Iklan
komik

Menyudahi Perseteruan Komik Indonesia dan Terjemahan Manga

Banyak komikus lokal memilih jalur independen demi kebebasan absolut meski menghadapi risiko klasik: karyanya sulit masuk toko buku. Kini ada titik terang bahwa manga dan komik lokal tak harus saling meniadakan.

oleh Adi Renaldi
18 November 2016, 11:45am

Pada sore yang mendung, saya mampir ke mal kawasan Pejaten, Jakarta Selatan. Seperti biasa saya menghabiskan waktu di toko buku, dengan harapan menemukan judul-judul menarik. Mata saya kemudian tertuju pada deretan komik-komik Indonesia. Namun ada mengganjal bagi saya yang terhitung hanya sesekali membaca komik atau novel grafis buatan lokal. Komik-komik lokal dipajang pada seksi "Fiksi" berbarengan dengan beragam novel yang entah berapa banyak. Jumlah komik Indonesia di toko itu sangat sedikit, hanya satu kolom rak.

"Mbak, komiknya cuma segini?" tanya saya kepada seorang pramuniaga. Perempuan muda itu lantas menunjuk ke jajaran rak di bagian belakang. Ada tiga rak besar dengan deretan huruf kapital di bagian atasnya: KOMIK. Isinya bisa ditebak: puluhan judul komik terjemahan Jepang (manga). Tak ada satupun komik lokal.

Kebanyakan manga impor terjemahan ini diterbitkan oleh PT Elex Media Komputindo. Merekalah terutama yang berperan atas banjirnya manga di rak-rak buku Indonesia. Perusahaan ini rata-rata menerbitkan 60 judul komik impor baru saban bulan, beradasarkan sebuah survei. Artinya, Indonesia adalah importir manga terbesar kedua di dunia.

Contoh gambar komik terbitan Sarekat Dagang Komik


Namun, alih-alih berkutat pada ratapan mengenai buruknya infrastruktur untuk pelaku komik dalam negeri serta dominasi penjualan komik terjemahan bagaimana bila wacana tersebut dibalik: Mungkinkah komik lokal bersanding dengan komik impor dan berjalan beriringan tanpa harus saling mengalahkan?

Jawabannya mungkin saja.

Secara kualitas, komik lokal tentu saja tidak kalah dari karya komikus asing. Pada gelaran Popcon Asia 2016 Agustus lalu, deretan komik lokal berkualitas bermunculan. Sebut saja Ceramic Sky: Iris Night karya Varsam Kurnia dan Sakti Yuwono, Manungsa karya Erfan Fajar dan Jaka Ady, serta masih banyak lagi. Beberapa dari komik di acara tersebut bahkan dicetak ribuan eksemplar, tak sedikit judul yang terjual habis.

Di sisi lain, respon suam-suam kuku dari publik terhadap komik lokal membuat komikus nasional bergerilya menerbitkan sendiri atau mendirikan studio komik yang bakal menaungi sekaligus aspek produksi dan distribusi. Tak jarang seniman atau penerbit yang menjual karya secara mailorder atau lewat event-event khusus.

Contoh saja penerbit independen macam Barasub Press, Sarekat Dagang Komik/Kartel Komik, Binatang Press, Milisi Fotocopy, atau Tantraz Comics yang memiliki cukup banyak pengikut followers.

Kharisma Jati dari kolektif Sarekat Dagang Komik berpendapat pada skala industri perlu ada alternatif mengimbangi pengaruh pemain arus besar. Komik-komik lokal berpeluang menjadi sebuah oase mengeksplorasi ide dan tema yang khas, yang tidak dimiliki manga.

"Iklim industri yang ada tidak sepenuhnya mendukung komikus berkarya sesuai aspirasinya, kita berorganisasi untuk menggagas sistem produksi-distribusi alternatif dan menawarkan wacana kepada audiens," kata Jati saat ditanya alasan mendirikan Sarekat Dagang Komik.

