Gas Tawa Mulai Diujicoba ke Manusia Sebagai Obat Anti Depresi

Uji coba mulai dilakukan di Australia. Para peserta diminta duduk di kursi lalu menghirup dinitrogen monoksida sembari "bersantai dan mendengarkan musik enak." Jadi kelinci percobaannya leh ugha..

|
18 April 2019, 10:15am

Foto ilustrasi via screenshot   YouTube

Peneliti di Rumah Sakit The Alfred Kota Melbourne, Australia, sedang mengkaji kemungkinan memakai gas tawa sebagai obat depresi. Beberapa sukarelawan diundang berpartisipasi dalam uji coba medis tersebut. Mereka diberi beberapa dosis dinitrogen monoksida dalam kondisi terkontrol, dengan harapan obat ini dapat mempengaruhi jalur saraf lebih efektif dibanding obat depresi biasa. Jika berhasil, harapannya gas tawa bisa membantu meringankan gejala pasien yang menderita depresi klinis.

Profesor Paul Myles, selaku ketua tim penelitian, menyebut uji coba ini cukup potensial. "Kami sudah tahu dinitrogen monoksida itu aman dan efek sampingnya minimal," ujarnya. Para peserta akan menghirup dinitrogen selama satu jam penuh seminggu sekali, selama satu bulan. "Peserta uji coba hanya perlu duduk di kursi, bersantai, mendengarkan musik enak sembari menghirup gasnya, setelah itu mereka akan merasa ringan dan sedikit pusing. Tetapi saya jamin suasana hati mereka pasti langsung berubah," kata Paul saat diwawancarai Fairfax. "Setengah jam setelah efek gasnya terasa, pasiennya boleh pulang."

Gas tawa akan hilang dari aliran darah di tubuh tak lama setelah dihirup. Artinya, pengaruhnya tidak lama. Tapi indikasi awal menunjukkan bila efek positif dari dinitrogen monoksida terhadap suasana hati seseorang mampu bertahan selama seminggu.

Karena itulah, Paul berharap dinitrogen monoksida bisa digunakan sebagai perawatan jangka pendek untuk pasien yang sedang menunggu, sebelum obat depresi regular mereka mulai berfungsi. Bagi pasien yang berisiko bunuh diri, perawatan ini juga berpotensi memberi hasil memuaskan. Selain itu, para peneliti percaya gas tawa dapat menjadi alternatif untuk orang yang tidak responsif terhadap obat depresi biasa.

"Tipe-tipe depresi akan mempengaruhi bagian otak berbeda, maka perawatan harus disesuaikan dengan tipe depresi yang spesifik," kata Jayashi Kulkarni, Direktur Pusat Psikiatri RS Alfred Monash. "Obat biasa tidak selalu efektif bagi semua orang."

Dalam wawancara bersama Fairfax, Paul menjelaskan penyebab gas tawa bisa efektif untuk meredakan gejala depresi. "Gas tawa mempengaruhi jaringan otak yang berbeda dengan obat antidepresi biasa," ujarnya. "Berbagai obat antidepresi yang digunakan selama 50 tahun terakhir beredar di tubuh melalui jalur serotonin. Perawatan gas tertawa bekerja melalui jaringan yang disebut sebagai jalur NMDA."

Penelitian RS The Alfred bakal mengikuti jejak studi-studi serupa yang telah dilaksanakan di negara lain. Penelitian efek gas tawa untuk psikiatri pernah dilakukan di University of Washington pada 2014. dalam penelitian sebelumnya, dua pertiga peserta uji coba mengalami pengurangan gejala depresi setelah dirawat pakai gas tawa secara intensif. Tidak ada pasien yang mengalami pemburukan gejala depresi setelah dirawat.

"Penemuan kami perlu direplikasi berbagai lembaga kesehatan lain. Kami percaya terapi dinitrogen monoksida nanti dapat membantu banyak penderita depresi," kata Peter Nagele, guru besar anestesiologi di Fakultas Kedokteran University of Washington. "Saya terkejut setelah sadar tidak banyak fakultas kedokteran belum menguji zat kimia yang jelas-jelas membuat orang tertawa. Padahal gejala utama depresi adalah kesedihan."

Follow Gavin di Twitter atau Instagram

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Australia