Ινδία

Akibat Hasutan Politikus, Kelompok Nasionalis Hindu Bantai Umat Muslim di India

Massa menyerang demonstran dan siapa saja yang tak sejalan dengan pemerintah nasionalis Hindu, seputar isu UU Kewarganegaraan yang diskriminatif terhadap muslim. Sejauh ini 25 orang tewas.
27 Februari 2020, 6:56am
Akibat Hasutan Politikus, Kelompok Nasionalis Hindu Bantai Umat Muslim di India
Seorang laki-laki terluka dalam bentrokan umat Hindu dan Muslim di New Delhi pada 24 Februari 2020. (AP Photo/Dinesh Joshi)

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memuji India sebagai salah satu negara paling toleran di dunia dalam lawatan resmi Sabtu lalu. Selang sehari setelah pujian itu dilontarkan, kelompok nasionalis Hindu sayap kanan memburu dan membantai penduduk Muslim yang menetap di timur laut Ibu Kota New Delhi.

Pada 25 Februari, ketika matahari bersinar terik persis di atas kepala, Mohammad Ishtiaq Khan—akrab disapa Raja oleh keluarganya—mendengar suara ribut di luar rumahnya, kawasan Kabir Nagar, dekat dengan New Delhi. Gerombolan manusia itu menyanyikan slogan rasis "Hindustan mein rehna hoga Jai Shree Ram Kehna hoga ('jika kalian ingin tetap tinggal di India, kalian harus menyayikan 'Jai Shree Ram')".

Lelaki 30 tahun itu, lalu keluar rumah, untuk memahami kenapa ada massa yang mendatangi kampungnya. Baru beberapa detik melangkahkan kaki, tubuh Raja diterjang timah panas. Dia mati tanpa pernah tahu apa kesalahannya—yang belakangan terkuak, hanya karena dia seorang muslim.

Beberapa jam kemudian, Akhtar Khan, 50 tahun, berusaha menjemput jenazah Raja dari rumah sakit. Dia adalah mertua mendiang Raja. Tapi massa yang lain mengepung mobilnya. Mereka menarik paksa Akhtar dari mobil, lalu mengeroyoknya sampai babak belur. "Mereka menarik jenggot saya seperti saya ini binatang," kata Akhtar. "Saya sudah pasti mati, kalau bukan karena ada polisi yang lewat dan membubarkan massa."

Salah satu rumah warga muslim di Kabir Nagar yang hangus terbakar, karena dilempar bom molotov oleh massa Hindu. Foto oleh Shaheen Abdulla/VICE

Massa yang menyerang minoritas muslim ini berasal dari pendukung partai penguasa, Bharatiya Janata Party (BJP) yang berideologi ultranasionalis Hindu. Politikus BJP, pada Minggu akhir pekan lalu, berpidato amat provokatif, agar orang-orang Hindu menghabisi warga muslim yang tak mau mengikuti kebijakan pemerintah.

Dampak pidato tersebut, selama dua hari terakhir, ribuan orang menyerang dan membakar rumah warga muslim, tempat usaha mereka, sampai masjid. Pihak berwenang melaporkan, jumlah korban tewas sudah bertambah jadi 25 hingga berita ini dilansir— menjadikannya kerusuhan paling mematikan di ibu kota India dalam beberapa dekade terakhir. Bentrokan melukai setidaknya 200 orang lebih, termasuk wartawan media lokal JK24 yang tertembak peluru nyasar entah dari siapa.

Rekaman video yang beredar di media sosial mempertontonkan penyerangan, pembakaran bangunan, dan para korban bersimbah darah yang diseret di sepanjang jalan.

Dalam satu video viral, nampak aparat polisi dan warga tampak mengerumuni tumpukan korban luka. Massa menyodok dengan pentungan panjang, dan memaksa mereka menyanyikan lagu patriotik India, serta melontarkan makian pada umat muslim. Banyak yang merekam kejadian ini dengan HP masing-masing.

Kerusuhan ini adalah dampak susulan Amandemen Undang-Undang Kewarganegaraan kontroversial yang disahkan parlemen India pada Desember 2019. UU tersebut mempercepat pemberian kewarganegaraan pada imigran Bangladesh, Pakistan, dan Afghanistan, tapi tidak mencantumkan Islam dalam daftar agama yang pemeluknya diizinkan masuk ke Negeri Sungai Gangga. Banyak pihak menganggapnya adalah pemaksaan terselubung agar para imigran memeluk agama Hindu.

Oposisi—terdiri dari mahasiswa dan aktivis pro-demokrasi berbagai kota besar bersama aliansi warga muslim India—selama lebih dari dua bulan rutin melancarkan aksi demo menolak amandemen tersebut, yang mereka nilai sebagai strategi pemerintah sayap kanan memberangus hak kewarganegaraan 200 jutaan penduduk Muslim serta upaya paksa ‘mengembalikan’ India sebagai bangsa Hindu. Demonstrasi tandingan yang digelar kelompok loyalis pemerintah pun sering berakhir bentrok dengan massa oposisi.

