Musik

Twitch Jadi Penyelamat Band Agar Tetap Bisa Konser di Tengah Pandemi Corona

Penonton di platform streaming berbayar itu malah lebih banyak lho. band hardcore Code Orange menyiarkan konser kosong mereka di Pittsburgh, AS, ke 13.000 penonton, jauh di atas kapasitas arena konser.
18 Maret 2020, 9:24am
Konser Musik Masih Bisa Dilakukan Musisi Lewat Layanan Streaming Twitch dan YouTube
Code Orange menyiarkan konser tanpa penonton mereka via Twitch di the Roxian Pittsburgh. Foto oleh Justin Boyd 

Kota-kota besar dunia sejak awal bulan ini membatalkan izin keramaian untuk acara apapun, termasuk konser musik. Jelas musisi dan kru panggung termasuk yang kena dampak ekonomi secara langsung gara-gara pandemi COVID-19. Di Indonesia, Amerika Serikat, Inggris, Jepang, sama saja. Sedang tidak ada konser, sampai batas waktu belum ditentukan.

Masalahnya, musisi dan kru butuh makan. Sementara pemasukan terbesar musisi selama 10 tahun terakhir adalah konser. Karena virus corona masih merajalela, untuk sementara banyak musisi mengandalkan penjualan merchandise resmi via online untuk menyambung hidup.

Siapa sangka, berkat anjuran social distancing, kerja dari rumah, ataupun lockdown di berbagai kota dunia, ada satu platform yang kini bisa menjadi andalan musisi untuk tetap bermusik secara aman tanpa membahayakan kesehatan mereka ataupun penonton: Twitch.

Sejujurnya, menyiarkan konser dengan metode streaming tentu bukan barang baru. Twitch jelas tidak lebih canggih dari YouTube, Vimeo, ataupun platform streaming lainnya. Panitia festival musik Coachella sudah biasa menyiarkan penampilan bintang tamu mereka secara live lewat YouTube bahkan sejak 2011.

Namun, hal paling membedakan Twitch dengan platform streaming lain adalah pemasukan yang lebih adil buat musisi. Untuk bisa mengakses Twitch, seseorang harus membayar biaya langganan antara US$4,9 hingga US$ 24,9 (antara Rp77 ribu hingga Rp 388 ribu per bulan) tergantung keleluasaan akses konten yang bisa mereka dapatkan.

Salah satu yang menjajal untuk tetap konser lewat Twitch adalah Code Orange, band hardcore asal Pittsburgh, Amerika Serikat. Mereka menyiarkan penampilan mereka di Roxian Theatre pada 14 Maret lalu yang penontonnya kosong melompong, kepada penggemar via Internet. Code Orange ngotot konser, karena itu seharusnya jadi pesta peluncuran album terbaru mereka UNDERNEATH, tapi terpaksa batal gara-gara COVID-19. Padahal album itu sudah mereka garap konsep promosinya sejak tujuh bulan lalu.

"Ketika kami mendengar izin konser dibatalkan, kami sempat down terus mikir 'anjing, terus kita harus pasrah aja dong'," kata Jami Morgan, vokalis Code Orange. "Tapi kami kepikiran, ya udah anjing, disiarin aja di Internet, kabarin penggemar. Sekalian aja acara yang batal tadi kita ubah jadi acara buat gila-gilaan bareng dari rumah."



Code Orange, dibantu label mereka Roadrunner Records, menghubungi Twitch untuk membantu menyiarkan konser tanpa penonton itu supaya tetap terkesan hidup. Hasilnya keren sih. Morgan berteriak kepada penonton imajiner, tapi berkat kombinasi animasi komputer, tata cahaya, dan sound system mumpuni, penonton di rumah bisa tetap merasakan energi konser. Kalian bisa melihat konser Code Orange di tautan ini.

Saat rekaman, sebenarnya cuma ada personel band, kru, dan keluarga mereka nonton dari balkon. Memang, tetap ada yang hilang. Energi bersentuhan dengan orang lain di moshpit arena, atau bau keringat penonton sebelahmu, itu yang enggak terasa sama sekali. Dalam video konser itu, juga terlihat banyak sekali kursi kosong. Morgan sesekali bercanda soal itu. "Enggak usah rewel, kalian bakal sering lihat bangku kosong sepanjang konser ini."

Siapa sangka, konser tersebut ditonton banyak orang. Lebih dari 13 ribu orang menonton konser Code Orange, dari data Roadrunner. Padahal kapasitas Roxian Theatre maksimal cuma 1.470 penonton.

Code Orange tentu bukan satu-satunya yang terpikir memindah konser mereka ke platform streaming berbayar. Strategi itu juga dilakukan musisi Dan Mangan; rapper Inggris Yungblud bikin acara masak-masak dan talkshow diiringi live beberapa lagu; kemudian bank punk Dropkick Murphys berencana menyiarkan konser mereka tanpa penonton di Boston via internet.

Zola Jesus pun juga berencana menempuh jalan serupa. Tapi dia tidak pakai Twitch, melainkan lewat situs baru bernama Koir. Ada juga yang berniat memakai TikTok dan Facebook, seperti musisi Inggris L Divine, untuk menyiarkan penampilan panggungnya.

Bagaimanapun platform hanyalah sarana. Morgan, dari Code Orange, mengaku tetap berhasil memperoleh pendapatan lumayan dari konser via Twitch karena penonton bersedia membayar lebih. Dia menyadari bahwa yang membayar lebih itu adalah para penggemar.

"Mereka juga memborong merchandise resmi dari band via Internet, jadi kami sangat berterima kasih," ujarnya. Artinya, dukungan fanbase dan kualitas karya akan menentukan berhasil tidaknya streaming dimonetisasi secara layak untuk keberlanjutan karir musisi.

Saat ini Code Orange beruntung konser masih bisa dilakukan di panggung yang layak, sekalipun tidak ada penonton. Morgan bilang, bila pandemi Corona justru memburuk di masa mendatang, bisa saja semua aktivitas ruang terbuka dilarang. Alhasil musisi makin harus kreatif menyiarkan konser dari rumah atau studio saja. Dia berharap skenario terburuk itu tak akan terjadi dan semua orang, musisi ataupun para penggemar, bisa terus bersenang-senang.

"Saya meyakini semua orang akan punya daya tahan menghadapi situasi buruk seperti sekarang, sembari tetap menghibur diri," kata Morgan. "Musisi memang akan terdampak secara finansial untuk beberapa saat, tapi selama punya penggemar, kami akan baik-baik saja."

Follow Gregory di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Kanada