Musik Elektronik

Napas Baru Media Distorsi, Salah Satu Pionir Kancah Musik Elektronik di Tanah Air

Indra7 dan Agus Sasongko melebur tembok yang dulu tegas memisahkan kancah clubbing dengan konser musik rock. Pengaruh album mereka yang dirilis ulang secara digital ini dapat dirasakan lintas generasi.
19 Mei 2020, 7:08am
Album Chapter 1: The Beginning band elektronik legendaris Media Distoris dirilis ulang secara digital
Indra7, salah satu personel Media Distorsi, dalam sebuah acara. Foto oleh Michael Audiano Assa/arsip Media Distorsi.

Pada akhir dekade 90an hingga awal 2000'an, kancah musik elektronik Indonesia belum seramai sekarang. Kelab-kelab malam sebagian besar mengandalkan DJ generik, semetara gig musik didominasi musik rock berbasis gitar. Salah satu yang mendobrak dikotomi kedua kancah ini, sekaligus memperkenalkan konsep band memainkan musik elektronik, adalah Media Distorsi.

Pada April 2020, delapan belas tahun setelah pertama kali dirilis dalam bentuk fisik, satu-satunya album penuh Media Distorsi bertajuk Chapter 01: The Beginning dirilis digital oleh Anoa Records dan kini bisa dinikmati pendengar musik di Indonesia lebih luas.

Beranggotakan Agus Sasongko dan Indra Asikin Isa, yang lebih dikenal dengan julukan Indra7, Media Distorsi menancapkan jejak sebagai salah satu pionir kancah musik elektronik di tanah air. Wendi Putranto, mantan editor Rolling Stone Indonesia sekaligus co-founder M Bloc Space, menulis liner notes versi digital Chapter 01: The Beginning. Wendi menilai Media Distorsi layak disandingkan bersama rekan-rekan semasanya, seperti Teknoshit (Yogyakarta), Electrofux (Bandung), dan Mobilderek (Bandung) sebagai barisan pengusung gairah baru musik elektronik tanah air yang menggabungkan elemen musik digital dengan analog.

Kiprah Agus dan Indra7 dalam kancah musik lokal sebetulnya telah dimulai bertahun-tahun sebelum Media Distorsi resmi terbentuk. Pada 1996, Agus pulang dari Australia membawa pengetahuan soal perkembangan genre elektronik dan instrumen Roland MC-303 Groovebox yang masih sangat langka di tanah air waktu itu.

Di tahun yang sama, Agus mengeluarkan album solo bertajuk Myself yang dirilis ulang Independent Records, anak perusahaan Aquarius Musikindo. Agus berkenalan dengan Indra7 lewat teman satu tongkrongan.

Agus meracuni Indra7 dengan sound-sound big beat dan techno ala Prodigy yang memiliki attitude punk, sebelum keduanya tergabung dalam Agus Sasongko & Future Sound of Pejaten (FSOP) yang kemudian merilis album (+/-) pada 1998. Indra7 mengaku sedang membujuk pihak label Aquarius Musikindo, selaku pemilik master albumnya, agar merilis (+/-) dalam bentuk digital.

1589870570612-Agus

Sampul album (+/-) yang dianggap penanda evolusi genre elektronik di Indonesia. Sumber foto: arsip pribadi Indra7

Kedua album di atas memperkenalkan sound baru ke pendengar musik saat itu, menjadi cikal bakal musik elektronik di tanah air yang pengaruhnya dirasakan lintas generasi. Gembira Putra Agam, salah satu pendiri Dead Records label elektronik futuristik Jakarta, mengatakan FSOP adalah generasi pertama electronic music di Indonesia.

"Myself dan ( +/-) adalah dua album yang sampai sekarang kalau elo denger masih terasa modern," ujar Gembi, panggilannya, saat dimintai komentar oleh VICE. "Enggak heran kalau Media Distorsi matang, karena mereka ngerti banget sama yang mereka produce."

Mengusung musik yang meleburkan elemen elektronik dan band rock yang lebih konvensional, Agus Sasongko dan FSOP lebih sering ditemukan berbagi panggung dengan band-band cadas (gig perdana mereka adalah acara Waiting Room di Poster Cafe pada ‘97) maupun di kelab-kelab malam, biarpun musik mereka termasuk anomali di tengah DJ-DJ yang masih menguasai kancah clubbing ibukota saat itu.

