Iklan
Konflik Papua

Kawasan Nduga di Papua Kembali Memanas, Ribuan Pengungsi Terkatung-Katung

Tentara Nasional Pembebasan Papua Barat menyerang lokasi pembangunan Jalan Trans Papua, tewaskan satu prajurit TNI. Sudah 31 ribu orang mengungsi tanpa kejelasan nasib sejak Desember tahun lalu.

oleh Prima Sulistya Dan Ikhwan Hastanto
23 Juli 2019, 10:39am

Salah satu momen konflik di Papua, saat aparat berusaha meredam demonstrasi pekerja tambang Freeport di Timika. Foto oleh Muhammad Yamin/Reuters

Serangan bersenjata yang diduga dilakukan kelompok separatis Papua kembali memakan korban jiwa. Sabtu (21/7) lalu, Prada Usman Hambelo tewas ditembak saat mengamankan pembangunan jembatan Sungai Yuguru di Kabupaten Nduga, Provinsi Papua. Usman menjadi korban tewas kesekian sejak tensi kekerasan meningkat di Nduga pada Desember 2018.

"Secara tiba-tiba mendapatkan serangan yang muncul dari semak belukar dengan jarak sekitar 300 meter dari kedudukan prajurit yang sedang isoma [istirahat, salat, makan]," kata Kepala Penerangan Kodam XVII/Cendrawasih Kolonel Inf. Muhammada Aidi, dikutip CNN Indonesia. Serangan diduga datang dari, dalam istilah pemerintah, kelompok kriminal sipil bersenjata (KKSB) pimpinan Egianus Kogoya.

Menurut keterangan Aidi, antara empat atau lima orang penyerang langsung melarikan diri setelah menembak ke arah jembatan bertubi-tubi. Pasukan TNI sempat melakukan pengejaran, tapi berhenti karena terhalang medan belukar dan jurang curam.

Serangan mendadak tersebut menyebabkan luka tembak di pinggang kanan Usman. Penyerangan terjadi sekitar pukul 12.40 WIT, pada pukul 14.10 WIT Usman dinyatakan meninggal dunia. Jenazah baru dievakuasi menggunakan helikopter, satu-satunya alat transportasi yang memadai untuk medan setempat, pada keesokan paginya karena malamnya hujan deras.

Dalam kabar yang disiarkan lewat Facebook Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat, sejak 16 Oktober 2018 Egianus Kogoya menjadi Panglima Komando Daerah Pertahanan III Ndugama. Ia dan kelompoknya bertanggung jawab atas semua kekerasan bersenjata di Nduga selama 1,5 tahun terakhir.

Dalam wawancara dengan Kompas, Aidi menjelaskan tempat kejadian merupakan bagian dari 21 jembatan baru yang harus dibuat sebagai kelanjutan proyek infrastruktur Jalan Trans Papua. TNI mengambil alih kendali pembangunan jembatan ini karena tidak ada kontraktor sipil yang berani mengambil proyek setelah kasus pembantaian karyawan PT Istaka Karya oleh KKSB pada 2 Desember 2018 yang menewaskan 15 orang.

Aidi mengatakan, serangan ini ada kaitannya dengan “pihak-pihak tertentu” yang tidak menyukai pembangunan Jalan Trans Papua. Dalam serangan terhadap karyawan PT Istaka, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Daerah Militer III Ndugama pimpinan Egianus Kogoya (kadang media mengeja namanya “Ekianus” dan “Kogoye”) mengaku sebagai pelakunya. Juru bicara TPNPB Sebby Sambom mengonfirmasi kepada media, mereka sengaja menyasar proyek jembatan Kali Yigi untuk mengusir pekerja pembangunan. "Kami menolak kebijakan pembangunan jalan, jembatan, atau apa pun. Kami hanya menuntut hak kemerdekaan," kata Sebby kepada CNN Indonesia.

Proyek Jalan Trans Papua dimulai sejak 2015 bertujuan membuka isolasi area terpencil di rute yang menghubungkan Papua dan Papua Barat. Dalam empat tahun pemerintah menargetkan menambah 1.066 kilometer.

