Iklan
Melawan Bosan

Kenapa Generasi Millennial Cenderung Bosan Sama Kehidupan Modern?

Sesungguhnya, rasa bosan yang dirasakan anak muda bisa memberikan manfaat-manfaat berfaedah.

oleh VICE Staff
21 Juni 2018, 3:00am

Photo via wikimedia commons

Setiap hari ada saja temuan baru yang mengejutkan atau kelam tentang generasi millennial. Kita adalah generasi yang dianalisa dalam real time, dan kelakuan dan keputusan kita kerap dikompilasikan ke dalam infografik, membuat kita didaulat sebagai generasi vegetarian terbesarlah, generasi paling cair secara genderlah, dan semacamnya. Minggu lalu, sebuah hasil survei yang dilansir membuat saya sedikit khawatir. Kabarnya dua pertiga generasi millennial “bosan dengan hidup.” Dua puluh tujuh persen bosan dengan televisi, satu dari enam eneg dengan media sosial, dan 25 persen dari kita bosan mencoba tertidur. Kita sudah kehilangan gairah untuk segala hal. Kita bosan merasa. Intinya, kita bosan hidup.

Ada sesuatu tentang frasa “bosan dengan hidup,” yang agak mengganggu. Ini adalah diagnosis yang tumpul. Seakan kekurangan kata-kata. Seperti sebuah kesimpulan putus asa yang diambil setelah berkali-kali gagal menemukan masalah sesungguhnya. Bosan dengan sekolah atau bosan dengan program televisi masih normal, tapi bosan dengan eksistensi kehidupan itu masalah lain. Kayaknya dalam kehidupan cukup ada banyak hal yang bisa menggugah perhatianmu semenjak kamu dilahirkan hingga akhir hayat nanti.

Ketika saya mengevaluasi hidup saya sejauh ini, seperti apa rasanya menjadi saya sehari-hari, insting saya mengatakan tidak, saya tidak bosan dengan hidup. Banyak yang terjadi kok setiap harinya. Setiap hari, saya berbicara dengan orang-orang yang menarik, membaca tentang penderitaan di dunia, tentang Drake, dan menonton video go-pro beruang yang mengejar pesepeda. Saya biasanya minum beberapa jenis minuman panas yang berbeda, kadang merokok, menyesalinya, makan kacang, dan kencing beberapa kali. Di malam hari, saya minum bir atau menonton episode lama Catchphrase atau berdiri di sekitar kelab malam berpura-pura saya belum capek.

Belum lagi yang terjadi di dalam pikiran kita. Otak kita itu seperti roller coaster. Saya senang ketika bertemu dengan pacar, kecewa ketika melihat tubuh saya yang lembek, marah ketika membaca komentar-komentar di video YouTube, stres ketika harus memasak, tertawa ketika bersama teman-teman, dan menangis setiap dua atau tiga tahun sekali. Kadang hidup melelahkan, tapi tidak pernah membosankan.

Foto via pixabay

Sama seperti generasi muda lainnya, saya memang kadang kesulitan berkomitmen untuk sebuah aktivitas. Saya sulit menyelesaikan sebuah buku, misalnya. Ada beberapa buku Penguin klasik dan buku non-fiksi pendek tentang Afrofuturisme yang menunggu untuk dibaca, tapi begitu melewati tiga halaman, saya mulai merasakan kehadiran benang tidak terlihat di bawah mata yang menarik kepala saya untuk menoleh ke hal lain: ponsel.

Tidak heran bahwa kemampuan kita untuk berinteraksi sosial secara mobile telah memperpendek rentang perhatian kita, tapi ini isu yang berbeda. Kebosanan bukan berarti ketidakmampuan untuk berkonsentrasi. Kebosanan adalah kurangnya ketertarikan, atau kekurangan hal sebagai obyek konsentrasi. Kebosanan adalah tatapan kosong dalam kekosongan.

Itulah pertanyaannya: Bagaimana mungkin generasi yang memiliki lebih banyak pilihan aktivitas dibanding generasi sebelumnya justru mengklaim bosan dengan hidup? Apakah kita telah menciptakan jenis kebosanan baru? Kebosanan yang timbul akibat terlalu banyaknya pilihan, dan bukan karena kekurangan. Ketika saya memikirkan apa yang saya rasakan setiap harinya, memang kadang ada sensasi gatal yang membuat saya merasa bahwa saya ingin melakukan sesuatu yang lain.

Saya ingin pergi dan membuat kopi. Saya ingin ngecek Twitter. Saya ingin mendengarkan musik yang baru. Perpustakaan film Netflix menjadi daftar panjang tugas menonton. Artikel-artikel yang saya simpan untuk dibaca nantinya menjadi daftar kewajiban yang tidak pernah habis. Kebosanan ini menjelma dalam keresahan—bukan “bosan dengan hidup,” tapi terus-terusan menunggu hidup untuk dimulai. Kebosanan dan kelesuan ini sebetulnya adalah semacam teknik bertahan hidup. Satu-satunya cara alami menghadapi banyaknya konten yang bertarung demi perhatian kita adalah dengan cara merotasi perhatian kita—semacam white noise yang kita kembangkan untuk menenggelamkan semua kebisingan yang menyerbu.

Foto via pixabay

Justru sesungguhnya, kebosanan tulen gaya lama, seperti ketika kamu bengong menatap keluar jendela ketika sedang hujan, adalah sebuah berkah. Di sebuah artikel Guardian tahun lalu, Gayatri Devi, seorang profesor Inggris di Lock Haven University, menjelaskan kebosanan sebagai “privilese terakhir dari pikiran bebas.” Dia menjelaskan bahwa kebosanan adalah “pengalaman waktu intens yang tidak disentuh kecantikan, kenikmatan, kenyamanan dan sensasi enak fana lainnya.”

Intinya, kebosanan yang nyata, ruang kosong yang nyata, merupakan satu-satunya waktu yang kita habiskan dengan pikiran sendiri. Satu-satunya waktu ketika pikiran kita dibiarkan berkembang menjadi gagasan-gagasan besar lainnya tanpa diganggu oleh seks, substansi, atau fantasy football league. Bosan dengan hidup merupakan pernyataan yang kekanak-kenakan dan menyedihkan, tapi bosan dalam hidup, sekali-kali, justru sesungguhnya lumayan sehat.

Tagged:
Internet
ramadan
boredom
Kultur
Lebaran
Anak Muda
Liburan
milenial
Libur Lebaran
Melawan kebosanan