Beberapa tahun kemudian, band elektronik dengan konsep serupa bermunculan seperti Rock N Roll Mafia (2002), Mobilderek (awal 2000an), Teknoshit (1999). Indra7 mengaku bersama Agus sejak awal tidak menciptakan musik untuk scene club, tapi untuk kancah band yang membesarkan mereka.

Didukung tingginya airplay dan kepopuleran sound band-band elektronik dunia saat itu di MTV dan radio, Agus Sasongko dan FSOP sempat mengalami sedikit kesuksesan komersial dan bersinggungan dengan kultur pop tanah air yang lebih luas. Berdasarkan liner notes yang ditulis Wendi Putranto, Agus meminjamkan bebunyian drum loop dari Roland MC-303nya pada intro salah satu lagu hit band Gigi, “Terbang,” bahkan tampil pula sebagai cameo dalam video musik mereka.

Salah satu lagu Agus juga masuk dalam soundtrack film cult independen tanah air, Kuldesak (1998). Agus Sasongko dan FSOP sempat didaulat sebagai band pembuka konser Indonesia pertama band Arkarna di Bengkel Nightpark, Jakarta di tahun yang sama.

Pada 2001, Agus dan Indra7 sebagai satu-satunya anggota yang tersisa memilih menggunakan nama Media Distorsi secara resmi. Setahun kemudian, album perdana mereka Chapter 01: The Beginning dirilis. Mengandung berbagai sub-genre musik elektronik yang berbeda, mulai dari techno, downtempo, trance, jungle dan drum n bass, Chapter 01: The Beginning juga tidak malu-malu menyisipkan elemen musik rock, funk, jazz dan lainnya. Hasilnya adalah sebuah album eklektik yang memiliki berbagai wajah dan mood. Nomor seperti “Laknat” yang chill dan funky terasa lebih cocok dimainkan di lounge, alih-alih kelab malam besar.

"Menunggu Sabda" menggunakan distorsi digital gitar elektrik yang agresif dan mengingatkan kita akan legenda big beat The Prodigy. Bagi penggemar trip hop, “Love Lounge” akan terasa empuk di telinga sedangkan "Agar Tak Terbuai" terdengar seperti lagu pop rock MTV era 2000’an awal dengan beat komputer.

Setelah aktif selama beberapa tahun dan sempat masuk dalam berbagai kompilasi, di antaranya Soundtrack Janji Joni (2005), Jakarta Movement ‘05, dan Mesin Waktu: Teman-teman Menyanyikan Lagu Naif (2006), Media Distorsi memainkan gig terakhirnya pada 2006 sebelum akhirnya menghilang dari kancah

Agus Sasongko mendirikan dan menjalankan Lil’ Fish Records yang sempat menaungi beberapa band indie pop terbaik lokal saat itu—Pure Saturday, The Trees And The Wild—sebelum akhirnya mengakhiri label dan memutuskan mundur sepenuhnya dari dunia musik untuk urusan keagamaan.

Sementara Indra7 memilih menekuni musik techno dan menjadi DJ profesional full-time. Kini menjabat sebagai DJ tuan rumah di Jenja, Indra7 juga menjadi salah satu inisiator kolektif Jakarta Techno Militia (JATEM) yang sering mengorganisir acara-acara party.

Seperti apa kabar Media Distorsi sekarang? Kami ngobrol sama Indra7 tentang alasan Media Distorsi hiatus, membahas perkembangan kancah musik elektronik Indonesia, sekaligus album favoritnya selama dua dekade terakhir, dan nasib Media Distorsi di masa mendatang.

VICE: Gimana ceritanya setelah 18 tahun album Media Distorsi baru rilis digital sekarang?
Indra7: Kenapa 18 tahun? Gue sih enggak pernah bilang Media Distorsi itu bubar gitu, cuma lebih tepatnya hiatus sih ya. Jadi yang gue inget itu konser terakhir gue, lengkap sama si Agus itu pas launching kompilasi Mesin Waktu, teman-teman menyanyikan lagu Naif, itu di Taman Ria tahun 2006. Habis itu gue sama Agus emang udah gak ada kecocokan dalam artian musikalitas dan kehidupan personal. Udah enggak nyambung sebenarnya. Gak pernah ada kata bubar sih, jalan sendiri-sendiri aja.

Akhir tahun lalu gue ketemu Ritchie (Anoa Records) dan iseng ngobrol-ngobrol terus kecetuslah itu soal merilis ulang Chapter 1: The Beginning dalam bentuk digital. Kebetulan gue sama Ritchie di satu unit usaha bareng, dan gue juga tahu reputasi Anoa Records. Gue lumayan suka dengan roster Anoa Records; cara mereka ngurusin roster juga bagus, enggak cuman ngasal, diambil, didesain, terus dirilis gitu aja udah.

