VICE Votes

Ribut Klaim Capres, Kita Lupa Banyak Petugas KPPS Indonesia Meninggal Akibat Pemilu

KPU belum menyediakan asuransi bagi petugas di TPS yang mengalami gangguan kesehatan, sampai meninggal, saat merekap suara. Polisi yang menjaga TPS juga dilaporkan meninggal di beberapa daerah.

oleh VICE Staff
19 April 2019, 7:30am

Petugas KPU dan aparat naik kuda mengirim kotak serta surat suara ke Desa Tempurejo, Jember. Foto oleh Trisnadi / Assoaciated Pres

Dua hari selepas pemilihan umum, di Twitter #MartirDemokrasi kalah gaungnya dibanding tagar trending lain. Misalnya yang meributkan dugaan kecurangan Komisi Pemilihan Umum, klaim menang masing-masing pendukung calon presiden, sampai ajakan bagi peretas luar negeri agar membantu "mengamankan" jaringan data KPU.

Padahal tagar yang disebut pertama menggambarkan sisi kelam pemilihan umum 2019: puluhan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) meregang nyawa sebelum, saat bertugas, hingga selepas proses rekapitulasi pencoblosan. Kasus tragis semacam ini tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Akun Twitter @nasibaik jadi yang pertama menggunakan tagar #MartirDemokrasi. Dia membuat utas, mengumpulkan berbagai berita petugas pemungutan suara yang gugur selama atau setelah bertugas 17 April lalu. Utas ini juga mengumpulkan laporan personel kepolisian yang meninggal selama mengawal proses pencoblosan.

Sebagian petugas KPPS itu meninggal akibat pengaruh kelelahan bekerja lebih dari 24 jam, bahkan sebelum Hari H pencoblosan. Contohnya Jaenal, lelaki 56 tahun, yang meninggal saat pemungutan suara belum lama dimulai. Dia ambruk dan dinyatakan meninggal setiba di rumah sakit. Dia bertugas sebagai Ketua KPPS Desa Sukaharja, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Jaenal meninggal, diduga kuat, karena kelelahan saat bertugas mengambil logistik di gudang penyimpanan sejak malam sebelumnya. "Kurang tidur, maka pas pelaksanaan pemilihan kecapekan, pingsan sewaktu melaksanakan pengecekan di TPS tadi," ujar AKP Anak Agung Raka saat dihubungi Kompas.com.

Laporan beratnya pekerjaan rekap surat suara oleh KPPS membanjiri media sosial serta grup-grup WhatsApp. Tak sedikit petugas KPPS terpaksa baru pulang setelah 24 jam lebih bekerja di Tempat Pemungutan Suara masing-masing. Pemilu presiden dan legislatif serentak tahun ini, yang disebut sebagai salah satu sistem pemilihan demokratis paling rumit sedunia, membuat kerja petugas KPPS berlipat ganda.

Kronologi kejadian meninggalnya petugas KPPS di beberapa lokasi pun mirip-mirip. Petugas itu rata-rata pingsan mendadak, kemungkinan akibat serangan jantung, dan tak sempat memperoleh penanganan memadai. Ada juga yang mengalami kecelakaan bermotor setelah kelelahan bekerja. Di Tasikmalaya sampai ada dua Ketua KPPS yang meninggal tahun ini selama mengawasi rekapitulasi suara. "Pemilu kali ini berat, ada norma-norma baru. Pelaksanaan pileg dan pilpres disatukan hingga membutuhkan energi ekstra bagi penyelenggara," ujar Ketua KPUD Kabupaten Tasikmalaya Zamzam Jamaludin kepada media.

Selain kertas bergambar Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandiaga, lebih dari 190 juta pemilih di seluruh Indonesia harus mencoblos wajah 128 orang calon anggota DPRD, DPR, serta DPD mewakili beragam partai. Medsos merekam pengakuan pemilih yang kesulitan melipat lima kertas berukuran besar di bilik suara.

Rekapitulasi untuk semua kertas suara, diverifikasi petugas TPS lebih dari lima kali. Tak sedikit yang bekerja dari pukul 06.00 WIB pada 17 April, dan baru selesai pukul 07.00 keesokan harinya. Untuk semua kerja keras tersebut, petugas KPPS dibayar tak sampai Rp500 ribu, karena dipotong pajak 3 persen.

