Misi Luar Angkasa

Gimana ya Kalau Astronot Kena Covid-19 di Luar Angkasa? Ternyata NASA Punya Protapnya

NASA bahkan menyiapkan berbagai protap seandainya pandemi jenis apapun menyebar hingga stasiun luar angkasa. Sebab ada mikroba yang bisa bertahan di ruang tanpa gravitasi.
23 April 2020, 7:52am
Astronot Bisa Kena Penyakit Menular di Luar Angkasa Termasuk Covid-19
Astronot Paulo Nespoli sedang tidur di ISS. Sumber foto: ESA 

Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) menjalani perubahan prosedur, seiring pandemi global virus corona menyebar di planet Bumi—tiga anggota kru baru dan beberapa astronot lainnya akan dipulangkan.

Kru yang dipulangkan ini mencakup astronot NASA Jessica Meir dan Andrew Morgan, dan antariksawan Roscosmos, Oleg Skripochka. Ketiganya berada di luar angkasa selama lebih dari setengah tahun. Ketika para penjelajah ruang angkasa ini pertama kali diluncurkan bersama ISS, pandemi Covid-19 belum menyebar luas seperti sekarang. Kini, mereka harus kembali ke Bumi yang sedang berjuang keras melawan virus tersebut.

"Rasanya aneh sekali menyaksikan penyebaran virus corona dari atas sini," ujar Meir dalam wawancara minggu lalu via ISS. "Sepertinya saya akan merasa lebih terisolasi di Bumi daripada di sini."

Biarpun kru ISS terekspos dengan banyak ancaman mematikan di luar angkasa, mereka bisa dibilang sangat aman dari ancaman penyakit menular apapun, paling tidak selama mereka berada di stasiun. Dalam wawancara yang sama, astronot NASA yang baru tiba di ISS, Chris Cassidy mengatakan "hampir nol persen" kemungkinan virus corona terbawa hingga ke ISS.

Semua astronot yang akan diterbangkan ke ISS dikarantina selama dua minggu sebelum peluncuran, dan selama masa pandemi, semua kebijakan semakin diperketat. Semua personel, termasuk staf medis harus ikut karantina, dan beberapa ritual pra-penerbangan telah dihentikan.

Namun, Chris mengingatkan bahwa "semuanya mungkin saja" ketika membicarakan penyakit menular, sekalipun peluangnya kecil, mengingat masih banyak yang kita tidak tahu tentang virus corona dan penyakit sejenis. Untungnya, NASA sudah punya rencana pengamanan, apabila ada astronot yang terkena penyakit menular ketika bertugas di luar angkasa.

Jadi, apa yang akan terjadi andai seorang astronot di ISS positif tertular Covid-19?

Apabila virus corona masih bisa menyebar di ISS, namun semua astronotnya tidak menunjukkan gejala, kita mungkin bahkan tidak akan tahu virusnya ada di sana. Faktanya, apabila seorang anggota kru menunjukkan gejala-gejala Covid-19, tidak ada cara untuk mengonfirmasi secara pasti apakah dia benar-benar mengidap virus tersebut.

"NASA tidak berencana mengirimkan uji coba tes virus corona ke stasiun luar angkasa," ujar Brandi Dean, seorang juru bicara Johnson Space Center NASA di Houston. "NASA memiliki perlengkapan medis yang lengkap untuk menangani berbagai jenis penyakit di stasiun luar angkasa, tapi saat ini kami tidak punya kemampuan untuk melakukan tes uji coba untuk virus menular."

Namun, sejak beberapa dekade lalu, NASA telah mengantisipasi kemungkinan adanya penyebaran penyakit berbahaya di antara astronot. Lembaga antariksa AS itu mengembangkan banyak protokol untuk menghadapi situasi gawat darurat seperti ini. Apabila seorang kru mulai menunjukkan gejala COVID-19, atau infeksi mematikan lainnya, mereka akan mempraktikan apa yang kita semua lakukan sekarang—social distancing.