Agus kan sudah meninggalkan dunia musik agar fokus mendalami agama. Apakah dia tahu soal perilisan digital album Media Distorsi ini?
[Tertawa] Gue rasa dia tahu sih ya. Cuman gue enggak tahu dia gimana ya [tertawa]. Gue sebenarnya ngerilis ulang ini buat reminiscing aja. Karena kadang-kadang orang nanya, ‘lagu elo bisa didapetin di mana sih?’ Maksudnya fisiknya aja gue udah enggak punya, dulu gue ngerilis fisik 1.000 keping, itu abis. Gue gak repeat lagi. Akhirnya kepikiran untuk rilis dalam bentuk digital. Gak ada obrolan juga sih antara gue dengan si Agus, ‘ya udah elo yang nerusin’ gak ada sih. Lebih ke inisiatif gue aja udah [tertawa].

Elo sama Agus mulai main musik elektronik di tahun 90’an. Seperti apa kancah musik elektronik Jakarta di tahun-tahun segitu?
Gue pribadi dengerin elektronika itu ‘96. Ya sebenarnya salah satunya gara-gara Agus juga sih. Gue dulu metal berat, jadi ya gak pernah ada tendensi untuk dengerin elektronik. Tapi waktu Agus baru balik dari Australia, dia menghubungi vokalis gue dulu, Andi Cule. Jamannya FSOP. Terus si Andi bilang ‘eh temen gue baru balik tuh dari Australia, diajakin bikin proyekan band elektronik gitu deh’. Akhirnya gue main ke rumah si Agus, dikasih referensinya Prodigy. Gue dikasih album Music For The Jilted Generation.

Plus waktu itu dikasih live konsernya Prodigy yang electronic punks. Nah dari situ gue kayak ‘wah ini apaan nih?’ Elektronika, kalo orang dulu bilang lagu dugem, tapi spiritnya punk rock gini. Wah boleh nih'. Nah di 90'an akhir, club scene belum sebanyak sekarang, mungkin dulu diskotik/club ada B1, terus ada M Club ada Parkit. Nah waktu itu pertama kali clubbing gue di Parkit, jamannya Anton Wirjono baru balik dari Amerika terus bikin party underground. Pokoknya di era itu, Anton, Jerome dari Java Bass, Remy Irwan, DJ Romy. Era-era 90an akhir itu dominan lagu-lagu elektroniknya didominasi oleh breaks, big beats kayak Chemical Brothers, Prodigy, Underworld. Terus sempet garage juga lumayan booming era itu. Sama drum n bass.

Dulu Media Distorsi sering main di kelab malam atau di gig indie?
Sebenarnya basic_-nya gue sama Agus berangkat dari scene band sih. Agus itu dulu sebelum main elektronik drummer band thrash metal di SMA 3. Gue juga pas SMA main hardcore, main metal. Jadi basic kita berdua itu dari scene band. Waktu kami bikin FSOP lalu akhirnya ganti nama jadi Media Distorsi, memang gue dan Agus bikin musiknya bukan untuk pasar club scene sih sebenarnya, lebih ke band-bandan. Dulu sempet ada omonganlah kalau Media Distorsi itu lagunya enggak club friendly banget, sementara di scene band pun ini lagunya disko. Ibaratnya gitu. _Positioning_-nya sebenarnya di tengah-tengah, main di _scene band, tapi di scene elektroniknya juga main.

Pernah gak sih sampe disuruh turun pas manggung gitu? Dan apakah seiring waktu musik kalian jadi lebih diterima?
Dulu ya waktu awal FSOP dan Agus Sasongko terbentuk tahun ‘97, belum ada tuh setau gue local act bawain electronika dalam format band. Gue inget banget pertama kali FSOP manggung di depan publik di acara launchingnya Waiting Room tahun ‘97 di Poster Cafe. Nah itu isinya band-band keras semua [tertawa] hardcore, ska segala macam. Gue sendiri yang beda. Emang sempet ada deg-degannya juga sih. Aduh ini disambitin gak ya. Ternyata enggak juga. Mungkin karena orang ngeliat attitude gue dan yang lain, bisa ngimbangin pengisi acara yang lain. Apalagi waktu itu kebetulan dua vokalis gue si Andi dan Dedi mereka memang _basic_-nya anak hardcore, jadi mereka tahu harus ngapain lah. Lewat dari itu, gue udah, gak punya ketakutan lagi manggung di acara band atau di acara kelab. Karena di awal 2000an, udah lumayan banyak live PA bermunculan, ada Electrofux, ada Rock n Roll Mafia. Mungkin orang udah tahu, 'oh ini sekarang ada jenis musik baru yang muncul'. Kalo orang datang ke club buat nonton MD, mereka juga mindsetnya udah gak kayak nonton DJ, yang semua lagunya dimix rapet gak ada jeda. Karena gue kalo di club tetep ada berhenti-berhentinya juga, karena emang band kan konsepnya.