Menurut CNN Indonesia, kelompok pimpinan Egianus Kogoya selalu melancarkan aksi teror mereka di Nduga. Di kabupaten ini kekerasan tercatat meningkat sejak 1,5 tahun terakhir. Sepanjang 2014-November 2018 saja, dari 26 kekerasan bersenjata di Papua yang menewaskan 31 orang, 4 kasus terjadi di Nduga dan semuanya didalangi kelompok Egianus Kogoya. Jumlah korban tewas tersebut meliputi 15 warga sipil, 14 aparat, dan 2 anggota kelompok bersenjata.

Kekerasan pertama di Nduga terjadi pada 12 Desember 2017, ketika operator ekskavator pembangunan Jalan Trans Papua bernama Yovicko Sondakh tertembak dalam serangan yang berlokasi di Jalan Trans Papua KM 114 di Kecamatan Mugi. Menyusul pada 25 Juni 2018, kontak senjata terjadi di Bandara Kenyam selama berjam-jam, mengakibatkan pesawat pembawa logistik pemilu tertembak serta tiga warga sipil yang tinggal di sekitar lokasi meninggal dunia.

Sepanjang 3-17 Oktober 2018, 16 orang yang berprofesi sebagai guru dan paramedis disandera kelompok Egianus karena dituduh sebagai mata-mata tentara. Sorang paramedis terluka dan satu guru perempuan yang berusia 42 tahun diperkosa bergilir oleh penyandera.

Namun dari semua itu, serangan terparah ialah yang terjadi pada 2 Desember 2018. Di hari itu, karyawan PT Istaka Karya yang sedang berada di proyek jembatan Kali Yigi diserang dengan berondongan tembakan. Bersamaan dengan itu, pos militer di Distrik Mbua juga diserang. Diperkirakan 19 sampai 31 orang tewas dalam dua serangan itu, termasuk seorang anggota TNI Yonif 755/Yalet.

Kejadian itu sempat membuat Menteri PUPR Basuki Hadimujanto menyatakan proyek Jalan Trans Papua dihentikan. Belakangan, proyek ini berjalan lagi, atau mungkin sebenarnya tak pernah terhenti, dan proses konstruksinya dikawal anggota TNI.

Bentrok senjata yang mengakibatkan kematian Prada Usman Hambelo adalah gesekan kedua TNI dan kelompok separatis tahun ini di Nduga. Sebelumnya, pada 26-27 Februari 2019 tembak-menembak antara TNI dan kelompok Egianus Kogoya mengakibatkan satu prajurit bernama Pratu Kasnun tewas.

Dampak terparah dari konflik Nduga pasca 2 Desember adalah jumlah penduduk yang mengungsi ke hutan untuk menghindari jadi korban salah sasaran.

"Susahnya masyarakat di sana itu, TNI tidak bisa bedakan siapa itu TPNPB, masyarakat sama semua. Ini bisa memakan korban," kata Direktur Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua Theo Hasegem, dikutip BBC Indonesia.

Hingga April 2018, setidaknya 32 ribu penduduk Nduga menjadi pengungsi. Menurut laporan investigasi Tim Solidaritas untuk Nduga, pengungsian telah membuat 139 warga sipil meninggal karena sebab-sebab seperti sakit dan kelaparan.

"Sekarang sudah masuk bulan ketiga mengungsi dan kebutuhan dasar seperti makan dan minum paling sengsara. Pengakuan anak-anak itu, ada yang makan sehari sekali, ada yang dua hari sekali, sampai ada yang pingsan saat belajar," terang Sekretaris Yayasan Teratai Hati Papua Ence Geong.

Konflik berlarut-larut di Papua membuat anak-anak turut direkrut TPNPB sebagai kombatan, tindakan yang membuat TPNPB bisa dikategorikan melakukan kejahatan perang. Ada tuduhan pemerintah meresponsnya dengan melakukan operasi militer, tetapi dibantah oleh Kapolda Papua.

TNI dan Polri juga tetap menyebut kelompok ini dengan istilah kelompok kriminal bersenjata (KKB) atau kelompok kriminal sipil bersenjata (KKSB) ketimbang tegas memakai istilah kelompok separatis bersenjata (KSB). Padahal TPNPB sudah mengaku bertanggung jawab atas sejumlah penembakan. Di sisi lain Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu telah menyebut kelompok Egianus Kogoya sebagai "bukan kelompok kriminal tapi pemberontak."

Tagged:
News
indonesia
Papua
Berita
séparatisme
TNI
Konflik Bersenjata
Tentara Nasional Pembebasan Papua Barat
Nduga