The VICE Guide to Right Now

Maskapai Berbagai Negara Terancam Bangkrut Akibat Coronavirus

Centre for Asia Pacific Aviation melaporkan maskapai penerbangan, terutama yang low cost dan tak didukung pemerintah, bakal gulung tikar jika tiap negara tidak cepat bertindak.
19 Maret 2020, 4:36am
Banyak Maskapai Penerbangan Berbagai Negara Terancam Bangkrut Mei 2020 Akibat Coronavirus
Foto oleh Avel Chuklanov / Unsplash

Virus COVID-19 telah menginfeksi 218.631 orang sejauh ini, sehingga berbagai negara memberlakukan isolasi sosial dan larangan bepergian guna memperlambat penyebarannya. Industri penerbangan menjadi salah satu bisnis yang paling terkena dampaknya.

Berdasarkan laporan yang diterbitkan Centre for Asia Pacific Aviation (CAPA), sebagian besar maskapai di dunia bisa bangkrut Mei nanti jika pemerintah tidak turun tangan. “Cadangan dana kian menipis karena pesawat dilarang terbang dan jumlah operasi tidak sampai setengahnya,” CAPA menyatakan pada 16 Maret.

Instansi pemerintah di Amerika Serikat, Eropa dan Asia mengimbau masyarakat untuk tidak bepergian selama krisis kesehatan berlangsung. Mereka menangguhkan visa turis dan menolak kedatangan turis asing di negara masing-masing. Sebagai akibat, banyak maskapai terpaksa menghentikan operasinya.

“Tak sedikit maskapai bangkrut secara teknis karena coronavirus dan adanya larangan bepergian. Ada juga yang secara substansial melanggar perjanjian utang,” lanjut CAPA.

Perusahaan konsultasi penerbangan ini berujar cuma pemerintah yang bisa menghentikan ancamannya. Pemerintah harus bekerja sama, dan tak hanya melindungi perusahaan yang didukung negara. Kapil Kaul, CEO CAPA Asia Selatan, menyarankan untuk mengurangi pajak bahan bakar turbin maskapai. Namun, dia memperingatkan pengurangan biaya bahan bakar belum pasti bisa menebus penurunan permintaan.

Maskapai-maskapai, seperti American Airlines Group Inc., Qantas Airways Ltd. Australia, dan Indigo dari India, mengurangi kapasitas mereka secara tajam. Sementara itu, maskapai SAS AB dari Swedia telah mem-PHK sementara karyawannya. Dalam memo berjudul “The Survival of British Airways”, CEO Alex Cruz menyinggung kemungkinan PHK baik untuk jangka pendek maupun panjang setelah British Airways mengistirahatkan 75 persen pesawat mereka.

Maskapai Inggris Virgin Atlantic memutuskan untuk menangguhkan empat per lima penerbangannya dan meminta staf cuti tanpa gaji selama delapan bulan. Begitu pula dengan maskapai bertarif rendah seperti Ryanair dan EasyJet. Kedua perusahaan ini telah mengistirahatkan sebagian besar pesawatnya.

International Air Transport Association mengakui berkurangnya jumlah penerbangan bisa menurunkan emisi karbon dioksida, tapi juga dapat menyebabkan kerugian sekitar $113 miliar (Rp1,8 quintillion) tahun ini.

Follow Shamani Joshi di Instagram.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE INDIA.

Iklan