Iklan
Views My Own

Aku Dulu Benci K-Pop, Tapi Sekarang Malah Jadi Penggemar Beratnya

Aku merasa sudah ketinggalan banyak hal. K-Pop ternyata enggak seburuk yang kukira selama ini.

oleh Therese Reyes
19 November 2019, 10:55am

Aku menyempatkan waktu berfoto di depan poster Jin BTS meski saat itu sedang kedinginan di Kyoto. Foto oleh Nikki Sunga

Lima tahun lalu, aku bersumpah enggak akan pernah suka K-Pop. Takkan ada yang mampu mengubah pikiranku. Aku bodo amat saat teman-teman berusaha membujukku jadi penggemar. Aku selalu bilang “enggak ngerti, ah” atau “apa bedanya” ketika mereka ngajarin soal boyband Korea.

Bagaimana dengan sekarang? Feed Instagramku penuh dengan foto Jennie Blackpink dan anggota BTS gara-gara follow banyak fan account mereka. Highlight Instagram Story aku juga penuh foto-fotoku berpose jari hati.

bt21 store
Instagram story-ku saat mengunjungi toko BT21 di Hong Kong. Aku kelihatan semangat banget, ya?

Di sebelah kartu pos dan majalah makanan indie Lucky Peach, boneka berkepala hati dan mulut kuning tebal berdiri gagah di rak buku. Itu bukan sekadar boneka biasa. Namanya Tata, dan diciptakan oleh V. Dia bias atau anggota favoritku di boyband Korea terbesar di dunia.

Aku takjub bisa sebenci itu dulu sama K-Pop cuma gara-gara enggak mau dibilang cupu.

Budaya K-pop sudah belasan tahun dipuja-puja di sebagian besar negara Asia (dan juga Filipina), sebelum akhirnya mendominasi Barat. Aku ogah ngikutin perkembangan K-Pop karena enggak “sekeren” musik barat. Saat masih remaja, playlist di iPod-ku isinya lagu alt-rock dan indie 90-an yang aku dengar dari The O.C. dan One Tree Hill. Ada pop juga, tapi kebanyakan lagu hits saja. Menurutku, musik keren yang seperti ini. Bukan musik Asia.

Ini ada kaitannya dengan kecintaan Filipina terhadap Amerika. Pada 2014, studi Pew Research menemukan orang Filipina menyukai Amerika Serikat lebih dari orang Amerika itu sendiri. Makanya enggak heran kalau selera kami kebarat-baratan banget. Lima tahun lalu, musik K-Pop cuma diputar di beberapa stasiun radio saja.

Semasa remaja, aku adalah penggemar musik snob. Aku suka lagu “I Don’t Care” 2NE1, tapi hanya sekadar guilty pleasure. “Lagunya bagus,” tukasku, “buat acara TV dan pesta anak-anak.” Bagiku, musik K-Pop terlalu corny dan penggemarnya fanatik abis.

Semuanya pun berubah. Aku sering jalan-jalan mengelilingi Asia, dan baru menyadari betapa banyak orang menyukai K-Pop. Jenis musik ini memang ditujukan buat remaja, tapi sangat mainstream di Jepang dan Hong Kong.

Aku malu dan merasa bodoh karena udah belagu. Itulah sebabnya aku mulai cari tahu lebih banyak soal K-Pop tahun lalu.

Aku mulai dengan BTS.

Suatu malam di bulan Juli, temanku yang Army BTS tiba-tiba mengirimkan link video klip “Spring Day”. Mungkin ini waktunya aku membuka diri dengan K-Pop?

Videonya dimulai dengan V berdiri di stasiun kereta. Dia tiba-tiba berlutut dan meletakkan kepala di rel kereta yang tertutup salju.

“K-Pop kayak begini, toh?” batinku, kaget dengan banyaknya metafora tentang cinta, kehidupan dan kematian dalam video.

Aku menghabiskan semalaman menonton video-video lain yang dikasih teman, dan mempelajari semua trivia anggota boyband. Aku menghabiskan waktu mencari lagu dan film barat, padahal ada banyak konten non-Barat bagus yang menungguku di luar sana.

Aku pun mengikrarkan diri jadi penggemar sejati K-Pop. Aku menonton semua video yang ada anggota BTS—Jin, Suga, J-Hope, RM, Jimin, V dan Jungkook—di thumbnail. Euforia yang kurasakan ketika nonton video mereka mengingatkan saat-saat aku ngebet One Direction dan Backstreet Boys dulu. Lelucon mereka yang sopan mungkin mirip-mirip dengan program TV The Great British Bake Off.

Dari BTS, aku kemudian menikmati musik dari grup-grup lain. Aku bersemangat menebak referensi film yang ada di video “What is Love? TWICE. Kalau dulu geli mendengar lagu “Nobody” Wonder Girls, sekarang aku enggak malu-malu ikut nge-dance pas lagu Momoland “BBoom BBoom” muncul.

Setelah itu, aku mulai mengikuti perkembangan penyanyi solo kayak IU. Dia frontal menyindir budaya seleb dan media sosial beracun dalam lagu “BBIBBI”, yang sayangnya belum diketahui banyak orang. Seorang teman juga memperkenalkanku kepada band indie Korea Hyukoh. Andai saja aku suka musik Korea dari dulu, mungkin malam-malam emosionalku akan dihabiskan dengan lagu “LOVE YA!"

bt21 bag bts
Tas BT21-ku tergantung cantik di dalam kamar dekat novel favoritku.

Tak bisa dipungkiri bahwa industri K-Pop menetapkan dan menyebarkan standar kecantikan enggak realistis kepada idola dan penggemarnya. Kancah musik K-Pop juga enggak sebersih yang kita kira. Namun seperti yang dilakukan BTS kepadaku — atau Super Junior dan Big Bang kepada fans terdahulu — K-Pop mengajak kita merangkul budaya baru.

Aku memahami sistem umur atau hierarki Korea berkat BTS, yang terbagi antara “hyung” dan “maknae” (anggota tua dan muda). Mendengarkan perjuangan Tiffany Young untuk diterima di Korea Selatan menyadarkanku seperti apa pengalaman orang Asia-Amerika di sana.

Mungkin itulah gunanya budaya pop: membuka wawasan akan dunia luar yang tak pernah kita ketahui sebelumnya.

Buat kalian semua yang benci K-Pop, coba sekali-sekali dengerin kayak gimana musik mereka sebenarnya. Mungkin kalian akan berubah pikiran sepertiku.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Asia

Tagged:
Asia
korea
Musik
K-Pop
BTS
fandom
kpop
Budaya
fan culture
Opini