Sudah dua dekade lebih elo terlibat dengan scene elektronik/DJ di Indonesia. Gimana perkembangannya?
Kalau progressnya selama dua dekade ini berkembang banget. Salah satunya dengan adanya teknologi yang menunjang dunia per-DJ-an. Dulu era 90an sampe 2000 awal, elo mo nge-DJ harus beli vinyl. Dan untuk beli plat dan turntablenya aja udah lumayan mengeluarkan banyak uang untuk tahun segitu. Makin ke sini ya semakin dipermudah. Karena udah masuk ke era digital DJ-ing, elo cuman butuh satu laptop, satu software DJ dan controller, elo udah bisa jadi DJ.

Dulu orang ditanya, 'elo mau main apa entar? Oh gue mau jadi anak band'. Sekarang kebalik man, 'gue mau jadi DJ'. Jadi bisa dibilang everybody wants to be a DJ now. Menurut gue itu sah-sah aja sih. The more the merrier malah. Cuman at the end nanti yang menilai bagus atau enggak publiknya itu sendiri. Bisa dibilang dengan banyaknya DJ-DJ baru yang bermunculan, menurut gue bagus. Akan ada regenerasi. Gak itu-itu mulu orangnya.

Apa rilisan elektronik lokal selama dua dekade ini yang berkesan buat elo?
Salah satunya Rock n Roll Mafia album pertama, pas mereka masih berempat. Lalu Homogenic yang album kedua, Echoes of The Universe. Terus solo albumnya Vlad Vamp yang Re:construction, yang dia ngeremix lagu-lagu band, Seringai, Djiwo, Koil, Rajasinga, Komunal banyak sih. Terus keempat apa ya, oh MTAD (Matius Tiga Ayat Dua), band industrial rock dari Solo. Gue jarang denger ada band industrial lokal yang proper dalam rilisan albumnya. Salah satunya mereka. Kemudian yang terakhir, album Goodnight Electric terbaru, Misteria. Menurut gue bagus banget. Sound-nya fresh, beda dari Goodnight Electric yang biasa gue denger. Jauh lebih matang dan kaya soundnya. Bagus banget, apalagi dengan formasi sekarang berenam.

Setelah 18 tahun, gimana elo memandang _Chapter 01: The Beginning_**? Apakah ada yang elo berharap bisa elo ubah? Apakah Media Distorsi akan lanjut aktif agi?** Kalau gue dengerin lagi, terus dibilang 'wah ini kayaknya ada yang harus gue giniin nih, soundnya seperti ini, loopnya seperti ini, gitarnya seperti ini...' Enggak sih menurut gue, karena memang waktu kami bikin itu mindset di otak kami kami gak mikir wah kita harus bikinnya yang club banget nih atau yang bisa diputer di club. Memang ngalir aja.

Bisa dibilang di album gue yang itu, genrenya banyak. Ada progressivenya, junglenya ada, ada downtempo juga ada, yang chill out juga ada. Jadi memang gue sama Agus gak mematok harus bikin seperti ini untuk DJ material. Misalnya Agus bikin beat, dia nanya gue, elo suka gak. Atau misalnya gue ada riff kayak gini, elo cari deh beatnya. Lebih seperti itu sih. Dari awal gak pernah mematok genrenya harus techno.

Tapi kalau ditanya ke depannya Media Distorsi akan seperti apa, gue belum bisa jawab. Gara-gara rilisan digital ini keluar, orang-orang mulai nanya lagi, 'elo bakal nerusin lagi gak?' Gue sih ada kemungkinan bakal nerusin, lagi cuman mungkin buat proyek single satu-dua lagu. Tapi untuk bikin album 10 lagu lagi, gue belum kepikiran, karena masih ada satu projek lain yang lagi gue kerjain dan gue prioritasin. Seandainya Media Distorsi gue lanjutin lagi, musiknya akan berubah. Sound-nya akan beda. Disesuaikan lah, mungkin agak modern soundnya dibanding yang dulu.