Iklan
Bertanya Pada Pakar

Seburuk Apa Sih Kualitas Udara di Jakarta?

Jakarta selalu dijuluki kota penuh polusi. Seberapa mematikan sebetulnya udara yang dihirup tiap hari oleh 12,7 juta penduduknya? Kami memperoleh jawabannya.

oleh Adi Renaldi
07 Februari 2017, 10:20am

Foto oleh Daniella Syakhirina

Jakarta sejak lama dijuluki kota penuh polusi. Masalahnya, mengukur kualitas udara secara akurat di Ibu Kota Indonesia ini ternyata tidak mudah. Data yang beredar sekarang, baik dari pemerintah maupun lembaga pemantau swadaya, masih kontradiktif. Pemerintah DKI Jakarta sebetulnya sudah menempatkan alat yang bisa mengukur polusi dan baku mutu udara di beberapa lokasi strategis. Namun alat tersebut hanya mampu memonitor partikel ukuran besar, yang dalam istilah teknis masuk kategori PM10. Kedutaan Besar Amerika Serikat memasang alat serupa, tapi bisa mengukur polusi dalam satuan lebih kecil. Polutan ukuran kecil ini yang lebih berbahaya, yang masuk ukuran PM2.5. Sayangnya, piranti milik Kedubes AS itu cuma dipasang di Jakarta Selatan. Padahal, banyak ilmuwan sepakat kadar polusi udara Ibu Kota paling buruk ada di sisi utara dan timur Jakarta.

Masalah polusi ini, karena tak pernah dituntaskan selama bertahun-tahun, diyakini telah mencapai tahap berbahaya. Polusi udara di Jakarta terbukti berdampak buruk terhadap kualitas hidup dan kesehatan masyarakat. Dari survei yang dilakukan Universitas Indonesia, polusi menyebabkan masalah saluran pernafasan bagi hampir 60 persen warga Jakarta. Polusi udara juga dapat menyebabkan jantung koroner dan pneumonia.

Lantas bagaimana menentukan seberapa buruk kualitas udara di Jakarta, jika patokannya berbeda-beda?

Karenanya saya mendatangi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi). Lembaga pemerhati lingkungan itu merilis data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Jakarta. Walhi menyatakan baku mutu udara Jakarta pernah mencapai 200, alias sangat tidak sehat. Polusi ini sebagian besar berasal dari kendaraan bermotor. Tidak mengejutkan, mengingat Jakarta bagaikan lahan parkir raksasa yang disesaki mobil, sepeda motor, sampai bus serta truk. Pemprov DKI juga mengakui 70 persen polusi udara kategori PM10 terbesar bersumber dari mobil.

Lantas apakah ada cara mengurangi dampak buruk polusi udara ini? VICE Indonesia menemui Dwi Sawung dari Walhi, untuk bertanya kenapa kualitas udara Jakarta masih jauh dari kualitas baik.

VICE Indonesia: Bagaimana kualitas udara kota Jakarta pada 2016?
Dwi Sawung: Sebenarnya tahun lalu tidak seburuk 2015. Ini dikarenakan pengaruh iklim juga. Tahun lalu musim kemaraunya agak basah. Jadi agak terbantu. Tapi bukan berarti ini bagus. Sebenarnya kualitas udaranya masih buruk.

Apa yang menyebabkan udara di Jakarta ini begitu buruk?
Sumber pencemaran di Jakarta masih banyak sekali. Terutama kendaraan. Untungnya saja TransJakarta sudah menggunakan standar emisi Euro 5, jadi agak terbantu lah. Polusi di Jakarta sangat kelihatan pada waktu berangkat dan pulang kerja, terutama karena penggunaan kendaraan pribadi.

Tahun 2016 dikatakan tidak begitu buruk, lantas bagaimana yang paling buruk?
Pada 2015 Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) sempat mencapai 200. Melebihi ambang batas. Itu sudah masuk kategori tidak sehat. Harusnya tidak boleh ada kegiatan di luar. Waktu itu kemarau kering. Pernah selama lima hari tidak hujan. Memang tidak sampai separah Cina, di sana polutan terjebak karena udara dingin. Di Indonesia masih terbantu oleh angin.

Berdasarkan indeks tersebut daerah mana yang polusinya paling parah?
ISPU itu berbeda-beda, tergantung daerah dan iklim. Misal saja di daerah tertentu sedang hujan sementara di daerah lain kering, tingkat polusi daerah yang hujan bisa lebih rendah. Jakarta Utara itu paling buruk kualitas udaranya baik karena industri dan transportasi. Penggunaan batu bara untuk industri masih banyak ditemukan di wilayah Jakarta Utara dan Timur. Padahal pemerintah sudah melarang.

Apa langkah yang mendesak dilakukan agar kualitas udara Jakarta membaik?
Yang bisa dilakukan cuma fokus pada kendaraan dan ruang terbuka. Tes kendaraan itu harus rutin dilakukan. Kemudian penggantian BBM dengan oktan tinggi dan tanpa timbal wajib segera direalisasikan. BBM premium kan katanya mau dilarang di Jakarta tapi masih diperjualbelikan. Saat ini seharusnya standar emisi sudah Euro 4 dan 5, tapi di Indonesia masih Euro 2. Tahun ini pemerintah sudah menjanjikan untuk mengaplikasikan Euro 4 dan 5. Kita lihat saja nanti. Ini tugas Pertamina dan Kementerian Perhubungan.

Untuk ruang terbuka bagaimana?
Ruang terbuka hijau (RTH) di Jakarta itu masih kurang banget. Seharusnya RTH ideal itu 30 persen dari total luas kota. Contoh lain, Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di Jakarta itu kebanyakan di beton tapi tidak ada tanaman hijau rindang.

Jadi seberapa buruk kualitas udara Jakarta? Pemerintah menggunakan parameter PM10 pada ISPU yang notabene untuk mengukur polutan besar yang tidak termasuk polusi dari kendaraan bermotor.
Kita bisa melihat air quality index. Pada siang hari rata-rata kualitas udara jakarta masuk level moderate jika menggunakan parameter PM2.5, sekitar level 60 lah. Level 51-100 itu masih moderate. Pada jam-jam normal sebenarnya tidak terlalu berbahaya bagi kesehatan, cuma bagi orang yang punya masalah pernafasan hal ini bisa berisiko memperparah. Kualitas udara Jakarta memang berubah-ubah, tergantung volume kendaraan. Katanya tahun ini pemerintah bakal menggunakan parameter PM2.5 untuk ISPU.