Tips Kehidupan

Aku Tukang Ngorok yang Sukses Melatih Diri Bangun Pagi Tiap Hari, Ini Tips Dariku

Seriusan lho, aku dulu susah banget bangun pagi. Ternyata, cara-cara yang kulakukan ini akhirnya membantu manusia penyuka rebahan sepertiku.

oleh Jana Luck
13 Mei 2020, 8:50am

Semua foto oleh Yasmin Nickel 

Aku tuh bukannya enggak mau bangun pagi ya, tapi enggak bisa. Padahal pagi adalah waktu yang terbaik untuk produktivitas. Aku kerja paling lancar di pagi hari. Di pagi hari, aku bisa duduk santai sambil menyeruput kopi dengan perasaan bahwa aku memulai hari dengan benar. Masalahnya, ini jarang sekali terjadi karena biasanya aku masih ngorok di ranjang.

Aku sirik dengan orang-orang yang bisa langsung bangun begitu alarm berbunyi. Aku rela melakukan apa saja agar bisa menjadi salah satu dari mereka. Dari sinilah eksperimen pribadiku dimulai: apakah aku bisa melatih tubuh agar bangun tepat waktu?

Begini hasil eksperimenku:

Ingat Prinsip: 'Siapa cepat, dia dapat'

Situs Mind Hack menyarankanku untuk memindahkan alarm keluar dari jangkauan tangan dari ranjang. Masalahnya aku bisa saja berjalan sambil tidur dan mematikannya secara tidak sadar. “Coba biarkan korden terbuka,” saran sebuah situs lain. Dipikir aku belum nyoba beginian apa? Ada lagi saran macam begini: “Bikin janji di pagi hari.” Yaelah, teman-temanku udah pada bosan menunggu di cafe menelponku berkali-kali sebelum aku muncul setengah jam terlambat dengan rambut berantakan dan gigi belum digosok.

Semua saran-saran ini memiliki benang merah yang sama: “Siapa cepat, dia dapat.” Jadi aku menghitung berapa jam dalam hidupku yang sudah aku buang sia-sia. Sejam di kasur sehari berarti 365 jam setahun - alias sembilan minggu terbuang gara-gara aku ketiduran.

Ahli pengembangan diri Steve Pavlina mengklaim tekad yang kuat saja tidak cukup untuk membuat kita bangun; kita harus melatih diri. Menurut Pavlina, aku bisa membiasakan diri untuk tidur di siang bolong sama seperti ketika kita hendak tidur di malah hari.

Die Autorin beim Joggen

Buat mencoba teori ini, di tengah hari, aku menyikat gigi, mengenakan piyama, menutup korden dan menutup mata. Alarmku berdering sepuluh menit kemudian, dan aku mengikuti proses yang kata Pavlina harus dijadikan kebiasaan: begitu alarm berbunyi, aku mematikannya, meregangkan badan dan langsung bangun. Aku mengulangi ini beberapa kali.

Melatih diri untuk melakukan sesuatu yang bahkan anak balita bisa lakukan membuatku merasa bodoh, tapi ya mau bagaimana lagi. Malam esok harinya, aku menyetel alarm untuk berbunyi pada pukul 6.30 pagi, dan keajaiban terjadi: keesokan harinya aku terbangun tepat waktu. Di pagi berikutnya, aku bahkan sempat jogging.

Tapi di hari ketiga aku terbangun tanpa alarm. Aku bertanya ke teman serumah apa yang terjadi dan dia mengatakan saking seringnya aku memencet tombol mematikan alarm, dia rajin masuk ke kamarku dan mematikan alarmnya sekalian. Waduh ternyata membiasakan diri bisa, tapi hanya bertahan dua hari.

Gunakan aplikasi pelacak tidur

Aku bukan satu-satunya orang yang berusaha mengoptimalkan diri. Ada banyak perusahaan yang berusaha mencari uang dari orang-orang sepertiku. Aplikasi pelacak tidur melacak pola tidurmu dan membangunkanmu dalam fase tidur “ringan”, yang memudahkanmu untuk bangun.

Setelah mengunduh app di ponsel, aku menyetel waktu kapan aku ingin dibangunkan. Aku skeptis, dan banyaknya grafik dan angka dalam app malah membuat saya merasa sedang diintai. Aku bukan pembela keras proteksi data digital, tapi ini sepertinya agak kelewat batas.

Eine App, die den Schlaf überwacht

Keesokan paginya, aku terbangun ditemani ringtone lembut aplikasi. Tapi aku tetap gagal keluar dari ranjang. Aplikasi tersebut menunjukan berapa kali aku memencet tombol ‘matikan alarm’ : 13 kali. Duh gagal lagi deh.

