekanisme demokrasi yang harus kami terima dan hormati."

PSI tidak sendirian. Angka ambang batas empat persen jadi momok yang melahap tiga partai baru lainnya dalam kontestasi pileg 2019. Partai Persatuan Indonesia (Perindo), Partai Berkarya, serta Partai Garuda, sama-sama amblas dari hasil hitung cepat.

Jika berkaca dari hasil hitung cepat, tiga partai kawakan lain ikut nyungsep, yakni Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Partai Bulan Bintang (PBB), serta Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI).

Yang bisa dipastikan melenggang ke Senayan ada sembilan partai, dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), dan Partai Golongan Karya (Golkar) menempati posisi tiga besar.

Hasil hitung cepat tersebut tak jauh beda dengan telisik elektabilitas beberapa lembaga sejak awal tahun ini. Survei Litbang Kompas, Charta Politika, dan Vox Populi selama periode Februari-Maret menunjukkan hasil kurang lebih sama dengan quick count Pileg April 2019.

Ambang batas parlemen sebesar empat persen tersebut telah beberapa kali digugat ke Mahkamah Konstitusi. Gugatan yang diusung pemain baru maupun wakil partai menengah tersebut selalu gugur di Mahkamah Konstitusi. Terakhir, MK menolak gugatan uji materia yang dilayangkan Partai Garuda pada April 2018.

Oke. Katakanlah angka empat persen masuk akal dan tak ada yang menolaknya. Kenapa partai baru sulit menembus Senayan dalam pemilu tahun ini? Padahal konon hasil pemungutan suara 2019 sangat dipengaruhi preferensi milenial dan gen Z yang jumlahnya mencapai 55 persen dari total pemilih. Apakah PSI, Perindo, atau Partai Berkarya tak menarik bagi anak muda?

Hasil survei dari lembaga Media Survei Nasional (Median) memberi sebagian jawabannya. Survei yang digelar awal 2019 ini melibatkan 1.000 responden. PDI-P dan Gerindra adalah dua partai yang mampu mendulang suara terbesar berdasarkan survei tersebut.

Rentang usia responden kurang dari 20 tahun (namun sah sebagai pemilih tahun ini) hingga 39 tahun. Dalam survei tersebut rata-rata responden memilih partai berdasarkan figur tokoh. Alasan kedua karena ideologi partai.

Hasil survei tersebut senada dengan pendapat direktur eksekutif lembaga survei Populi Center, Usep Saiful Ahyar. Menurut Usep, figur yang diangkat partai baru dan partai gurem lainnya tidak memiliki citra sekuat sembilan partai lain yang diprediksi lolos ke DPR. Bahkan karisma partai baru belum bisa melampaui partai yang sedang tersandung masalah seperti Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang diprediksi lolos ke Senayan dengan hanya 4,6 persen suara nasional.

"Figur-figur yang diangkat oleh partai baru itu masih kalah dibanding figur di partai lama," kata Usep.

Selain perkara figur, Usep mengatakan program dari satu partai ke partai lain tak terlalu kentara. Khususnya yang mengusung platform nasionalis seperti Perindo dan Partai Garuda. Dampaknya, partai baru tak memiliki gebrakan baru untuk menarik simpati masyarakat.

Sementara partai gaek, walaupun sekilas kita anggap membosankan, justru punya mesin politik yang jauh lebih baik karena mengandalkan basis massa di akar rumput. Contohnya PDI-P dan Gerindra yang pendukungnya amat loyal. Massa dua partai itu setahun sebelum pileg sudah memantapkan pilihan dan tak akan mengubah preferensinya, menurut survei Litbang Kompas.

Tapi bukankah Partai Berkarya punya figur kuat, yakni Tommy Soeharto? Sayangnya Tommy dan latar Keluarga Cendana tidak efektif di segmen anak muda. Jika sasarannya milenial dan generasi Z, Partai Berkarya yang menjual romantisme dan nostalgia Orde Baru diramal banyak pengamat tak laku.

Lantas bagaimana dengan PSI yang getol berkampanye isu progresif dan digadang-gadang sebagai partainya milenial? Pemicu tenggelamnya PSI berasal dari faktor yang berbeda.

VICE sempat menghabiskan beberapa hari mengikuti kampanye PSI di Jawa Barat. Beberapa caleg PSI, seperti Giring Ganesha mantan vokalis band Nidji, sempat mengakui taktik mengampanyekan isu-isu progresif—seperti pemberdayaan perempuan, anti-poligami, dan anti-intoleransi—dia rasa berat untuk menarik simpati masyarakat. Sebab isu-isu tersebut dinilai elitis, bias kelas menengah, dan tak menyentuh realita kehidupan akar rumput.

"Gue sudah setahun ngebangun massa di Bandung dan tiap kali gue ngomongin soal hal yang too complicated, yang abstrak, itu susah,” ujar Giring pada VICE. "Strategi saya sih biasanya ngomong politiknya enggak lama-lama."

Pengamat politik Universitas Indonesia, Ari Junaedi, menyapakati pendapat Giring. Menurut Ari, PSI gagal menerapkan strategi yang tepat menggaet anak muda dari kelas menengah bawah. Partai berlogo mawar ini juga terlalu sering berkonflik sendiri dengan elit lain dari lingkaran koalisi partai pendukung Jokowi. PSI, jika memang ingin lepas dari bayang-bayang PDIP atau Golkar, seharusnya memainkan isu-isu seputar kegelisahan milenial kata Ari.

Alih-alih membangun kontra-narasi terhadap isu nasional, PSI malah fokus ke isu perda syariah dan isu poligami. Padahal koalisi Jokowi sudah main aman tidak menyentuh isu keagamaan. Ari menilai, dua isu itu juga membuat PSI menebar permusuhan yang tidak perlu dengan partai oposisi, terutama yang mengusung platform politik Islam seperti Partai Keadilan Sejahtera. Terbukti, dengan membawa janji penghapusan pajak STNK dan memaksimalkan mesin yang teruji dari jaringan masjid kampus negeri, PKS pada 2019 membalik semua prediksi lembaga survei. PKS lolos meyakinkan dengan suara nasional meningkat jadi 8,56 persen.

"Di tengah-tengah perjalanannya, PSI kerap mengeluarkan blunder-blunder yang tidak perlu," kata Ari.

Pengamat politik sekaligus dosen Universitas Jenderal Achmad Yani, Yohannes Sulaiman, menilai ada satu pekerjaan rumah yang gagal dilakukan partai baru dalam pileg 2019. Yakni mengeruk suara kelas menengah-bawah. Strategi itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Sebab, partai modern besar sekelas PDIP atau Golkar terlanjur memiliki jejaring kuat di hampir semua provinsi.

"Kebanyakan partai-partai besar bermainnya ke kelas bawah karena memang itu yang paling gampang dan mereka network-nya sudah kuat. Mungkin nanti PSI akan ekspansi ke bawah, cuma itu butuh waktu. Karena memang membuat partai akar rumput susah," kata Yohanes.