Pandemi Corona

Seniman Bisa Dapat Bansos Selama Pandemi, Tapi Infonya Tak Banyak Diketahui

Di Jombang, seniman sampai unjuk rasa akibat tak ada penghasilan 4 bulan terakhir. Padahal ada bantuan dana dari Kemendikbud dan Kemensos. VICE membahas pentingnya bansos ini dengan pekerja seni.
21 Juli 2020, 10:21am
Info Bansos Kemendikbud untuk Seniman Indonesia
Musisi dangdut tampil di Plaza Surabaya. Foto oleh Sakurai Midori/Wikimedia Commons/lisensi CC 3.0

Empat bulan tanpa panggungan, para seniman dan penyedia jasa sound system Kabupaten Jombang, Jawa Timur, menggelar unjuk rasa di depan Pendopo Kabupaten Jombang, Senin (20/7) kemarin. Aksi massa tersebut meminta Bupati Jombang Mundjidah Wahab mencabut pembatasan izin keramaian yang berlaku sejak pertengahan Maret. Lebih dari seratus mobil turun ke jalan lengkap dengan seperangkat sound system, mengeluhkan sepinya pekerjaan bagi industri seni di Jombang sejak acara hajatan rame-rame dilarang.

"Sudah empat bulan kami tidak bekerja, itu menjadi pukulan kami. Dengan kegiatan ini, kami berharap bisa mengetuk hati Ibu/Bapak Bupati Jombang, supaya memberikan izin," ujar Koordinator Aksi Muntasir saat orasi, dilansir Kompas. Dalam tuntutan aksi, para seniman dan penyedia jasa pengeras suara mengaku siap mengikuti protokol kesehatan menjalankan acara dan minta agar izin keramaian kembali dikeluarkan pemerintah. Bupati Jombang Mundjidah Wahab sudah menerima perwakilan aksi dan berjanji memproses permintaan.

Apa yang terjadi di Jombang jadi gambaran umum nasib para seniman terdampak pandemi corona di Indonesia. Soalnya enggak semua seniman, khususnya yang tinggal di luar ibu kota provinsi, bisa diajak Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dalam program-program pertunjukan virtual yang pemerintah adakan. Ajakan terus berkarya dan produktif di tengah pandemi dari Kemenparekraf juga enggak relevan bagi semua seniman.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyebut 58 ribu seniman terdata sebagai kelompok terdampak pandemi, yang mana 27 ribu di antaranya seniman tradisional yang tak berpenghasilan selama masa PSBB. Jawa Timur menyumbang angka paling tinggi, disusul Jawa Barat, kemudian DKI Jakarta.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid menyebut bantuan sosial sudah dianggarkan untuk seniman tanpa penghasilan lain di luar bidang yang mereka tekuni. Dana sebesar Rp1 juta per orang dialokasikan dari APBN. Syaratnya, seniman harus punya KTP dan mengirimkan contoh karya seni, lalu mereka tinggal menunggu hasil verifikasi yang menentukan lolos-tidaknya pengajuan.

"Proses verifikasi ini biasanya cukup lama, tapi [akhir Mei 2020] sudah clear. Kita akan mulai kirimkan besok. Masih ada gelombang kedua, tapi bentuknya mungkin lebih bervariasi. Yang tahap ini betul-betul darurat, tapi skema lain kerja sama dengan daerah sudah dipikirkan," ujar Hilmar, dilansir Liputan6. Selain Kemendikbud, Kementerian Sosial (Kemensos) juga menjanjikan penyaluran bansos kepada 37 komunitas beranggotakan pekerja perfilman, teater, seniman budaya Betawi, seniman budaya Sunda, seniman lawak, badut, perupa, musik dan penyanyi, dan artis lansia.

Seberapa penting bantuan sosial bagi seniman?

Harly Yoga Pradana adalah musisi profesional yang tinggal di Yogyakarta. Hidup sepenuhnya dari musik sejak 2010, ia kehilangan lebih dari 25 panggungan akibat pandemi, sampai berdampak pada job di awal tahun depan. Rencana keuangan yang sudah disusunnya harus berubah total karena minim pemasukan.

"Tetap ada main [manggung] kalau konsepnya private party. Yang seperti itu masih tetap jadi. Hanya di halaman rumah, dengan protokol kesehatan," ujar Yoga kepada VICE. Yoga mengaku hanya 10 persen dari jadwal manggungnya yang bersifat private party.