"Saya sudah dua kali jadi ketua KPPS, begitu terus honornya, tidak ada perubahan," kata Abdul Latif selaku Ketua KPPS TPS 04 Desa Palalakkang, Sulawesi Selatan, saat dihubungi kantor berita Antara.

Hingga artikel ini dilansir pada Jumat (19/4) siang, laporan meninggalnya petugas KPPS karena kelelahan terus bermunculan. Lebih dari 20 kasus tragis tercatat di Lampung, Jakarta, Tasikmalaya, Bekasi, Bandung, Malang, Lombok, hingga Samarinda. Tak hanya petugas TPS, saksi pun dilaporkan ada yang meninggal akibat mengalami kelelahan akut.

Divisi Humas Mabes Polri turut mengumumkan duka cita bagi beberapa personelnya yang meninggal ketika menjaga TPS, atau mengawal pengiriman surat suara. Sejauh ini, empat polisi gugur saat mengamankan pemilu 2019.

Karena itulah, pengguna Twitter mulai menuntut kubu Joko Widodo-Ma'ruf Amin ataupun Prabowo Subianto-Sandiaga Salahudin Uno menghentikan dulu upaya saling klaim kemenangan—baik berbasis hitung cepat ataupun data internal.

Ketua KPU pusat Arief Budiman membenarkan banyaknya laporan soal petugas KPPS meninggal kelelahan dari berbagai wilayah. Dia juga mengakui pekerjaan petugas dan saksi tahun ini lebih berat, karena rekapitulasi berjenjang sampai akhirnya pengumuman real count baru bisa diumumkan Mei mendatang.

KPU, menurut Arief, belum punya perlindungan serta skema kompensasi memadai bagi mereka yang bekerja keras. Termasuk adanya asuransi jiwa seandainya ada yang meninggal saat bertugas. Arief hanya bisa mengimbau petugas bijak menjaga kesehatan di lapangan.

"Jadi kepada seluruh petugas saya mohon perhatikan, mengatur ritme kerjanya, kemudian menjaga kesehatan dan pola makan juga. Jangan sampai lupa makan," katanya saat dihubungi media.

1555653761597-AP_19107018538975
Petugas TPS di Jakarta Pusat mengosongkan kotak suara di hadapan saksi. Banyak anggota PPS bertugas hingga 24 jam untuk rekap penghitungan suara. Foto oleh Dita Alangkara/Associated Press.

Saat diwawancarai Sindonews, Arief mengklaim KPU sejak tahun lalu sudah mengajukan anggaran asuransi petugas. Tapi dia berkilah pos biaya tersebut belum disetujui pemerintah ataupun DPR.

"Pemegang otoritas anggaran tidak bisa memastikan [ada asuransi], jadi ya memang belum bisa kita berikan untuk itu," ujarnya.

Dalam kesempatan terpisah, KPU berjanji menyantuni keluarga mendiang petugas KPPS yang meninggal di sejumlah daerah. Jumlah dan bentuk santunan atau teknis pemberiannya belum dijabarkan lebih lanjut. "Kita santuni lah," kata Komisioner KPU Ilham Saputra saat ditemui di kantornya. "Nanti akan [KPU] berikan penghargaan kepada mereka semua, juga penyelenggara pemilu kabupaten dan provinsi yang menyelenggarakan Pemilu 2019 yang sampai saat ini relatif berjalan baik."

Pekerjaan menantang dihadapi petugas KPU bersama polisi serta TNI sejak sebelum pencoblosan. Beragamnya kondisi medan di Tanah Air membuat pengiriman surat suara butuh perjuangan ekstra. Di Pulau Jawa saja, ada desa yang hanya bisa dijangkau KPU pakai kuda karena jalanan jelek—contohnya Desa Tempurejo di Jember, Jawa Timur. Di Sumatra, gajah juga dilibatkan untuk mengirim logistik pencoblosan.

Bentang alam kawasan pegunungan tengah Papua termasuk yang sangat menantang, sehingga kotak suara serta surat suara harus diantar dengan helikopter atau pesawat kecil. Itupun tak berjalan lancar, sehingga ratusan TPS terpaksa menunda pemilihan sehari. Speedboat, jeep khusus, serta pesawat turut dipergunakan untuk melayani pemilihan di berbagai wilayah Pulau Kalimantan.