Hubungan

Inilah Pleidoi Kaum Malas Balas Chat Orang, Padahal Aslinya Lagi Ga Ngapa-Ngapain

Membalas chat sahabat dan keluarga saja terasa berat, padahal aku cuma rebahan saja di rumah.
15 Mei 2020, 10:40am
seorang perempuan main hp sambil rebahan
Ilustrasi main hape sambil rebahan.

Semenjak bekerja dari rumah dua bulan lalu, pekerjaan rumah sekecil mencuci piring terasa seperti beban tambahan. Setiap kali piring dan gelas mulai menumpuk, aku harus segera membersihkannya. Begitu terus tiada akhir.

Setelah selesai mencuci piring, aku menghibur diri dengan nonton video mukbang (aku masokis banget memang. Sudah tahu lagi puasa, malah menonton video makanan). HP tiba-tiba berbunyi, tanda ada pesan masuk. Perasaan cemas yang baru saja disingkirkan kembali menggerogotiku. Entah mengapa, membalas chat ikutan menjadi beban sejak social distancing berlaku.

Aku harus mengakui sering mengabaikan chat dari dulu. Tapi kalau dulu, aku selalu punya alasan jika telat membalas. Atau aku memberi tahu mereka akan membalas pesannya nanti. Namun, aku kehabisan alasan sekarang. Enggak mungkin, kan, aku bilang lupa menjawab karena keasyikan menonton YouTube?

Yang membuatku lega, terapis pernikahan dan keluarga Shira Etzion di New York menganggap ini wajar. Dia berujar hal sesimpel membalas pesan bisa terasa melelahkan selama pandemi corona. “Kita dihadapkan pada kenyataan semua komunikasi mesti dilakukan secara virtual. Gawai yang biasanya digunakan untuk bersenang-senang, kini menjadi suatu kewajiban,” terangnya.

Shira menjelaskan pandemi—yang memaksa pekerja nonesensial bekerja dari rumah—mengikis batasan digital yang berlaku di kehidupan normal. “Orang-orang butuh waktu untuk memahaminya. Bukan hanya karena kamu bekerja di rumah, lalu kamu harus sedia setiap saat,” tuturnya. “Kenyataannya adalah kamu diam di rumah dan berusaha bekerja selama pandemi.”

Kecemasanku dipicu oleh fakta orang yang mengirim chat tahu kalau aku di rumah saja, dan aku enggak punya alasan untuk membalas telat. Tapi menurut terapis relasional Racine Henry, asumsi semacam itulah masalahnya.

“Kita enggak butuh alasan, dan saya harap kita bisa menyingkirkan perasaan harus punya alasan,” katanya. “Kamu memang enggak bisa ke mana-mana, tapi bukan berarti kamu enggak punya kesibukan di dalam rumah.” Itu berarti sangat wajar jika kamu merasa enggak sanggup balas chat tepat waktu, bahkan ketika kamu di rumah saja.

Akan lebih baik lagi jika kamu membicarakan ini dan mengelola ekspektasi. Kalian bisa menjawab seperti, “Boleh gak kalau besok saja biar aku bisa fokus ngobrol sama kamu?” atau “Aku mau chattingan sama kamu tapi sedang enggak bisa sekarang. Gimana kalau aku menghubungimu di lain waktu?”

Selain itu, perasaan bersalah karena enggak membalas chat baru bisa disingkirkan jika kita mengatur ekspektasi diri sendiri. “Enggak ada salahnya kalau kamu ingin melakukannya dengan santai,” tutur Shira. “Ini bukan saatnya kamu menilai diri sendiri seperti yang biasa dilakukan di kehidupan normal.”

Penting juga diingat bahwa teman dan keluarga merasakan apa yang kamu rasakan selama pandemi global. Bisa jadi mereka jauh lebih pengertian daripada yang kamu kira.

“Jangan meremehkan diri sendiri dan orang tersayang,” kata Racine. “Kualitas hubungan enggak bisa dinilai dari seberapa responsif atau komunikatif seseorang selama situasi seperti ini. Semua orang sama-sama berusaha untuk tetap waras.”

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US