"Pernah di bulan Mei penghasilan nol. Saya sama istri kan sama-sama musisi, sumber penghasilan sama-sama dari musik. Akhirnya, kami merealisasikan kepenginan sejak tahun lalu untuk bikin bisnis rumahan, yaitu produk sambal botol. Dulu enggak pernah ada waktu karena kesibukan pekerjaan di musik," ujar Yoga.

Banting setir berjualan sambal digunakan Yoga, istri, dan satu anaknya sebagai metode bertahan hidup. Hasil berbisnis sejauh ini diakui Yoga tidak sebesar profesi musisi, namun cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, untuk membayar cicilan, ia masih harus merogoh tabungan agar tidak terjerat utang.

Saat disinggung apakah seniman butuh bantuan pemerintah, Yoga mengamini. “Tidak semua musisi bisa bekerja di luar bidangnya. Banyak teman musisi enggak bisa masak atau jualan. Kesenian itu kan cerminan dari peradaban sebuah bangsa. Kalau setelah pandemi berakhir, para seniman gugur karena terpaksa banting setir dan tidak ada upaya pemerintah, nanti negara kita enggak punya seniman. Jadi untuk bantuan, menurutku itu sangat baik sekali,” jelas Yoga.

Yoga sendiri mengaku telah mendapatkan bantuan dari desa dan kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, tempat ia menempuh studi S-2 saat ini, tapi belum dari pemerintah. Penyebaran informasi soal terbukanya pendaftaran untuk mendapatkan bantuan, seperti program Kemendikbud, nyatanya tidak sampai ke semua seniman, khususnya kepada mereka yang jarang buka media sosial.

"Aku suka ketinggalan data untuk bantuan. Teman-teman musisi banyak yang submit [bantuan] bulan April/Mei, bulan ini [Juli] mereka udah nerima bantuan. Pas aku denger kabar, aku bingung karena enggak update media sosial. Saran, jembatan informasinya jangan terlalu mengandalkan internet, bisa juga lewat broadcast SMS Kominfo ke semua nomor terdaftar, kalau SMS kan pasti semuanya dapat. Banyak juga lho seniman terdampak tapi hapenya belum smartphone," tutup Yoga.

Gimana soal cabang seni yang lain? VICE ganti bertanya kepada Manshur Zikri, manajer artistik Cemeti, institusi seni kontemporer tertua di Indonesia. Sebagai platform yang mewadahi seniman dan praktisi kebudayaan berkembang lewat kerja-kerja kolaborasi, Manshur mengatakan pandemi membuat semua program Cemeti mengalami penundaan.

"Kalau berkaca dari pelaksanaan program di Cemeti, seperti program pameran, seniman yang bekerja sama dengan kami, mau tidak mau, harus mencari strategi untuk dapat mempresentasikan karya secara online. Salah duanya, Daniel Li dan Adelina Luft, yang tengah mengerjakan proyek penelitian tentang komik. Pameran fisik keduanya sedang dialihkan ke platform presentasi online berbasis website," ujar Zikri.

Terkait urgensi bantuan sosial dari pemerintah untuk seniman, Zikri merasa pemerintah udah seharusnya membantu penggiat seni budaya di Indonesia. Bentuknya tak mesti bantuan keuangan, tapi bisa juga kepastian sistem dan infrastruktur di segala lini agar siap menghadapi situasi tidak terduga seperti wabah kali ini.

"Bukan berarti seniman harus diberi uang, tapi bagaimana caranya seniman bisa memiliki akses untuk tetap berkarya di situasi serba terbatas ini. Mungkin dengan menggratiskan kuota internet dan listrik?" kata Zikri kepada VICE.

Terkait bantuan sosial pemerintah kepada seniman, Manshur dan Cemeti tidak pernah mendapat kabar tersebut selain dari media massa. Pihak pemerintah juga tidak ada yang melakukan diseminasi informasi ke Cemeti.

"Sejauh pengalaman saya tiga bulan terakhir ini, bantuan justru datang dari inisiatif-inisiatif teman-teman seniman sendiri yang bergotong-royong menghimpun dana untuk teman-teman mereka yang mengalami kendala ekonomi selama wabah Covid-19. Sejauh yang kami tahu, belum ada [seniman dalam jaringan Cemeti yang dapat bantuan pemerintah]," cerita Zikri.

Satu contoh inisiasi seniman saling bantu, musisi Leilani Hermiasih alias Frau menginisiasi proyek #SamaSamaMakan, gerakan solidaritas untuk menyumbang makanan dan dana kepada pekerja seni terdampak pandemi corona.