Jangan ragu memakai jasa profesional

Profesor Ingo Fietze adalah seorang ahli tidur di rumah sakit Charite di Berlin. Ketika aku menghubunginya dan menceritakan masalahku, dia bertanya berapa umurku, Aku menjawab 26 tahun. "Orang-orang yang berumur antara 20 hingga 30 tahun seharusnya tidur antara delapan dan sembilan jam semalam," ujarnya. "Di luar itu berarti ada gangguan." Waduh dok. Aku malah biasa tidur sepuluh jam.

Profesor Fietze mengatakan bahwa kebiasaan tidur bersifat genetik. Dia melanjutkan: “Kamu bisa mengubah orang yang tidur pagi menjadi tidur malam, atau orang yang bangun siang menjadi bangun pagi, tapi mustahil mengubah orang yang biasa tidur lama menjadi pendek dan sebaliknya.”

Dia menganjurkan aku mengukur jam tidurnya di rumah menggunakan semacam alat, dan menggunakan lampu medis bertenaga 10.000 lux untuk membangunkan diri. “Lampu putih yang terang,” ujarnya. “Efeknya seperti disiram seember air, tapi lebih elegan.”

Alat pengukur kuletakkan di pinggang, sementara sebuah selang oksigen terpasang di dalam hidung untuk mengukur pernapasan. Aku terlihat seperti seorang korban perang yang sedang sekarat. Aku enggak bisa tidur nyenyak malam itu. Aku memang terbangun pagi keesokan harinya, tapi itu gara-gara selangnya gak sengaja terselip keluar dari hidung.

Akhirnya, Lampu Pencerahan Kupakai

Aku meletakkan lampu medis di samping ranjang dan menyalakannya. “Sampe ketemu besok,” ujarku. “Tolong bangunkan aku.”

Keesokan paginya, alarmku berbunyi. Beberapa hari terakhir, aku semakin jarang ketiduran dan bahkan kadang terbangun sebelum alarmnya berdering. Aku enggak tahu persisnya kenapa, tapi mungkin badanku mulai menyadari betapa kerasnya otakku bekerja berusaha mengubah kebiasaan tubuh.

Kaffeezubereitung

Tapi tetap saja aku gagal memaksa diri keluar dari ranjang dan mematikan lampunya. Bangun-bangun langsung disambut lampu terang benderang di depan mata? Ogah ah.

Utopia: sekalian saja tidur selama mungkin

Seorang rekan kerja menganjurkanku untuk berbicara dengan temannya Lisa Steinmetz, seorang peneliti tidur di Freiburg. Aku bertanya ke Steinmetz apabila dia bisa dengan mudah keluar dari ranjang di pagi hari. “Justru, aku bablas tidur setiap hari,” ujarnya. Kalau bisa menggunakan emoji untuk menggambarkan perasaanku mendengar itu, pasti udah aku keluarin deh semua stok emoji terkejut.

“Kami meneliti tidur, jadi semua orang di tempat kerja sadar betapa pentingnya tidur itu,” jelasnya. “Ketika aku bangun di pagi hari dan menyadari aku masih lelah, aku lanjut tidur lagi.”

Aku enggak bisa jujur ke editor bahwa aku melewatkan meeting di pagi hari karena badanku meminta istirahat lebih lama. Tapi, aku bisa pergi ke doktor dan mencari tau apakah kebutuhanku untuk tidur lama adalah sebuah penyakit atau tidak.

Tapi mungkin aku sebetulnya enggak sakit apa-apa dan hanya butuh tidur lebih lama dari kebanyakan orang. Seperti kata profesor Fietze, kita enggak bisa mengubah orang yang terbiasa tidur lama untuk mengurangi waktu tidurnya. Aku tahu aku seorang perfeksionis—mungkin saja kebutuhanku untuk tidur sebetulnya adalah bentuk sabotase diri terhadap keinginan untuk mengoptimisasi diri. “Enggak mau ah,” ujar badanku. Aku berusaha melawan, tapi kemudian menyadari bahwa kebutuhan untuk tidur mengalahkan keinginan untuk optimisasi diri.

Di tingkat yang lebih praktis, aku sadar bahwa apabila aku ingin bangun awal di pagi hari, selalu ada opsi untuk tidur lebih awal malam sebelumnya. Setelah eksperimenku berakhir, aku melakukan itu dan tidak mengurangi kebutuhan tubuhku untuk tidur selama sembilan jam. Ketika alarm berbunyi, aku tidak langsung keluar dari ranjang, tapi sebuah mukjizat terjadi: Aku benar-benar sudah bangun. Waktu menunjukkan pukul 6 pagi, dan aku tidak merasakan dorongan untuk kembali berbaring. Akhirnya berhasil juga.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Jerman