Iklan
Sambaran petir

Sambaran Petir Dahsyat di Tapanuli Bikin Penggembala dan 19 Kerbaunya Tewas Seketika

Di dunia nyata, tersambar petir tidak menjadikanmu sakti seperti Gundala. Di Sumatra dan Jawa, insiden sambaran petir yang mematikan relatif sering terjadi.

oleh Ikhwan Hastanto
21 Agustus 2019, 10:01am

Kolase oleh VICE. Ilustrasi petir dari Wikimedia Commons; belulang kerbau dari pixabay/cc 2.0

Senin malam itu (19/8) hujan lebat mengguyur Desa Uratan, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara sejak sore. Sitor Habeahan, seorang penggembala kerbau berusia 23 tahun, memutuskan tetap menuju kandang kerbau di sebelah rumahnya. Seperti setiap harinya, ia berniat menyalakan api untuk mengasapi para kerbau agar tidak diganggu nyamuk-nyamuk malam. Ada 21 ekor kerbau yang jadi tanggung jawab penggembala muda itu.

Sekitar pukul 19.20, dalam keadaan listrik padam, tiba-tiba petir menyambar kandang kerbau milik Sitor. Nahas, pemuda tersebut tewas di tempat bersama 19 kerbaunya.

"Satu warga tewas seketika, begitu juga dengan 19 ekor kerbau yang berada di dalam kandang juga mati akibat disambar petir," kata Humas Polres Tapanuli Tengah Iptu Rensa Sipatuhar kepada Kompas.

Jupita Habeahan, orang tua korban, mengatakan Sitor bukanlah pemilik semua kerbau tersebut. Sebanyak 17 kerbau dimiliki Mikael Simbolon (56),tetangga sedesa Sitor, sedangkan 2 kerbau lain milik Sitor sendiri. Akibat insiden ini, kerugian diperkirakan mencapai Rp300 juta rupiah.

"Kalau kerbau yang mati itu masih bisa dicari gantinya dan dipelihara lagi. Tapi kalau anak saya ini tak akan kembali," ujar Jupita, dilansir Kompas. Mikael selaku pemilik kerbau mengaku sudah mengikhlaskan ternaknya.

Seluruh kerbau yang tersambar petir sudah dikebumikan secara massal pada Selasa sore, 20 Agustus kemarin menggunakan alat berat dengan disaksikan ratusan warga desa. Jenazah Sitor rencananya akan dimakamkan Rabu ini (21/8). "Rencana pengebumian anak kami ini besok (Rabu)," tambah Jupita kepada Detik.

Di Indonesia, angka kematian akibat sambaran petir paling tinggi terjadi di pulau Jawa dan Sumatra. Tidak mengherankan sebetulnya, mengingat dua pulau padat itu termasuk kawasan dengan aktivitas petir paling intens di dunia.

Pada 12 Juni lalu, ambil contoh, petir menyambar tiga pendaki Gunung Sibayak, juga di Sumatera Utara, saat mereka hendak turun gunung. Tidak ada satu pun korban jiwa, namun dua di antara tiga korban mengalami luka bakar di sekujur tubuh, yaitu pasangan ayah-anak Jamil Abadi Nasution (35) dan Rumaisa Nasution (4).

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 14.00. Korban sambaran petir langsung dievakuasi oleh pendaki lain bernama Samule ke tenda untuk diberipertolongan pertama. "Tadi kondisinya sudah banyak luka bakar di tangannya sama kakinya. Terus bajunya robek-robek. Dari mulai dada ke bawah sudah kaku, tapi dia masih sadar. Karena di dalam badannya masih ada elektriknya, kami bawa ke tenda, langsung kami selimuti pakai apa yang ada," ucap Samuel kepada Kompas.

Dari pegunungan Sumut, kita pindah ke lautan Aceh Utara. Pada 21 Mei 2019, seorang nelayan bernama Musli Zulkarnaini (20) dilaporkan tewas tersambar petir di perairan Seunuddon, Aceh Utara. Perkiraan waktu meninggal sekitar pukul 10 pagi ketika cuaca perairan mendung disertai angin dan petir. Jenazah korban ditemukan oleh nelayan lainnya, Mawentir (30), yang juga sedang memancing. Mawentir-lah yang membawa korban ke daratan. Namun ketika tiba di pinggir pantai, korban sudah meninggal dunia.

Tersambar petir tentu bukan hanya menjadi monopoli nasib manusia saja. Di Florida, Amerika Serikat, dua ekor jerapah mati setelah tersambar petir di Taman Safari Lion Country. Insiden ini menimpa Lily, betina berusia 10 tahun setinggi 4 meter, dan Jioni, jantan berusia satu tahun setinggi 3 meter, saat sedang berada di padang rumput ketika badai petir dan kilat datang.

Fenomena kesamber petir pernah dijelaskan oleh Syarif Hidayat, peneliti petir dari Institut Teknologi Bandung. Menurutnya, petir mempunyai kecenderungan menghantarkan arus ke bumi secara terburu-buru. Dalam prosesnya, petir memilih tempat terbuka, objek tinggi, dan tonjolan di permukaan bumi sebagai sasaran.

Tentu saja nelayan di laut dan jerapah di padang rumput termasuk ke dalam kategori tonjolan tersebut. Petir sering menewaskan karena tegangannya mencapai 26.000 ampere, sedangkan tegangan yang bisa ditoleransi tubuh manusia hanya 20 mili Ampere.

Agar terhindar dari musibah ini, ketika kamu berada di situasi petir menyambar-nyambar, tips ini bisa dipakai. Pertama, jangan berada di permukaan terbuka atau tempat yang tinggi. Kedua, jangan tiarap. Ketiga, jangan berenang atau membuka air dari keran. Keempat, jangan pakai payung atau berlindung di bawah pohon tinggi saat petir menyambar. Kelima, jika berada dalam rumah, matikan semua perangkat elektronik dan cabut kabelnya. Biar daftar ini nggak kepanjangan, baca sisanya di sini deh.

Tagged:
News
indonesia
Berita
Bencana Alam
Fenomena Alam
Listrik
Cuaca Ekstrem
Sumatra Utara
Petir
Peristiwa