"Kami memilih jadi independen karena kebebasan ruang gerak dalam berekspresi," ungkapnya. Jati yang sejak awal 2000-an sudah menuangkan kreativitas melalui komik tak terlalu peduli pada industri arus utama. Baginya, memilih jalur independen merupakan kebebasan absolut meski harus menghadapi risiko klasik: karyanya sulit masuk toko buku.

Hal senada diutarakan Acung selaku pemilik Binatang Press yang berbasis di Jakarta Selatan. Menjadi bagian dari industri besar tak pernah masuk visi dan misi mereka. "Kami ingin mencoba konsep publishing house dalam skala kecil dengan proses kurasi artist yang cukup ketat," ungkap Acung saat ditemui di markas Binatang Press di bilangan Radio Dalam, Jakarta Selatan.

Bermodalkan mesin cetak Risograph RZ 330 yang terbilang cukup jarang digunakan di Indonesia, Binatang Press - yang baru berusia satu tahun - bereksperimen dengan warna-warna dan konsep terbitan yang unik. Hasilnya adalah komik Nyampah - sebuah kumpulan komik strip karya Muhammad Taufiq alias EmTe - yang dicetak terbatas sebanyak 500 kopi.

Meski dilengkapi International Standard Book Number (ISBN) dan terdaftar pada Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Binatang Press tak berencana mendistribusikan terbitannya di toko-toko buku besar. "Kami sedang mencari toko-toko buku kecil yang visi dan misinya sama dengan kami.

Nyampah terbitan Binatang Press. Hak cipta atas gambar ada pada penerbit.

Selebihnya kami banyak berpromosi lewat Instagram dan webshop kami," tutur Acung yang juga berprofesi sebagai desainer grafis. Ditanya soal profit, Acung enggan berkomentar banyak. "Saat ini Binatang Press memang belum menghasilkan, tapi balik lagi karena ini adalah passion. Yang jelas kami tidak takut jika harus berhadapan dengan industri besar atau tren online book," pungkasnya.

Selain penerbit-penerbit independen yang bergerilya dari satu toko buku kecil ke toko buku kecil lainnya, komikus-komikus lokal juga banyak melirik media sosial untuk menyebarkan karyanya.

Nurfadli Mursyid, yang dikenal sebagai penggagas komik strip Tahilalats, mengaku memilih media online karena lebih mudah dan cepat berbagi karya. Komik strip Tahilalats yang cenderung lucu, remeh dan kadang absurd ini berhasil mencuri perhatian publik. Jumlah penyuka di laman Facebook-nya mencapai hampir 400 ribu, sementara di Instagram hingga 1,1 juta pengikut.

"Awalnya emang hobi membuat cerita-cerita yang menurut saya lucu untuk teman-teman kuliah. Kemudian saya berpikir kenapa nggak diterbitkan di media sosial saja. Ide biasanya datang pas lagi ngobrol-ngobrol atau melihat tren tertentu," tutur Fadli. Dia mengaku respon publik pada awalnya kurang begitu bagus, namun perlahan tapi pasti Tahilalats bisa terbit secara konsisten setiap hari.

Baik komik dalam bentuk buku maupun strip online memberikan gambaran betapa budaya komik lokal tak surut hanya karena industri besar belum meliriknya.

Staf promosi Elex Media Komputindo, Andhika, mengatakan pihaknya belum berencana menambah porsi terbitan komik Indonesia. "Hingga kini saja selera (pasar) masih ke Jepang," tutur Andhika seperti dikutip metrotvnews.

Baik komik lokal maupun luar tetap memiliki pangsa pasar masing-masing tanpa harus gontok-gontokan, walaupun faktanya manga impor masih akan memenuhi rak buku. "Identitas komik Indonesia masih sangat cair dan bisa diarahkan ke mana saja. Kita masih dalam proses menemukan. Mungkin kita sudah setengah jalan," kata Jati optimis.

Tagged:
indonesia
manga
Vice Blog
Komik Independen Indonesia
Kharisma Jati
PopCon Asia 2016
Industri Komik
Elex Media Komputindo