Pembantaian pun jadi nyata, setelah massa sayap kanan yang dipimpin Kapil Mishra, salah satu petinggi di Negara Bagian Delhi dari Partai Bharatiya Janata (BJP), mengonfrontasi pengunjuk rasa pada Minggu lalu. Dia meminta massa mengusir paksa oposisi sesudah lawatan resmi Presiden Trump ke India.

Akan tetapi, kelompok pro-supremasi Hindu tidak sabar menunggu. Mereka melakukan penyerangan atas nama agama sejak Senin dini hari. "Situasinya semakin memburuk sekarang," kata wartawan Zeyad Masroor Khan dari Delhi kepada VICE.

Pada saat penyerangan mulai terjadi, Khan bertindak sebagai koordinator demonstran oposisi. Dia menyampaikan informasi dan mengurus bantuan darurat bagi warga Muslim, jurnalis, aktivis, dan kelompok lain yang menjadi target serangan massa Hindu.

Dia mengatakan sempat menyerukan permintaan mendesak untuk membantu temannya teman yang rumahnya disergap massa. Lelaki malang itu sampai lompat ke teras tetangga untuk menyelamatkan diri setelah rumahnya dibakar. Lebih miris lagi, polisi di beberapa wilayah cenderung membela massa Hindu, membiarkan pembakaran dan pengeroyokan terjadi.

Personel kepolisian Delhi hanya duduk menyaksikan lokasi bekas penyerangan massa Hindu terhadap umat muslim di kawasan timur laut ibu kota India. Foto oleh Shaheen Abdulla/VICE

VICE sempat meminta waktu untuk berbicara sebentar dengannya, tapi Khan awalnya menolak karena ingin memastikan keselamatannya terlebih dulu. Khan mengutarakan kekerasannya banyak berasal dari pendukung pemerintah garis keras. Setelah beberapa jam, dia akhirnya mau melayani wawancara via telepon. Massa, kata Khan, akan menyerang siapa saja yang dianggap lawan politik BJP.

"Di satu kampung, siapapun yang jenggotan bisa kena sasaran," ungkapnya. Di India, jenggot otomatis diasosiasikan dengan pemeluk agama Islam. Sejumlah warga sampai mengibarkan bendera nasionalis Hindu di luar rumah mereka agar tidak diserang.

Selain jurnalis yang ditembak, dua wartawan NDTV dipukuli massa ketika mereka merekam pembakaran masjid. Editor eksekutif NDTV Nidhi Razdan lewat Twitter menyatakan massa baru berhenti setelah menyadari kedua jurnalis itu "'orang kita juga— orang Hindu.'"

Kekerasannya terjadi bertepatan dengan penyambutan Donald Trump di India. Presiden AS ogah mengkritik dorongan legislatif PM Narendra Modi untuk mengabaikan umat Muslim India. Dalam konferensi pers pada Selasa, dia tampak menghindari pertanyaan seputar kerusuhan antar-agama.

“Kami sempat membicarakan kebebasan beragama,” tutur Trump. “India telah bekerja keras memajukan kebebasan beragama. Saya yakin itulah yang diinginkan [Modi].”

Ketika ditanyakan soal kekerasan, Trump berkata ini adalah “urusan India”.

Otoritas Delhi telah memberlakukan jam malam di beberapa wilayah. Namun, politikus Atishi dari Partai Aam Aadmi yakin anggota militer harus segera dikerahkan.

Perdana Menteri Narendra Modi, yang juga pemimpin BJP, meminta massa tenang. Dia berjanji akan menjamin keselamatan warga muslim. Tapi janji itu dianggap omong kosong oleh warga, terutama karena kericuhan ini dipicu oleh provokasi elit partai pimpinan Modi.

"Kerusuhan ini polanya seperti yang terjadi di Gujarat," kata politikus Manish Tiwari lewat akun Twitternya. Dia merujuk pada tiga hari bentrokan antar agama di Negara Bagian Gujarat pada 2002. Kala itu 790 umat muslim dan 254 pemeluk Hindus tewas. Gubernur Gujarat kala itu adalah Narendra Modi. Itu sebabnya, citra Modi sebagai aktor intelektual kerusuhan antar agama tak pernah memudar sampai sekarang.

Harish Khurana, juru bicara BJP, membantah partainya mendalangi kericuhan ini. Dia balik menuding umat muslim sebagai provokator yang ingin merusak citra India di tengah kunjungan Presiden Trump. "Ada banyak kelompok anti-India yang ingin mempermalukan pemerintah di tengah lawatan resmi pemimpin negara asing. Itulah kenapa muncul provokasi dan hasutan semacam ini," ujarnya kepada VICE.

Sampai saat ini, penduduk New Delhi dilanda ketakutan akan terjadi kerusuhan lain dalam skala lebih besar.

"Situasinya sangat menegangkan. Tidak ada yang berani keluar rumah selama dua hari terakhir," kata Khan, yang mengaku selama ini bersahabat dengan tetangganya yang Hindu. "Ini pertama kalinya sepanjang hidup saya merasa sangat takut tinggal di India."

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News