"Aktivitas bagi anggota kru yang mengalami gejala akan ditiadakan agar mereka bisa beristirahat dan memulihkan diri, dan mereka akan sebisa mungkin dikarantina di ruangan mereka sendiri," ungkap Dean. "Anggota kru lainnya akan menyemprot semua permukaan dengan disinfektan, dan khususnya area berisiko tinggi seperti lubang-lubang kipas. Prinsip yang diterapkan sama dengan di planet bumi."

Apabila situasinya bertambah buruk dan mengancam nyawa, kru akan dievakuasi dari ISS. "Dalam situasi gawat darurat di stasiun luar angkasa, kru bisa segera pulang menggunakan pesawat Soyuz yang membawa mereka ke luar angkasa yang telah didesain untuk mendarat di lokasi khusus agar mereka bisa langsung mendapatkan perawatan medis di Bumi," ujar Dean.

Adakah dampak risiko penularan penyakit dengan perjalanan luar angkasa manusia di masa depan?

Biarpun praktik menjaga kebersihan secara cermat dilakukan semua astronot di ISS, pesawat luar angkasa berawak akan selalu memiliki mikrobiota yang terdapat dalam tubuh manusia.

"Secara teknis, semua tempat yang dihuni manusia tak akan pernah bisa bebas juman, karena kita memiliki lebih banyak mikrobiota di tubuh dibanding sel kita," ujar Stephanie Schierholz, kepala juru bicara pesawat luar angkasa di kantor pusat NASA di Washington DC via email. “Mikrobiota ini sebetulnya memang dibutuhkan dan berguna untuk kesehatan manusia tapi juga berpotensi menjadi patogenetik entah karena daya kekebalan manusia berkurang atau mikrobiotanya berkembang seiring waktu dan menjadi berbahaya."

Ilmuwan telah meneliti mikrobiota selama bertahun-tahun dan menemukan beberapa mikrobiota kebal obat dan sulit diatasi dalam lingkungan gravitasi mikro. Kini, ISS memiliki teknologi sekuensi-DNA di stasiun, sehingga kru dapat mengidentifikasi jenis mikroba secara langsung di sana.

Penelitian ini penting dalam memahami risiko kesehatan dari perjalanan luar angkasa berdurasi lama, terutama perjalanan bolak-balik dalam setahun yang akan dibutuhkan untuk mengirim manusia ke Mars.

"Sejak peluncuran modul pertama Stasiun Luar Angkasa Internasional, NASA telah memonitor komunitas mikrobiotanya," ujar Schierholz. "Mengawasi mikrobiota apa saja yang muncul di ISS dan mempelajari bagaimana mereka beradaptasi di gravitasi mikro akan terus membantu kami melindungi kesehatan astronot."

Sejauh ini, mikrobiota yang ditemukan di ISS belum mengancam kesehatan semua awaknya secara serius, tapi NASA dan partner mereka terus berjaga-jaga. Di satu sisi, mereka harus mencegah patogen mematikan muncul di ISS, tapi di sisi lain, kekebalan tubuh kru juga tidak boleh terdampak oleh situasi di luar angkasa. Topik ini terus diteliti banyak pihak.

"Seberapa besar ancaman yang ditimbulkan sebuah patogen di masa depan bergantung pada beberapa faktor, termasuk lingkungan seperti kebersihan stasiun, pengawasan mikrobiota, dan memiliki kru yang sehat (nutrisi baik, berolahraga, paparan radiasi rendah, udara bersih, dsb)," urai Schierholz.

"Intinya, sistem ketahanan tubuh merupakan salah satu elemen yang menjadi pertimbangan perjalanan luar angkasa berdurasi lama," ujarnya. "Diskusi kayak gini masuk kategori kajian yang rutin diteliti sejak NASA menemukan bahwa ekosistem di dalam pesawat luar angkasa memainkan peran yang besar dalam kehidupan astronot sehari-hari."

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard