Kuliner

Dear Selebgram Kuliner, Ada Saran dari Pakar biar Review Kalian Tak Membosankan

Sebagian netizen mulai eneg sama ulasan makanan yang pakai komen template: 'Seenak Itu, Guys!' atau 'Pokoknya kalian wajib coba'. Berikut contoh strategi biar review kuliner lebih variatif.
12 Juni 2020, 10:00am
Review klise selebgram kuliner Indonesia dikritik netizen
Ilustrasi mengambil foto makanan pakai kamera ponsel via Pixabay

Ulasan kuliner adalah salah satu konten paling laris di internet Indonesia, tapi sebagian netizen mulai tidak bahagia dengan cara pengulas di Instagram mewartakan kuliner yang mereka lahap. Cara promosi yang dipersoalkan biasanya terlalu textbook: melulu memuji sampai harus mengeluarkan erangan "Emmmm, erghhh", lalu diakhiri dengan nyuruh buruan pesan. Promosi kayak gitu rupanya tak lagi memuaskan penonton.

Protes paling keras akhirnya diwakili lewat meme yang muncul baru-baru ini, yang disambut gembira dengan deretan reply kocak.

Sindiran keras buat selebgram pengulas makanan enggak mentok di meme. Tak kalah menusuk, beberapa hari lalu, kanal YouTube May I See juga membuat konten parodi satir tentang tata cara mereview makanan ala selebgram. Videonya on point banget.

Kami jadi penasaran, kenapa sih selebgram makanan di Indonesia begitu miskin kosakata untuk menjelaskan rasa makanan? Untuk menjawabnya, kami coba menghubungi pengulas makanan Dadad Sesa, yang enam tahun belakangan mengelola akun kuliner Javafoodie dengan 189 ribu pengikut di Instagram. Apa pandangan pengulas makanan beneran melihat cara absurd selebgram promosiin makanan?

Menurut Dadad, keresahan netizen wajar-wajar saja. "Mungkin dari teman-teman selebgram niatnya ya supaya pada aware dengan produk yang dipromosikan saja. Namun, kurang kreatif juga [dalam] menyampaikan kata-kata. Kurang elaboratif, mungkin karena enggak begitu paham soal produk. Mindset_-nya kan promosiin aja, biar orang-orang _aware," kata Dadad kepada VICE.

Selama bekerja mengulas makanan, Dadad mengaku mengacu cara Almarhum Bondan Winarno. Misalnya, Dadad meniru Bondan yang membagi level kenikmatan makanan lewat kata-kata pilihan. Ucapan "maknyus" khas Bondan yang legendaris, misalnya, dipakai untuk menandai satu makanan emang enak banget.

Dari Bondan, Dadad juga belajar bahwa dalam mengulas, penonton membutuhkan penjelasan tekstur dan rasa lewat bahasa sederhana yang mudah diterima. Salah satu caranya dengan memakai masakan lain yang sudah familier sebagai pembanding. Pengetahuan tentang produk dari klien mutlak diperlukan agar kalimatnya variatif sehingga enggak melulu bilang “Enak parah banget!”.

"Enggak berbelit-belit atau terlalu sulit, nanti malah banyak yang enggak ngerti. Kadang terlalu sotoy juga bisa jadi blunder. Saya pernah lihat orang review tapi enggak paham product knowledge malah jadi blunder. Niatnya nyebutin bahan-bahannya apa aja, malah ternyata dibantah sama chef menu tersebut," ujar Dadad.

Kami juga ngobrol sama jurnalis Nuran Wibisono yang rutin menulis ulasan makanan lewat pendekatan personal beberapa tahun terakhir. Menurut Nuran, penggambaran tekstur dan rasa makanan idealnya memang diberikan para pengulas.

Jika mau lebih lengkap, pengulas juga bisa memberi tambahan pengetahuan soal makanan itu, seperti sejarah si makanan atau bahan makannya. Untuk poin terakhir ini, ia mencontohkan mendiang Anthony Bourdain, koki dan pengulas makanan asal Amerika Serikat yang kerap berbagi pengetahuan tentang industri makanan saat membuat ulasan kuliner.

"Misal, jika seseorang bahas tentang tumis genjer, akan menarik jika ia bisa memberikan konteks kenapa genjer jadi makanan populer era 1940-an dan bagaimana ia bisa dijadikan lagu rakyat yang sangat populer. Ini pengandaian saja," kata Nuran kepada VICE.

Perkara apakah influencer punya tanggung jawab moral untuk mempelajari informasi tentang makanan yang ia promosikan, Nuran berpendapat lebih baik penonton saja yang lebih selektif memilih orang yang mau didengar ketimbang mengharap semua influencer makanan belajar ilmu tata boga.

"Mending titik pijaknya adalah belajar selektif memilih siapa yang mau didengar. Kan repot juga kalau mengharapkan semua peng- endorse merasa punya tanggung jawab moral untuk belajar dan ‘mengedukasi’ pemirsanya. Karena, saya yakin enggak semua peng-endorse mau repot-repot belajar soal itu," kata Nuran.

Satu masukan dari Nuran untuk pemilik produk makanan yang butuh pengulas: kalau memang produknya bagus, bisa dong lebih selektif memilih peng-endorse yang punya otoritas kuat. Efeknya makanan yang diulas akan mendapat validasi maksimal.

Jadi, gimana nih para selebgram makanan? Masukan para senior ini keren banget sampai enggak paham lagi, kan? Emang kerennya sekeren itu sih sampai mo nangessssss!